sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gelombang kedua Covid-19, angka bunuh diri Jepang naik

Angka bunuh diri di Jepang pada periode Juli-Oktober 2020 naik 16%.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 18 Jan 2021 20:02 WIB
Gelombang kedua Covid-19, angka bunuh diri Jepang naik
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.322.866
Dirawat 158.408
Meninggal 35.786
Sembuh 1.128.672

Sebuah survei mengungkapkan bahwa angka bunuh diri di Jepang telah meningkat tajam di tengah gelombang kedua pandemik Covid-19, terutama di kalangan wanita dan anak-anak. Hal ini bertolak belakang dengan penurunan angka bunuh diri pada gelombang pertama Covid-19 di negara tersebut.

Angka bunuh diri pada periode Juli-Oktober 2020 naik 16% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan pada Februari-Juni 2020 tercatat 14%.

Survei tersebut dipublikasikan melalui studi gabungan dari Hong Kong University dan Tokyo Metropolitan Institute of Gerontology.

"Tidak seperti keadaan ekonomi normal, pandemik ini secara tidak proporsional memengaruhi kesehatan psikologis anak-anak, remaja, dan wanita (terutama ibu rumah tangga)," tulis peneliti dalam studi yang diterbitkan pekan lalu di jurnal Nature Human Behavior.

Mengutip The Guardian pada Minggu (17/1), penurunan awal angka bunuh diri pada gelombang pertama dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti subsidi pemerintah, berkurangnya jam kerja dan penutupan sekolah. Namun, belakangan justru berbalik, dengan tingkat bunuh diri meningkat 37% untuk wanita, sekitar lima kali lipat peningkatan dibanding pria.

Pandemik yang berkepanjangan berdampak buruk terhadap industri di mana wanita mendominasi. Covid-19  juga telah meningkatkan beban bagi ibu yang bekerja, sementara kekerasan dalam rumah tangga meningkat.

Pun berdasarkan kementerian kesehatan Jepang, dari November 2016 hingga Oktober 2020, mencatat tingkat bunuh diri anak naik 49% pada gelombang kedua Covid-19 di Jepang.

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga bulan ini telah memberlakukan keadaan darurat Covid-19 bagi Tokyo dan tiga prefektur sekitarnya dalam upaya membendung lonjakan kasus infeksi. Sejak itu, status keadaan darurat telah diperluas untuk mencakup tujuh prefektur lainnya, termasuk Osaka dan Kyoto.

Sponsored

Menteri Reformasi Taro Kono pekan lalu mengatakan, meskipun pemerintah akan mempertimbangkan untuk memperpanjang keadaan darurat, hal itu tidak akan mematikan ekonomi nasional.

"Orang-orang khawatir dengan Covid-19. Tapi banyak orang juga bunuh diri karena kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan tidak bisa melihat harapan," katanya.

"Pemerintah perlu mencapai keseimbangan antara mengelola Covid-19 dan mengelola ekonomi," imbuhnya.

Berita Lainnya