sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Serangan udara AS tewaskan pemimpin pasukan elite Iran

Sejak 1998, Soleimani memimpin Pasukan Quds, unit elite di IRGC yang menangani operasi klandestin di luar negeri.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 03 Jan 2020 12:30 WIB
Serangan udara AS tewaskan pemimpin pasukan elite Iran
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Kepala Pasukan Quds Mayor Jenderal Qasem Soleimani tewas dalam serangan udara Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada Jumat (3/1).

Kementerian Pertahanan AS mengonfirmasi kematian Soleimani. Mereka mengatakan, serangan udara tersebut dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump.

"Atas arahan Presiden Trump, militer AS mengambil tindakan tegas untuk melindungi personel AS di luar negeri dengan membunuh Qassem Soleimani," jelas Pentagon dalam pernyataannya.

Pentagon menyebut, serangan udara itu bertujuan untuk menghalangi rencana serangan Iran di masa depan.

"AS akan terus mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi rakyat dan kepentingan nasional kami di seluruh dunia," tutur mereka.

Serangan udara itu terjadi beberapa hari setelah pengunjuk rasa berdemonstrasi di Kedutaan Besar AS di Baghdad. Pentagon mengklaim, Mayjen Soleimani mendukung protes tersebut.

Pejabat Irak melaporkan, selain Soleimani, Komandan militer Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Abu Mahdi al-Muhandis juga tewas dalam serangan yang sama. PMF adalah payung kelompok paramiliter yang merupakan faksi paling kuat yang dekat dengan Teheran.

Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) dan PMF membenarkan kematian Soleimani dan Muhandis.

Sponsored

Kematian kedua orang itu dinilai dapat menjadi titik balik dari situasi di Timur Tengah. Banyak yang mengkhawatirkan Iran akan melancarkan serangan balasan keras terhadap AS.

Sejumlah sumber dari PMF menjelaskan bahwa serangan udara AS menghancurkan dua kendaraan di Bandara Baghdad. Al-Muhandis dilaporkan tiba di bandara untuk menyambut Soleimani yang baru tiba dari Lebanon atau Suriah.

Laporan sebelumnya mengatakan, selain Soleimani dan Muhandis, lima orang lainnya juga terbunuh dalam ofensif itu.

Menyusul kabar kematian Soleimani, Trump mentwit gambar bendera AS.

Senator Lindsey Graham, sekutu Trump, mengatakan kematian Soleimani merupakan pukulan besar bagi rezim Iran.

Sementara itu, Senator Chris Murphy, oposisi di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, memperingatkan bahwa penyerangan itu berpotensi memicu perang regional besar-besaran.

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menyebut tindakan AS sebagai eskalasi yang sangat berbahaya dan langkah yang bodoh.

"Tindakan terorisme internasional AS, yang menargetkan dan membunuh Jenderal Soleimani ... sangat berbahaya dan bodoh. AS akan memikul tanggung jawab atas seluruh konsekuensi dari serangan ini," twit dia.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, mantan Asisten Menteri Pertahanan AS Lawrence Korb meyakini bahwa Washington sudah lama menargetkan Soleimani.

Korb memprediksi, Iran dapat membalas dengan meluncurkan perang asimetris untuk menghindari risiko konfrontasi besar-besaran dengan AS. Perang asimetris merupakan model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, di luar aturan peperangan yang berlaku, dan dengan spektrum yang luas.

Jenderal Soleimani merupakan tokoh penting dalam politik Iran. Dia kerap dipuji sebagai tokoh nasional yang heroik.

Soleimani telah beberapa kali dikabarkan tewas, termasuk dalam kecelakaan pesawat pada 2006 dan dalam pengeboman di Damaskus pada 2012

Sejak 1998, Soleimani memimpin Pasukan Quds, unit elite di IRGC yang menangani operasi klandestin di luar negeri. 

Pemerintahan Trump menuduh Pasukan Quds sebagai mekanisme utama Iran untuk mendukung kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah, dengan menyediakan dana, pelatihan, serta memasok senjata mereka.

Pada April, Kementerian Luar Negeri AS menyatakan IRGC, termasuk Pasukan Quds, sebagai organisasi teroris asing. (Al Jazeera, Voice of America, dan BBC)

Berita Lainnya