logo alinea.id logo alinea.id

Protes berlanjut, Ekuador berlakukan jam malam

Sejumlah demonstran sempat menerobos barikade keamanan dan berhasil masuk ke Majelis Nasional pada Selasa sore.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 09 Okt 2019 12:02 WIB
Protes berlanjut, Ekuador berlakukan jam malam

Presiden Ekuador Lenin Moreno pada Selasa (8/10) memerintahkan jam malam di sekitar gedung-gedung pemerintah jelang sepekan protes kebijakan pemerintah yang menghapus subsidi BBM. Demonstrasi juga telah membuat Moreno memindahkan operasional pemerintahan sementara dari Ibu Kota Quito ke kota pelabuhan Guayaquil.

Dalam dekrit yang dirilis pada Selasa, Moreno memerintahkan agar pihak berwenang membatasi pergerakan di dekat gedung pemerintahan dan instalasi strategis antara pukul 20.00 hingga pukul 05.00 demi menjaga ketertiban.

Mengikuti taktik yang telah menggulingkan pemerintahan di masa lalu, ribuan demonstran membanjiri ibu kota. Beberapa menerobos barikade keamanan untuk masuk ke Majelis Nasional pada Selasa sore, mengibarkan bendera dan berteriak, "Kami adalah rakyat!."

Di tempat lain di Quito dan di sejumlah titik, pemrotes bentrok dengan pasukan keamanan, yang merespons mereka dengan gas air mata. Menurut pihak berwenang, bentrokan melukai 19 warga sipil dan 43 polisi.

Menghadapi tantangan terbesar dalam dua setengah tahun pemerintahannya, Moreno telah mengumumkan status darurat nasional.

Pemerintah tengah meminta bantuan mediasi dari PBB atau Gereja Katolik Roma.

"Kami mendorong dialog sebagai jalur yang diperlukan untuk menemukan tujuan bersama yang mengutamakan kepentingan nasional dan perdamaian sosial," kata Moreno.

Protes di Ekuador pecah pada Kamis (3/10) setelah pemerintah mengumumkan penghapusan subsidi BBM sebagai bagian dari paket reformasi ekonomi sesuai dengan persetujuan pinjaman senilai US$4,2 miliar dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Sponsored

Belakangan, demonstrasi melibatkan kelompok-kelompok pribumi. Protes yang dipimpin oleh penduduk asli sebelumnya berhasil menggulingkan tiga presiden.

Pihak berwenang mengatakan, hampir 680 orang telah ditangkap, termasuk seorang legislator yang mendukung pendahulu Moreno.

Moreno menuduh pendahulunya, Rafael Correa, yang juga pernah menjadi mentornya, mengupayakan kudeta dengan bantuan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Selama satu dekade pemerintahan Correa, Moreno telah mendukungnya. Namun, dukungan itu berakhir ketika Moreno memenangkan pemilu pada 2017. Segera setelahnya dia memindahkan kebijakan ekonomi Ekuador ke haluan kanan.

Berbicara di Belgia, di mana dia tinggal di pengasingannya, Correa mencibir tuduhan Moreno.

"Mereka adalah pembohong ... Mereka mengatakan saya sangat berpengaruh sehingga bisa memimpin protes dari Brusses melalui iPhone. Rakyat sudah tidak tahan lagi, itu kenyataannya," tutur Correa merujuk pada langkah-langkah pengetatan ekonomi.

Bantahan juga datang dari Presiden Maduro pada Selasa. Menurutnya, rakyat Ekuador demonstrasi terjadi karena dipicu oleh penolakan rakyat Ekuador terhadap model kapitalis biadab IMF.

"Itu sebabnya rakyat Ekuador turun ke jalan, bukan karena Maduro," ujar dia.

Dengan pengunjuk rasa berkerumun di sekitar Quito, berbagai bangunan pemerintah diserang semalam. Itu menambah panjang daftar penjarahan dan perusakan, termasuk ambulans dan kendaraan polisi dalam beberapa hari terakhir.

Kerusuhan dilaporkan memengaruhi produksi minyak Ekuador. Petroamazonas, perusahaan negara, memperkirakan akan kehilangan sekitar 188.000 barel per hari, atau lebih dari sepertiga dari produksi minyak mentahnya, menyusul fasilitasnya yang terdampak.

Meski menikmati dukungan dari sektor bisnis dan militer, popularitas Moreno tenggelam hingga di bawah 30%, dibandingkan dengan 70% pascakemenangannya pada 2017.

Tujuh negara Amerika Latin menuduh rezim Maduro berusaha menggoyang Ekuador. Mereka menyatakan dukungannya terhadap Moreno. Tuduhan serupa juga disampaikan oleh pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido, yang oleh sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, diakui sebagai presiden sementara.

Sumber : Reuters