sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Puluhan ribu dokter Korea Selatan mogok kerja

Aksi ini sebagai protes terhadap rencana pemerintah menambah jumlah mahasiswa kedokteran.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Rabu, 26 Agst 2020 12:18 WIB
Puluhan ribu dokter Korea Selatan mogok kerja
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Puluhan ribu dokter Korea Selatan (Korsel) melancarkan pemogokan skala penuh pada Rabu (26/8) sebagai bentuk protes terhadap rencana reformasi tenaga kerja medis pemerintah, meskipun ada perintah kembali bekerja.

Aksi kolektif selama tiga hari dilakukan para dokter, termasuk dokter magang dan dokter residen di rumah sakit (RS) umum dan praktisi di klinik lingkungan. Aksi ini sebagai penolakan terhadap langkah pemerintah yang hendak menambahkan jumlah mahasiswa kedokteran.

Pemogokan ini diselenggarakan Asosiasi Medis Korea (KMA), yang yang memiliki sekitar 130.000 anggota.

Setelah pemogokan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Korsel mengeluarkan perintah wajib kepada dokter yang bekerja di RS di wilayah Seoul untuk kembali bekerja, dengan alasan kekhawatiran atas lonjakan kasus virus coronavirus baru (Covid-19).

"Mulai pukul 8 pagi, pemerintah telah memerintahkan dokter peserta pelatihan (dokter trainee) dan rekan yang bekerja di RS pelatihan di Seoul, Gyeonggi, dan Incheon untuk segera kembali ke layanan medis mereka," kata Menteri Kesehatan, Park Neung-hoo.

Mereka yang tidak mengikuti perintah pemerintah tanpa dasar yang cukup dapat dicabut izinnya, bahkan menghadapi hukuman penjara kurang dari tiga tahun atau denda kurang dari ₩30 juta (Rp369 juta).

Kemenkes melanjutkan, sektor medis dan pemerintah telah mencapai kesepakatan untuk menunda rencana reformasi sampai pandemi Covid-19 terkendali.

Namun, perjanjian tersebut ditolak Korean Intern and Resident Association (KIRA) yang mewakili para dokter trainee. Mereka menyerukan pemerintah membatalkan rencana tersebut.

Sponsored

Aksi ini membawa gangguan dalam sistem perawatan kesehatan pada saat Korsel berjuang untuk menahan peningkatan kasus Covid-19.

Korsel diketahui melaporkan 320 kasus Covid-19 pada Rabu (26/8), termasuk 307 infeksi lokal. Sehinga, secara kumulatif berjumlah 18.265 kasus.

Lima RS umum besar di Korsel juga telah mengurangi jam klinik dan menunda beberapa operasi. Sebanyak 115 operasi di Samsung Medical Center telah ditunda.

RS umum pun mengganti jam malam yang biasanya ditanggung oleh dokter magang dan dokter residen dengan dokter setingkat profesor untuk mencegah gangguan di ruang gawat darurat dan kamar untuk pasien kritis.

Pemogokan oleh praktisi di klinik lingkungan diperkirakan mengganggu layanan medis mendorong pemerintah mempersiapkan sistem darurat di pusat kesehatan umum di seluruh negeri. Sekitar 33% praktisi menutup klinik mereka selama pemogokan pertama, awal Agustus.

Sebagai bagian dari rencana reformasi tenaga kerja medis, Kemenkes berencana memperluas kuota masuk di sekolah kedokteran sebesar 4.000 selama 10 tahun ke depan, di mulai tahun 2022 dan membuka sekolah kedokteran umum baru untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan.

Ini akan meningkatkan jumlah siswa yang diterima setiap tahun di sekolah kedokteran menjadi 3.458 dalam periode 2022-2031 dari 3.058 saat ini.

Langkah itu disebut sebagai keputusan "tergesa-gesa dan sepihak". Karenanya, para trainee melakukan pemogokan pada Jumat (21/8). Aksi kolektif juga diikuti dokter di semua tingkatan.

Pada Selasa (25/8), kedua belah pihak juga sepakat meluncurkan konsultasi tingkat kerja. Namun, pembicaraan belum menghasilkan terobosan besar, sehingga mendorong KMA untuk terus melakukan aksi pemogokan skala besar. (Yonhap News Agency)

Berita Lainnya