sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Keberadaan es krim 1 dolar Singapura di Orchard terancam

Menikmati es krim 1 dolar Singapura seolah merupakan hal wajib saat berkunjung ke Negeri Singa.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 16 Okt 2019 18:08 WIB
Keberadaan es krim 1 dolar Singapura di Orchard terancam

Gerobak es krim milik Chieng Puay Chui telah menjadi bagian dari pemandangan umum di sepanjang Orchard Road, Singapura, selama sekitar tiga dekade terakhir. Pria berusia 71 tahun yang lebih dikenal sebagai Paman Chieng itu telah menjaja es krim di jalanan sejak 1965.

Sekitar 30 tahun lalu, dia memutuskan untuk menjual es krim di sepanjang Orchard Road di luar gedung tua, Tangs. Empat tahun setelahnya, dia pindah dan berjualan di depan Ngee Ann City hingga kini.

Namun, gerobak es krim milik Chieng dan enam lainnya di sepanjang Orchard Road terancam lenyap setelah linsensi mereka berakhir. 

Badan Makanan Singapura (SFA) menyatakan bahwa pedagang kaki lima seperti Chieng memegang lisensi pribadi yang tidak dapat dipindahtangankan. Mereka tidak dapat memperpanjang lisensi itu kepada anggota keluarga atau rekan yang ingin mengambil alih usaha.

"Sayang sekali jika tidak ada lagi paman-paman yang berjualan es krim, terutama karena ini adalah es krim tradisional Singapura," kata Chieng. "Saya tidak tahu apakah akan ada tindakan untuk memastikan bahwa pedagang es krim tetap dapat berjualan di Orchard Road."

SFA menyebut, Chieng adalah satu di antara 13 pedagang kaki lima yang diizinkan untuk menjual es krim di tanah milik negara. Tujuh di antaranya memilih beroperasi di sepanjang Orchard Road.

Chieng mengatakan bahwa turis asal Indonesia, China, Thailand dan Filipina telah mendengar popularitas gerobak es krimnya. Dia menyebut, banyak dari mereka mengunjungi Orchard Road hanya untuk menemuinya.

Foto-foto tokoh yang menyantap es krim Chieng terpampang di gerobaknya. Pada awal September, mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra mengunjunginya.

Sponsored

Putranya, Alvin Chieng, sering bantu-bantu menjual es krim. Dia bahkan membantu ayahnya membuat laman Facebook sekitar dua tahun lalu, untuk menjangkau audiens yang lebih muda.

"Ayah sudah semakin tua dan tidak bisa menjual es krim sendiri lagi. Es krim kami adalah es krim tradisional Singapura dan banyak wisatawan datang ke Orchard Road hanya untuk mencicipinya. Saya akan sangat sedih jika ini hilang," kata Alvin.

Dalam jawaban tertulis untuk pertanyaan parlemen pada 2016, Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air Singapura Masagos Zulkifli mengatakan bahwa pedagang kaki lima dilisensikan pada 1994.

Lisensi itu merupakan upaya pemerintah untuk mengendalikan jumlah pedagang kaki lima di Singapura. Setelah itu, tidak ada lagi lisensi yang dikeluarkan.

Masagos menjelaskan, skema lisensi diterapkan kembali pada awal 2000-an untuk sementara membantu mereka yang sedang menghadapi kesulitan keuangan.

SFA tidak menanggapi pertanyaan lebih lanjut terkait jumlah permintaan lisensi gerobak es krim di Orchard Road yang telah mereka terima sejauh ini, serta berapa yang disetujui dan apakah ada rencana untuk terus membolehkan penjual es krim berdagang di sepanjang jalanan pusat perbelanjaan itu.

Seluruh penjaja es krim di Orchard Road memegang lisensi untuk berjualan di tempat-tempat umum di mana pun di Singapura.

Berbeda dengan Chieng dan tujuh penjual es krim lainnya di Orchard Road, penjual es krim jalanan yang relatif lebih baru memegang lisensi yang hanya memungkinkan mereka untuk berdagang di sekitar wilayah tempat mereka tinggal. Itulah sebabnya ada begitu sedikit penjaja es krim di Orchard Road.

Digemari turis

Tidak semua penjaja es krim sedih menghadapi kemungkinan mereka tidak akan berjualan lagi. Salah satunya merupakan Tan Ah Hock, yang telah berjualan sejak 1967.

"Saya cukup lelah, tetapi saya masih harus terus bekerja bahkan jika saya lelah," tutur dia, menambahkan bahwa dirinya berencana untuk pensiun dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Dia mengatakan bahwa sekitar 75% dari pelanggannya adalah turis.

Ketika ditanya tentang bisnis es krim jalanan yang sedang sekarat, pria 75 tahun itu berkata, "Saya tidak terlalu sedih, itu memang kenyataannya."

Sekitar 20 tahun lalu, ada lebih dari 30 gerobak es krim di sepanjang Orchard Road, banyak dari mereka berkumpul di Ion Orchard.

Chan Yong Leng, yang mulai menjual es krim di Orchard Road pada 2000-an, menilai bahwa dagangannya akan lenyap dalam beberapa tahun ke depan.

"Teknologi mengambil alih dan ada banyak toko-toko es krim di dalam mal ber-AC," tambah dia. "Dulu ada banyak gerobak di sini dan persaingannya ketat. Kini hanya ada tujuh di sepanjang jalan."

Chan menjelaskan bahwa ketujuh penjual es krim itu saling kenal dan memiliki tempat masing-masing untuk berjualan di sepanjang Orchard Road.

"Kami tidak akan berjualan di tempat orang lain," jelas dia.

Sejumlah turis dan penduduk setempat mengatakan mereka akan merindukan gerobak es krim jalanan. Grace Yohanna, turis asal Indonesia, mengatakan bahwa penjaja es krim Singapura di sepanjang Orchard Road menjadi destinasi wajib wisatawan asal Indonesia.

"Akan aneh jika tidak melihat orang memegang es krim saat berjalan menyusuri Orchard Road," ujar dia.

Mixie Ky, turis asal Filipina, menyatakan bahwa lebih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan mata pencaharian para penjual es krim jalanan.

"Mereka sudah cukup tua, mungkin perlu menggunakan teknologi untuk meningkatkan fasilitas," kata dia.

Mixie mengatakan, penjaja es krim jalanan menjadi ciri khas Orchard Road.

"Saya tidak tahu bahwa hanya sedikit gerobak yang tersisa di sini. Ini seperti ciri khas Singapura, sangat menyedihkan," lanjutnya.

Tidak hanya pelancong, penduduk Singapura juga khawatir dengan keberadaan penjaja es krim jalanan. Seorang warga, Lucas Lin, menyebut penjual es krim jalanan telah menjadi bagian dari budaya Singapura.

"Begitu mereka pergi, itu akan sangat disayangkan. Saya pikir kita akan kehilangan bagian penting dari warisan tradisional kita ... Jika kita masih bisa mempertahankan tradisi ini, akan sangat baik," kata Lucas. (Channel News Asia)