logo alinea.id logo alinea.id

Di tengah konflik dengan Barat, Venezuela kedatangan militer Rusia

Hubungan Rusia-Venezuela menguat dalam beberapa bulan terakhir, di tengah memburuknya hubungan AS-Venezuela.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 25 Mar 2019 12:27 WIB
Di tengah konflik dengan Barat, Venezuela kedatangan militer Rusia

Dua pesawat militer Rusia mendarat di bandara utama Venezuela pada Sabtu (23/3), dilaporkan membawa puluhan tentara dan sejumlah besar peralatan.

"Pesawat-pesawat itu dikirim untuk memenuhi kontrak militer yang bersifat teknis," lapor kantor berita Rusia, Sputnik.

Javier Mayorca, seorang jurnalis Venezuela, menulis di Twitter bahwa dia melihat sekitar 100 tentara dan 35 ton peralatan diturunkan dari pesawat.

Itu terjadi tiga bulan setelah kedua negara mengadakan latihan militer bersama.

Rusia, telah lama menjadi sekutu Venezuela. Mereka meminjamkan miliaran dolar dan mendukung industri perminyakan dan militer negara pimpinan Nicolas Maduro tersebut.

Negeri Beruang Merah juga secara vokal menentang langkah-langkah AS untuk menjatuhkan sanksi kepada rezim Maduro.

Mayorca menulis di Twitter bahwa sebuah pesawat kargo Rusia, Antonov-124, dan sebuah jet kecil mendarat di dekat Caracas pada Sabtu. Menurutnya, Jenderal Rusia bernama Vasily Tonkoshkurov memimpin pasukan dari salah satu pesawat.

Sementara itu, sebuah pesawat militer dengan bendera Rusia di badannya terlihat di landasan bandara pada Minggu (24/3). Gambar yang beredar di media sosial menunjukkan sejumlah pasukan Rusia berkumpul di bandara.

Sponsored

Hubungan antara Rusia dan Venezuela menguat dalam beberapa bulan terakhir, di tengah memburuknya hubungan antara AS dan Venezuela. Pada Desember 2018, Rusia mengirim dua jet AU-nya ke Venezuela sebagai bagian dari latihan militer.

Dalam beberapa tahun terakhir, Moskow juga telah memperluas kerja samanya dengan Caracas, termasuk dengan meningkatkan penjualan senjata dan memperpanjang kredit.

Rusia mengecam kekuatan asing lainnya karena mendukung pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido, yang telah mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara pada Januari 2019.

Presiden Maduro menuding Guaido berupaya melancarkan kudeta terhadapnya dengan bantuan imperialis AS.

Kremlin menggemakan tuduhan serupa, mengatakan bahwa Guaido melakukan upaya ilegal untuk merebut kekuasaan yang didukung AS dan berjanji untuk melakukan semua yang diperlukan demi mendukung Maduro.

Maduro naik ke tampuk kekuasaan lewat pilpres pada April 2013 setelah kematian mentornya, Hugo Chavez. Dia terpilih untuk masa jabatan kedua pada Mei 2018 melalui pemilihan yang telah banyak dikritik oleh pengamat internasional.

Venezuela telah mengalami keruntuhan ekonomi, di mana mereka menderita kekurangan pangan yang parah dan inflasi mencapai setidaknya 800.000% tahun lalu.

Guaido sendiri menuding Maduro tidak layak memimpin, sementara dirinya memenangkan banyak dukungan dari kekuatan asing.

Kini, pemerintahan Maduro menjadi semakin terisolasi karena semakin banyak negara menyalahkan mereka atas krisis ekonomi yang telah mendorong lebih dari tiga juta orang meninggalkan Venezuela.

Sumber : BBC