close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Payton Gendron. Foto  AP
icon caption
Payton Gendron. Foto AP
Dunia
Selasa, 17 Mei 2022 07:58

Penembak mati 10 warga kulit hitam di AS berencana melanjutkan aksinya di swalayan lain

Gendron, 18, melakukan perjalanan sekitar 320 km dari rumahnya di Conklin, New York, untuk melakukan serangan Sabtu sore itu.
swipe

Payton Gendron yang membantai 10 orang Afrika-Amerika Sabtu kemarin di supermarket Buffalo ternyata berencana untuk terus membunuh jika dia berhasil melarikan diri dari tempat kejadian. 

Polisi mengungkapkan bahwa Payton Gendron yang melintasi negara bagian untuk menargetkan orang-orang di swalayan Tops, mengaku berencana menembaki toko lain juga. 

"Dia akan masuk ke mobilnya dan terus mengemudi di Jefferson Avenue dan terus melakukan hal yang sama," kata Komisaris Polisi Buffalo Joseph Gramaglia mengatakan kepada CNN.

Paparan Gramaglia itu senapas dengan dokumen 180 halaman rasis, yang konon ia tulis. Dokumen itu mengatakan serangan tersebut dimaksudkan untuk meneror semua orang non-kulit putih, non-Kristen dan membuat mereka meninggalkan negara itu. Otoritas federal sedang bekerja untuk mengkonfirmasi keaslian dokumen tersebut.

Gendron, 18, melakukan perjalanan sekitar 320 km dari rumahnya di Conklin, New York, untuk melakukan serangan Sabtu sore itu (14/5), kata polisi. 

Pihak berwenang mengatakan dia menggunakan senapan gaya AR-15, mengenakan pelindung tubuh dan menggunakan kamera helm untuk menyiarkan langsung aksi berdarahnya di media sosial Twitch.

Sebelum beraksi, Gendron meneliti demografi lingkungan dan melakukan pengintaian sebelum serangan, kata para penyelidik. Walikota Byron Brown mengatakan Gendron datang ke Buffalo dengan tujuan untuk mengambil nyawa orang kulit hitam sebanyak mungkin.

Rencana Gendron untuk menambah daftar korbannya gagal. Ia menyerah kepada polisi yang menghadangnya di ruang depan supermarket. Dia didakwa atas tuduhan pembunuhan. 

Pertumpahan darah paling mematikan

Jaksa federal mengatakan mereka sedang mempertimbangkan tuduhan kejahatan rasial federal dalam kasus ini.

Pertumpahan darah di Buffalo adalah yang paling mematikan dalam gelombang penembakan akhir pekan, termasuk di sebuah gereja California dan pasar loak Texas.

Pejabat penegak hukum mengatakan pada hari Minggu bahwa polisi Negara Bagian New York telah dipanggil ke sekolah menengah Gendron Juni lalu untuk laporan bahwa remaja 18 tahun itu telah membuat pernyataan ancaman. Ancaman itu bersifat "umum" dan tidak terkait dengan ras, kata Gramaglia.

Gendron telah mengancam akan melakukan penembakan di Susquehanna Valley High di Conklin sekitar kelulusan, menurut seorang pejabat penegak hukum yang tidak berwenang untuk membahas penyelidikan secara terbuka dan berbicara dengan syarat anonim.

Gramaglia mengatakan Gendron tidak memiliki kontak lebih lanjut dengan penegak hukum setelah evaluasi kesehatan mental yang menempatkannya di rumah sakit selama satu setengah hari.

Tidak jelas apakah para pejabat dapat menggunakan peraturan "bendera merah" New York, yang memungkinkan penegak hukum, pejabat sekolah, dan keluarga meminta pengadilan untuk memerintahkan penyitaan senjata dari orang-orang yang dianggap berbahaya.

Pihak berwenang tidak akan mengatakan kapan Gendron memperoleh senjata yang dia miliki selama serangan mematikan itu.

Undang-undang Federal AS melarang orang memiliki senjata jika hakim telah menetapkan bahwa mereka memiliki "cacat mental" atau mereka telah dipaksa masuk ke rumah sakit jiwa. Evaluasi saja tidak akan memicu pelarangan.

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan