logo alinea.id logo alinea.id

Redakan ketegangan, India dan Pakistan bahas pembukaan perbatasan

Pembicaraan dimulai setelah delegasi Pakistan menyeberang ke India pada Kamis (14/3).

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 14 Mar 2019 16:58 WIB
Redakan ketegangan, India dan Pakistan bahas pembukaan perbatasan

Di tengah ketegangan yang sempat melonjak antara kedua negara, para pejabat Kementerian Luar Negeri India dan Pakistan bertemu untuk membahas pembukaan perbatasan bebas visa untuk memungkinkan para peziarah mengunjungi kuil Sikh, Kartapur Sahib, di Pakistan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India Raveesh Kumar mengatakan pembicaraan dimulai setelah delegasi Pakistan menyeberang ke India pada Kamis (14/3). Delegasi Pakistan dipimpin oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Mohammad Faisal.

"Inisiatif membuka perbatasan ini bertujuan untuk mengubah permusuhan menjadi persahabatan," kata Faisal kepada wartawan sebelum menyeberang ke kota perbatasan India, Attari, tempat pertemuan itu diadakan.

Ketegangan antara dua tetangga yang sama-sama berkekuatan nuklir tersebut berkobar setelah aksi bom bunuh diri menewaskan 40 anggota polisi paramiliter India di wilayah Kashmir milik India pada Februari lalu.

Sebagai balasannya, Angkatan Udara India melancarkan serangan udara ke Pakistan. Mereka mengklaim menargetkan kelompok militan Jaish-e-Mohammad (JeM) yang bermarkas di Pakistan dan mengklaim berada di balik serangan bom bunuh diri di Kashmir.

Pakistan pun membalas dengan menembak jatuh dua pesawat Angkatan Udara India. Satu pilot sempat ditangkap dan kemudian dibebaskan. Sejak saat itu, ketegangan antara kedua negara mulai mereda.

India kecewa dengan China

Pada Kamis, India menyatakan kekecewaannya terhadap China yang memveto upaya Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk memasukkan pemimpin JeM, Masood Azhar, dalam daftar hitam PBB.

Sponsored

Dalam sidang DK PBB, Rabu (13/3), China memblokir permintaan Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat untuk menambahkan Azhar ke dalam daftar hitam sanksi PBB.

Jika dimasukkan ke dalam daftar tersebut, Azhar akan dikenakan larangan perjalanan, pembekuan aset, dan embargo senjata.

Pemerintah China menuturkan perlu lebih banyak waktu untuk memeriksa permintaan sanksi yang menargetkan Azhar dan meminta penundaan teknis yang bisa berlangsung hingga sembilan bulan.

Kemlu India mengatakan kecewa dengan keputusan China dan akan terus berupaya memastikan agar para pemimpin teroris yang terlibat dalam serangan bom bunuh diri itu diadili.

JeM sendiri telah masuk ke dalam daftar teror PBB sejak 2001.

Langkah China menjadi berita utama di media India, Indian Express memberitakannya dengan tajuk "Jaish chief gets Great Wall of China".  Keputusan China akan Azhar juga memicu badai sentimen anti-China di Twitter dengan tagar #BoycottChinaProduct.

Pemimpin oposisi utama India, Rahul Gandhi, menggunakan kesempatan itu untuk mengejek Perdana Menteri India Narendra Modi, yang sedang berupaya mengamankan masa jabatan kedua dalam pemilu pada April.

"Modi lemah dan takut kepada Presiden China Xi Jinping. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya ketika China bertindak melawan India," ujar Gandhi.

China dan India memiliki perselisihan terkait wilayah yang telah berlangsung lama, tetapi Modi dan Xi Jinping mencoba untuk memperbaiki hubungan kedua negara dengan mengandalkan hubungan pribadi mereka untuk menyikapi perbedaan.

Tiongkok adalah mitra dagang terbesar India. Namun, selama ini dilaporkan terdapat ketidakseimbangan perdagangan yang condong menguntungkan Beijing. (The Straits Times dan ABC)

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB