sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Partai Erdogan derita kekalahan besar dalam pilkada Turki

Partai Keadilan dan Pembangunan yang didirikan Erdogan kehilangan dukungan di dua kota utama di Turki, Ankara dan Istanbul.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 02 Apr 2019 12:35 WIB
Partai Erdogan derita kekalahan besar dalam pilkada Turki

Selangkah demi selangkah selama bertahun-tahun Presiden Turki Recep Tayyip berusaha memastikan bahwa tidak ada yang bisa menantangnya. Dia singkirkan musuh-musuhnya, melakukan bersih-bersih di militer, polisi dan pengadilan, melucuti kebebasan pers, memperkuat kekuasaannya dalam konstitusi, serta menjanjikan masa depan ekonomi yang cerah.

Jadi, merupakan sebuah kejutan besar ketika hasil pemilihan lokal pada akhir pekan yang diumumkan Senin (1/4) menunjukkan bahwa partai Erdogan tidak hanya kehilangan kendali atas Ankara, pusat politik, tetapi juga atas Istanbul, pusat komersial negara itu sekaligus kota kelahirannya dan basis dukungannya sejak lama.

Sekalipun hasilnya belum final, tetap saja itu merupakan gempa politik paling penting yang mengguncang Erdogan selama hampir dua dekade memimpin Turki, sekutu NATO, yang juga kunci penting stabilitas di kawasan.

"Ini adalah malapetaka baginya," tutur Asli Aydintasbas, seorang peneliti di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri. "Kita sekarang tahu bahwa dia bukannya tidak terkalahkan."

Perekonomian Turki yang melemah, yang sebelumnya berkembang pesat selama bertahun-tahun di bawah Erdogan, dinilai menjadi perhatian utama para pemilih. Negara itu jatuh ke dalam resesi pada Maret, angka pengangguran melebih 10% dan naik hingga 30% di kalangan kaum muda, lira kehilangan 28% dari nilainya pada 2018 dan terus melemah, serta inflasi mencapai 20%.

Erdogan sendiri bersikeras bahwa dia tidak memicu keterpurukan tersebut.

Ilayda Kocoglu (28) yang merupakan petinggi Partai Rakyat Republik (CHP), oposisi utama, mengatakan, satu jam setelah penutupan pemungutan suara, dia dan rekan-rekannya memahami bahwa mereka tengah menyaksikan perubahan paling penting di Turki sejak Erdogan mengambil alih kekuasaan. 

Bahkan daerah yang terpencil di wilayah metropolitan Istanbul menunjukkan kekalahan bagi calon wali kota yang diusung partai Erdogan, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Hingga Senin malam, hasil dari Dewan Pemilihan Tinggi masih belum sepenuhnya dirilis dan AKP belum mengakui kekalahan di Istanbul. 

Sponsored

Namun, penghitungan menunjukkan kandidat oposisi, Ekrem Imamoglu, melaju dengan 99% suara.

Pada larut malam di Istanbul, Imamoglu mengatakan, dia lebih percaya pada institusi berwenang dibanding AKP untuk mengonfirmasi kemenangannya.

"Saya tidak mengharapkan konfirmasi dari partai. Hingga bertahun-tahun yang akan datang, AKP tidak akan menerima kemenangan saya," tegas Imamoglu.

Dengan kemenangan di dua kota paling penting di Turki, oposisi memberikan peluang bagi Partai Rakyat Republik untuk menunjukkan bagaimana mereka dapat memerintah secara efektif, dengan kontrol layanan kota dari pengumpulan sampah hingga angkutan massal. Imamoglu telah berjanji 

Imamoglu telah berjanji bahwa sebagai wali kota Istanbul terpilih dia akan melakukan audit, sebuah prospek yang dapat menciptakan masalah baru bagi AKP jika dia dapat mengungkap bukti korupsi di bawah pengawasan partai yang berkuasa.

Partai Rakyat Republik yang sejak lama dikritik karena kurangnya persiapan, memobilisasi ribuan sukarelawan untuk mengamati setiap kotak suara dan mencatat penghitungan lewat aplikasi yang dirancang khusus, memberikan partai itu tabulasi independen sendiri.

"Kami dapat membandingkan jumlah kami dengan yang mereka miliki," ujar Kocoglu.

Erdogan sendiri sudah tampil pada Minggu sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Dia mengklaim kemenangan AKP secara menyeluruh. Dan komisi pemilihan pun dilaporkan secara tiba-tiba berhenti merilis hasil pemilu untuk Istanbul. Demikian pula dengan kantor berita Anadolu.

"Mereka menghentikannya untuk memikirkan apa yang bisa mereka lakukan. Bahkan ada diskusi tentang beberapa jenis intervensi," kata Ozgur Unluhisarcikli, direktur think tank German Marshall Fund di Ankara.

Dominasi Erdogan 

Erdogan dinilai bertanggung jawab atas apa yang oleh banyak kritikus disebut sebagai presidensial kekaisaran di Turki. Dia mengontrol upaya pembersihan pemerintah setelah upaya kudeta militer yang gagal pada 2016, yang menurutnya didalangi oleh rival lamanya yang juga seorang ulama yang hidup di pengasingan, Fethullah Gullen. Di bawah Erdogan pula, Turki menahan sejumlah jurnalis.

Tapi, di lain sisi, dominasi Erdogan juga dikaitkan dengan bakatnya di dunia politik yang tidak dipertanyakan dan kegagalan partai oposisi utama untuk mengedepankan kandidat yang baik dan memperluas daya tariknya. 

Para pendukung CHP dilaporkan kerap mempertanyakan mengapa para pemimpin mereka "membiarkan" kemenangan Erdogan dalam setiap pemilihan.

Pada Minggu pukul 23.00, Erdogan muncul di Ankara dan mengakui hilangnya setidaknya satu kota kepada oposisi.

Namun para analis politik yakin bahwa Erdogan akan membiarkan hasil asli pemilihan dirilis.

Aydintasbas mengatakan, Erdogan, yang selalu mendapatkan legitimasi dari kotak suara, akan melihat tidak mungkin untuk mengubah hasilnya. "Tidak ada jalan yang nyata. Mereka tidak menemukan cara untuk melakukannya tanpa kehilangan legitimasi."

Yang lain mengatakan, Erdogan tahu risiko terhadap ekonomi jika ada perselisihan dalam pemilu atau perselisihan yang berlarut-larut. Lira bisa jatuh tajam, seperti yang terjadi Musim Panas lalu, dengan dampak drastis pada sektor bisnis dan mata pencaharian.

"Dengan menerima hasil pemilihan, Erdogan telah menyelamatkan reputasi sistem pemilihan Turki, yang telah memberinya legitimasi selama 17 tahun terakhir," kata Unluhisarcikli. "Dengan pemilihan yang satu ini Erdogan telah menghilangkan awan keraguan dari semua pemilihan yang lalu."

Adapun Kocoglu menegaskan bahwa pemilihan adalah kemenangan kritis bagi oposisi karena tidak ada pemilihan lebih lanjut dijadwalkan selama empat tahun. (The New York Times)

Berita Lainnya