sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

China dituduh rampas organ tubuh kelompok minoritas

China Tribunal mengatakan, pemerintah Tiongkok mengambil hati, ginjal, paru-paru dan kulit dari sejumlah kelompok termasuk muslim Uighur.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 26 Sep 2019 14:24 WIB
China dituduh rampas organ tubuh kelompok minoritas

Tiongkok, pada Selasa (24), kembali dituduh mengambil organ tubuh dari kelompok-kelompok teraniaya di negara itu.

Dalam pertemuan dengan Dewan HAM PBB, China Tribunal mengatakan bahwa pemerintah Tiongkok mengambil hati, ginjal, paru-paru dan kulit dari sejumlah kelompok termasuk muslim Uighur dan anggota Falun Gong.

Adapun China Tribunal, sebuah organisasi nirlaba Australia, menggambarkan diri mereka sebagai sekelompok pengacara, akademisi dan tenaga medis profesional yang didukung oleh Koalisi Internasional untuk mengakhiri penyalahgunaan transplantasi di China.

Hamid Sabi dari China Tribunal menuturkan pihaknya mendapati fakta bahwa Tiongkok melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan mengambil organ tubuh dari kelompok minoritas seperti Uighur dan anggota Falun Gong, yang dinyatakan terlarang oleh pemerintah. 

"Pengambilan organ secara paksa dari tahanan, termasuk minoritas Falun Gong dan Uighur, telah dilakukan selama bertahun-tahun di seluruh Tiongkok dalam skala yang signifikan," kata Sabi.

Sabi menyajikan laporan akhir organisasinya, yang dirilis pada Juni, sebagai bukti. Laporan itu menyebutkan bahwa sejumlah tahanan yang sangat besar dibunuh atas perintah Beijing.

"Mereka dibelek hidup-hidup ... ginjal, hati, jantung, paru-paru, kornea dan kulit mereka diambil dan dijadikan komoditas untuk dijual," sebut laporan itu.

Menurut laporan yang sama, bagian-bagian tubuh tersebut kemudian digunakan untuk keperluan medis. Mereka mengutip soal waktu tunggu yang sangat singkat untuk transplantasi organ di rumah sakit Tiongkok sebagai bukti dari praktik itu.

Sponsored

Laporan tersebut dipimpin oleh Sir Geoffrey Nice, seorang pengacara Inggris yang merupakan jaksa penuntut utama dalam persidangan Slobodan Milosevic, mantan Presiden Yugoslavia.

Sabi mengatakan kepada Dewan HAM PBB bahwa upaya China melibatkan ratusan ribu korban, menggambarkannya sebagai salah satu kekejaman massal terburuk abad ini. Dia tidak merinci lebih jauh.

"Transplantasi organ untuk menyelamatkan hidup adalah kemenangan ilmiah dan sosial, tetapi membunuh donor adalah tindakan kriminal."

Reuters melaporkan bahwa China bersikeras sejak 2015 mereka telah berhenti menggunakan organ tubuh dari tahanan yang dieksekusi.

Pemerintah Tiongkok dilaporkan belum merespons kesaksian Sabi.

Sabi menyimpulkan dengan mengatakan bahwa adalah tugas badan-badan internasional seperti PBB untuk menyelidiki temuan-temuan mereka, yang tidak hanya terkait dengan kemungkinan tuduhan genosida, tetapi juga dalam kaitannya dengan kejahatan terhadap kemanusiaan. (Business Insider dan Reuters)