close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, mengajak negara-negara Islam agar berinvestasi di Indonesia karena kontribusinya masih kecil. Alinea.id/Erlinda PW
icon caption
Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, mengajak negara-negara Islam agar berinvestasi di Indonesia karena kontribusinya masih kecil. Alinea.id/Erlinda PW
Dunia
Senin, 15 Mei 2023 23:28

Masih kecil, Bahlil ajak negara Islam berinvestasi di Indonesia: Saya tawarkan agar ikut ambil bagian

Rata-rata investasi yang masuk Indonesia dari negara-negara Islam selama 5 tahun terakhir hanya 5,5% dari total FDI.
swipe

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan, jumlah investasi negara-negara muslim di Indonesia tergolong kecil. Padahal, RI memiliki penganut Islam terbesar di dunia.

"Terdapat fakta yang kontraproduktif, bapak/ibu sekalian. Di satu sisi, kita berbicara tentang bagaimana kekompakan negara-negara muslim, tapi di sisi lain, sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia justru dibanjiri investasi bukan dari negara Islam," tuturnya dalam Annual Meeting Islamic Development Bank Group (IsDB) di Jeddah, Arab Saudi, pada Senin (15/5) waktu setempat.

Bahlil mengungkapkan, rata-rata investasi yang masuk Indonesia dari negara-negara Islam selama 5 tahun terakhir hanya 5,5% dari total foreign direct investment (FDI). Dirinya pun mengajak para investor dari negara muslim untuk berinvestasi di RI.

Eks Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini lantas memaparkan beberapa keuntungan menanamkan modal di RI. Misalnya, arah kebijakan investasi di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berfokus pada hilirisasi yang berorientasi green energy dan green industry.

"Kami sekarang lebih fokus untuk melakukan hilirasi terhadap komoditas sumber daya alam (SDA) kami. Sebelum dilakukan penghentian ekspor nikel, dulu pendapatan kami hanya US$3,3 miliar. Tapi, begitu ekspor nikel disetop dan dilakukan hilirisasi, pendapatan kami dari nikel mencapai US$30 miliar," tuturnya.

Selain itu, sambung Bahlil, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara-negara G20 dengan 5,31%. Angka inflasi pun di bawah 6%.

Menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi tersebut masih berpeluang ditingkatkan seiring konsistennya kebijakan hilirisasi. "Maka dari itu, saya menawarkan kepada bapak/ibu semua agar bisa ikut mengambil bagian."

"Sampai dengan 2040 menuju Indonesia Emas, masterplan desain pengelolaan investasi yang mengarah kepada hilirisasi pada 8 sektor komoditas unggulan yang potensi nilainya mencapai US$545,3 miliar," sambungnya.

Sebagai informasi, realisasi investasi Arab Saudi di Indonesia sejak 2018 hingga triwulan I-2023 mencapai US$26,5 juta. Ini tidak termasuk penanaman modal sektor keuangan dan hulu migas.

Sektor tersier mendominasi dengan total US$24,78 juta atau 94% dengan capaian tertinggi di sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran senilai US$16,93 juta atau sebanyak 64% dari total nilai investasi Arab Saudi di Indonesia.

Bali menjadi lokasi utama realisasi investasi Arab Saudi dengan capaian sebesar US$10,3 juta (39%). Lalu, Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, dan Kalimantan Timur dalam 5 tahun terakhir.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), Indonesia mengekspor berbagai produk utamanya ke Arab Saudi, yaitu mobil/otomotif, minyak sawit, ikan olahan/diawetkan, saus, dan kayu lapis (plywood). Adapun impor utama RI dari Arab Saudi adalah minyak bumi, minyak mentah, gas minyak bumi, alkohol asiklik, dan polimer etilena.

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan