sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jepang perpanjang status keadaan darurat hingga akhir Mei

Langkah tersebut diambil demi menurunkan laju infeksi dan meredakan ketegangan bagi rumah sakit di dalam negeri.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 07 Mei 2021 15:14 WIB
Jepang perpanjang status keadaan darurat hingga akhir Mei

Pemerintah Jepang pada Jumat (7/5) berencana untuk memperluas jangkauan status keadaan darurat Covid-19 di luar Tokyo dan wilayah Osaka, serta memperpanjangnya hingga 31 Mei.

Langkah tersebut diambil demi menurunkan laju infeksi dan meredakan ketegangan di rumah sakit.

Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura mengatakan dalam pertemuan tentang kebijakan dasar pemerintah dalam mengatasi pandemik, bahwa Prefektur Aichi dan Fukuoka akan ditambahkan ke daerah-daerah yang berada di bawah keadaan darurat mulai pekan depan.

Hal itu memungkinkan pihak berwenang mengambil tindakan anti-Covid yang lebih ketat dalam upaya untuk mengekang peningkatan jumlah infeksi di sana. 

"Kami merasakan krisis yang kuat," kata Nishimura. "Pemerintah akan secara menyeluruh mengekang infeksi dan memastikan jumlah orang yang baru terinfeksi menurun sehingga rakyat akan merasa aman," kata dia lagi.

Perpanjangan dan perluasan keadaan darurat ketiga Jepang selama pandemik akan secara resmi disetujui pada pertemuan satuan tugas pada Jumat (7/5) sore waktu setempat, setelah mendapatkan persetujuan dari para ahli di bidang penyakit menular dan bidang lainnya. 

Perdana Menteri Yoshihide Suga kemudian dijadwalkan mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan keputusan pemerintah kepada rakyat Jepang.

Pembatasan sosial lainnya, seperti penutupan tempat makan yang menyajikan minuman beralkohol yang telah dijadwalkan berakhir pekan depan, akan terus berlanjut.

Sponsored

Di sisi lain, pemerintah dilaporkan sedang berencana melonggarkan beberapa langkah pembatasan sosial, termasuk membuka kembali beberapa pusat perbelanjaan demi mengurangi kerusakan pada ekonomi nasional Jepang.

Keadaan darurat telah diberlakukan di Tokyo, yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas dalam waktu kurang dari tiga bulan. 

Selain itu, keadaan darurat juga berlaku di Osaka, Kyoto, dan Hyogo sejak 25 April, dengan langkah-langkah yang ditargetkan bertujuan untuk membatasi penyebaran Covid-19 selama liburan Golden Week yang berlangsung hingga Rabu (12/5).

Restoran dan bar akan terus dilarang menyajikan alkohol atau menawarkan layanan karaoke, serta harus tutup sebelum jam 8 malam. Bisnis yang tidak patuh terhadap pembatasan tercanam didenda hingga 300.000 yen (US$2.750). 

Tempat-tempat kerja juga terus didorong meminta karyawan mereka bekerja dari rumah.

Namun, di bawah rencana pembatasan baru, fasilitas komersial besar seperti department store akan diizinkan untuk dibuka kembali dengan jam kerja yang lebih singkat, sementara larangan penonton di acara besar seperti pertandingan olahraga akan diganti dengan 5.000 orang atau 50% dari kapasitas tempat tersebut.

Selain itu, pemerintah berencana untuk mengamankan perangkat pengujian antigen Covid-19 pada pertengahan Mei untuk melakukan hingga delapan juta tes dan mendistribusikannya ke fasilitas medis dan perawatan lansia.

Pemerintah juga akan memperkuat pembatasan pada warga negara Jepang dan penduduk asing yang datang dari India, di mana varian baru Covid-19 yang lebih menular telah berkecamuk.

PM Suga menekankan bahwa keadaan darurat, yang ketiga sejak dimulainya pandemik, telah berhasil mengurangi jumlah orang yang keluar dari rumah tanpa kepentingan mendesak.

Namun, pakar dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang pada Kamis (6/5) memperingatkan bahwa infeksi masih terus meningkat secara.

Kemenkes Jepang pada Jumat menyatakan bahwa mereka tengah merawat 1.131 pasien Covid-19 dengan gejala parah, mencapai titik tertinggi sepanjang berlangsungnya pandemik. Hal ini memicu kekhawatiran akan ketegangan lebih lanjut pada sistem perawatan kesehatan.

Jepang mencatat 4.375 infeksi baru pada Kamis.

Sementara itu, peluncuran program vaksinasi Jepang tertinggal dari negara lain, termasuk Israel, Inggris, dan Amerika Serikat. Ketidakpuasan publik terhadap tanggapan Covid-19 pemerintah dinilai dapat menambah tekanan pada PM Suga menjelang pemilu akhir tahun ini.

Berita Lainnya