logo alinea.id logo alinea.id

27 Steps of May: Trauma penyintas kekerasan seksual

Film 27 Steps of May bicara soal kekerasan seksual yang dialami perempuan bernama May.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Sabtu, 04 Mei 2019 21:56 WIB
27 Steps of May: Trauma penyintas kekerasan seksual

Film 27 Steps of May akhirnya dirilis di dalam negeri. Karya sutradara Ravi Bharwani ini sebelumnya diputar di Busan International Film Festival pada akhir 2018. Film 27 Steps of May bicara soal kekerasan seksual yang dialami perempuan bernama May.

Film yang sunyi

May, diperankan Raihaanun, adalah siswa sekolah menengah pertama. Suatu hari, di perjalanan pulang dari arena pasar malam, May disekap dan diperkosa oleh sekelompok pria tak dikenal. Sejak saat itu, hingga delapan tahun kemudian, May mengisolasi diri dari dunia luar.

Bapak May, diperankan Lukman Sardi, sangat terpukul atas kejadian yang menimpa anak gadisnya. Dia merasa harus bertanggung jawab atas hal tersebut. Rasa sakit terus menyayat hati Bapak karena dirinya merasa tidak becus menjaga May.

Sementara, trauma psikologis yang dihadapi May membuatnya tidak mau berbicara pada orang-orang di sekitar, termasuk Bapak. Setiap hari, mereka melakukan rutinitas dalam diam. Namun, May dan Bapak punya satu kegiatan bersama yakni membuat boneka. 

Selama delapan tahun, keduanya bergulat untuk sembuh dari trauma masa lalu. Bapak selalu berusaha hadir di samping May, memastikan putrinya aman. Sebaliknya, May hanya memberi tatapan kosong dan gerakan-gerakan pelan tanpa emosi.

Padahal, Bapak juga mengalami guncangan emosi yang sangat berat. Di luar rumah, dia terpaksa menyalurkannya dengan menjadi pemain tinju.

Tanpa sepengetahuan Bapak, seorang pesulap (diperankan Ario Bayu) hadir dan tinggal tepat di sebelah rumah mereka. Sosok ini seperti menjadi jalan keluar untuk penyembuhan luka May selama ini.

Sponsored

Pesulap itu membuat lubang di kamar May. Dari situ, dia mengajak May berinteraksi. Meski tetap tanpa dialog, May mulai melakukan kontak dan berkomunikasi dengan pesulap itu. Perubahan mulai tampak pada diri May. 

Akting Raihaanun dalam 27 Steps of May. / 27stepsofmay.com

Penghayatan aktor 

Film 27 Steps of May ini berhasil menyuguhkan cerita sederhana namun sangat menyentuh hati. Penonton diajak tenggelam dalam karakter May, korban kekerasan seksual yang mentalnya sangat terguncang.

Raihaanun dengan apik memerankan tokoh May. Seluruh adegan yang diberikan sutradara kepadanya hampir tanpa dialog. Raihaanun harus bermain ekspresi dengan lihai. 

Bahkan Raihannun yang dengan laku tanpa ucapan pun sungguh mengingatkan betapa akibat pelecehan seksual itu terasa dingin tapi menusuk jiwa May.  

Beberapa kali May berbaring di kasur dengan wajah bercucur keringat, juga mengerang sakit karena goresan silet serta bayangan kelam masa lalu yang mencekam. Teriakan dan isakannya saat mengalami kekerasan kala itu, berganti wujud dalam kebisuan-kebisuan yang menyimpan ketakutan.

Sampai akhirnya May mengalami pengulangan peristiwa dalam bentuk lain. Di ruang pribadi pesulap, May menemukan jalan keluar atas trauma dan kesakitan yang dialaminya.

Bagian penting lainnya dalam film ini yaitu ketegaran Bapak yang diperankan dengan sangat baik oleh Lukman Sardi. Tak hanya tenggelam oleh rasa kegagalan, upaya Bapak yang begitu besar untuk menjaga May benar-benar terasa jeri hampir sepanjang film.

Akting Lukman Sardi dan Raihaanun dalam 27 Steps of May. / 27stepsofmay.com

Jika ada yang perlu dikritik, film ini hanya berpusat pada tokoh May dan Bapak yang tampak menafikan kehadiran sosok Ibu dalam keluarga. Adakah sepenuhnya kesalahan dapat ditimpakan pada ayah yang absen melindungi May, anak semata wayangnya itu?

Tapi saya tetap bisa menerima kealpaan itu. Alasannya, alur film yang sempat diputar Jogja-Netpac Asian Film Festival pada November 2018 ini mengalir dalam tatanan emosi yang mengiris. 

Film ini berhasil menyentak sekaligus menyentuh rasa iba penonton terhadap tokoh korban kekerasan seksual. Selain itu, film ini juga mengingatkan kita akan dampak kasus tindak pemerkosaan, pelecehan seksual, juga kekerasan fisik terhadap psikologis keluarga korban.

Sutradara Ravi Bharwani tampak ingin membangunkan sikap abai kita terhadap isu kekerasan seksual. Namun, alih-alih membiarkan tokoh May jatuh tergeletak sebagai korban, kita boleh tersenyum sembari berharap setiap korban kekerasan seksual dapat berhasil lepas dari beban trauma masa lalu yang mematikan jiwa dan semangat hidupnya.

starstarstarstarstar5

Berani menggambarkan luka batin korban kekerasan seksual dan orang terdekat korban secara jujur. Fungsi fiksi sebagai penajaman realitas terpenuhi oleh film ini.