logo alinea.id logo alinea.id

Oposisi Venezuela setuju lakukan dialog

Dialog antara kubu oposisi dan pemerintahan Nicolas Maduro yang dimediasi oleh Norwegia akan berlangsung di Barbados.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 08 Jul 2019 14:02 WIB
Oposisi Venezuela setuju lakukan dialog

Oposisi Venezuela menyatakan setuju untuk melanjutkan pembicaraan dengan Presiden Nicolas Maduro sebagai upaya menyelesaikan krisis politik yang berkepanjangan.

Pemimpin oposisi yang telah mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Venezuela, Juan Guaido, mengumumkan bahwa pertemuan dengan pejabat pemerintahan akan diadakan di Barbados. Kapan persisnya tatap muka yang dimediasi oleh Norwegia itu berlangsung belum diungkapkan.

Dialog antara kedua belah pihak mandek pada Mei.

"Sebagai respons atas mediasi Kerajaan Norwegia, oposisi akan menghadiri pertemuan dengan perwakilan dari rezim perampas kekuasaan di Barbados, untuk bernegosiasi tentang akhir dari kediktatoran," sebuh Guaido dalam pernyataannya.  

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Norwegia lewat pernyataannya pada Minggu (7/7) malam mengatakan, "Kedua pihak akan bertemu dalam pekan ini di Barbados untuk bergerak maju dalam mencari solusi yang disepakati dan konstitusional bagi negara itu."

Guaido, yang juga kepala Majelis Nasional Venezuela, mendapat dukungan lebih dari 50 negara, termasuk Amerika Serikat dan sebagian besar negara-negara Amerika Latin. Di lain sisi, Maduro masih disokong kuat oleh sekutu penting seperti China, Rusia dan Iran.

Maduro telah mengintensifkan tindakan keras terhadap oposisi sejak pemberontakan militer gagal pada April. Aksi itu dipimpin oleh Guaido.

Banyak anggota parlemen dari kalangan oposisi kehilangan kekebalan mereka dan beberapa telah ditangkap. Maduro menggambarkan pemberontakan gagal itu sebagai bagian dari kudeta yang diatur oleh AS. 

Sponsored

Guaido, termasuk salah satu yang kehilangan kekebalan. Namun, sejauh ini dia belum dipenjara. AS sendiri sudah menegaskan tidak akan berdiam diri jika terjadi sesuatu terhadap pemimpin oposisi itu.

Menurut PBB, sekitar empat juta orang telah meninggalkan Venezuela sejak 2015. Negeri itu dilanda krisis ekonomi parah yang mengakibatkan tingginya pengangguran dan kekurangan kronis terhadap makanan serta obat-obatan. (BBC dan Reuters)