logo alinea.id logo alinea.id

A Private War: Kisah jurnalis perang lintas negara

Kisah film besutan Matthew Heineman ini dimulai ketika Colvin memilih pergi ke Sri Lanka, mewawancarai pemimpin pemberontak Macan Tamil.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Selasa, 19 Mar 2019 18:13 WIB
A Private War: Kisah jurnalis perang lintas negara

Wajah Kota Homs di Suriah yang luluh lantak membuka kisah film A Private War. Suara perempuan yang sedang diwawancarai juga mengiringi pembuka film ini. Suara itu berasal dari jurnalis desk luar negeri The Sunday Times, Marie Colvin.

A Private War mengangkat kisah perjuangan Marie Colvin (Rosamund Pike) saat melakukan kerja-kerja jurnalistik di beberapa negara rawan konflik. Film ini diadaptasi dari artikel “Marie Colvin’s Private War” karya Marie Brenner yang terbit di Majalah Vanity Fair pada 2012.

Jurnalis di kancah perang

Kisah film drama biografi besutan Matthew Heineman ini dimulai ketika Colvin memilih pergi ke Sri Lanka, untuk mewawancarai pemimpin pemberontak Macan Tamil pada 2001. Sebelumnya, editor luar negeri The Sunday Times Sean Ryan (Tom Hollander) yang juga bos Colvin, memerintahkan ia ke Palestina. Namun, Colvin tetap berangkat ke Sri Lanka, dengan alasan sudah melakukan janji wawancara khusus pemimpin Macan Tamil.

Tugas ke Sri Lanka inilah yang membuat mata Colvin menjadi buta sebelah—akhirnya menjadi ciri khas jurnalis perempuan pemberani tersebut, dengan mata kiri ditutup mirip bajak laut.

Mata Colvin rusak, usai terkena serpihan ledakan granat berpeluncur roket yang ditembakan pasukan pemerintah Sri Lanka, kala Colvin hendak menyeberang dari lokasi yang diduduki Macan Tamil ke daerah pemerintah.

Berkat dedikasinya dalam menulis berita di daerah konflik, dan berhasil menyuguhkan kisah kepedihan warga sipil yang tak banyak diketahui publik, Colvin pun diganjar Foreign Reporter of the Year dalam British Press Award 2001.

Bukan hanya sekali sebenarnya Colvin meraih penghargaan ini. Ia kembali mendapatkannya pada 2009 dan 2012. Di kisah nyata, ia pun pernah mendapatkan penghargaan Journalist of the Year dalam Foreign Press Association pada 2000, Courage in Journalism dalam International Women’s Media Foundation, dan Anna Politkovskaya Award dalam Reach All Women in War.

Sponsored

Adegan saat Marie Colvin mewawancarai pemimpin Libya Muammar Gaddafi. /Imdb.com

Pada 2003, Colvin kembali ke lapangan konflik perang. Kali ini Irak menjadi tujuan peliputannya. Di perbatasan Irak, ia bersua Paul Conroy (Jamie Dornan), seorang fotografer lepas. Colvin pun mengajaknya liputan ke Fallujah, Irak. Conroy menjadi kolega setia Colvin hingga ia tewas pada 2012.

Muslihat Colvin dalam film ini terlihat ketika ia mengelabui pasukan bersenjata di gerbang masuk Fallujah. Ia mengaku sebagai petugas kesehatan untuk korban di daerah konflik, dengan memberikan kartu anggota senam kepada salah seorang petugas pos penjagaan.

Pada 2011, Colvin mewawancarai pemimpin Libya Muammar Gaddafi. Ia menanyakan tujuan kebijakan militer Gaddafi yang malah membuat jatuhnya korban warga sipil. “Apakah Al-Qaeda atau Anda yang justru sudah meracuni rakyat Libya?” Berulang kali Gaddafi mengatakan, Al-Qaeda dalangnya.

Bukan kali pertama Colvin mewawancarai Gaddafi. Pada 1986, ia menjadi wartawan pertama yang sukses mewawancarai Gaddafi, setelah invasi Amerika Serikat yang diberinama Operasi El Dorado Canyon.

Colvin menyaksikan banyak kepedihan dalam konflik bersenjata di berbagai negara. Ia yang sudah berpengalaman sejak 1986. Ia pernah meliput konflik Kosovo, Cechnya, Sierre Leone, Zimbabwe, hingga Timor Timur—yang kini bernama Timor Leste.

Bayangan tentara yang menembak, bom, dan gadis yang terbujur kaku di atas ranjang kerap menghantuinya. Ia menderita post traumatic stress disorder. Ia bukan saja harus menghadapi risiko nyawa melayang, karena bertugas di daerah perang. Ia pun menghadapi konflik pernikahan dan urusan di kantor.

Film jurnalis perang

Salah satu adegan di dalam A Private War (2018). /Imdb.com.

Bagian akhir film ini cukup dramatis, kalau tak mau dibilang sangat menyedihkan. Pada 2012, di sebuah bangunan yang nyaris roboh di Kota Homs, Colvin setia mengabarkan peristiwa konflik di Suriah.

Dalam wawancaranya melalui sambungan telepon dengan saluran berita BBC, Colvin mengatakan konflik di Suriah merupakan tragedi perang terburuk selama kariernya menggarap liputan perang.

Setidaknya, 28.000 warga sipil terjebak di dalam gempuran bom rakitan dan rentetan tembakan. Serangan roket dilancarkan ke arah gedung tempat ia dan para wartawan bersembunyi. Ia tewas tersambar roket ketika keluar dari gedung tersebut. Colvin bukan saja menjadi saksi dan pengisah para korban perang, ia pun menjadi korban perang itu sendiri. Sedangkan koleganya, fotografer Conroy selamat dari serangan itu. Dan, melanjutkan kariernya.

Di dalam film ini, Colvin digambarkan sebagai sosok yang kuat dan berdedikasi terhadap profesinya. A Private War merupakan film pertama yang mengisahkan jurnalis Marie Colvin. Namun, sebelumnya film-film bertema jurnalisme sebenarnya sudah banyak.

Sebut saja All the President’s Men (1976), The Insider (1999), A Mighty Heart (2007), Kill The Messenger (2014), dan The Post (2017). Di Indonesia, ada Telegram (1997) dan Remang-remang Jakarta (1981).

Ada pula film-film yang mengangkat kisah jurnalis di medan perang. Misalnya, The Killing Fields (1984), Salvador (1986), Welcome to Sarajevo (1997), The Hunting Party (2007), dan Balibo (2009).

Namun, semuanya hanya berkisah tugas peliputan di satu negara. Film Welcome to Sarajevo misalnya. Film ini mengisahkan reporter Michael Henderson (Stephen Dillane) yang ditugaskan ke Sarajevo, ibu kota Bosnia dan Herzegovina yang dikepung.

Sementara film Balibo mengisahkan lima wartawan televisi berpusat di Australia, yakni Greg Shackleton (Damon Gameau), Gary Cunningham (Gyton Grantley), Tony Stewart (Mark Winter), Brian Peters (Thomas Wright), dan Malcolm Rennie (Nathan Phillips)—yang kemudian dikenal sebagai Balibo Five—di Timor Timur saat konflik pada 1975. Sama seperti Colvin, mereka tewas dalam tugas.

Beberapa film tentang jurnalis perang tadi hanya mengisahkan konflik bersenjata di satu negara saja. Tak seperti A Private War yang berlatar belakang beberapa negara dikemas dalam satu kisah.

Satu-satunya yang agak mirip adalah film War Photographer (2001). Film yang mengisahkan fotografer James Nachtwey ini mengangkat petualangan Nachtwey di Kosovo pascaperang, kemiskinan dan kerusuhan di Jakarta, Ramallah (Tepi Barat), New York (Amerika Serikat), Hamburg (Jerman), dan Thokoza (Afrika Selatan).

Namun, kisah Nachtwey adalah film dokumenter. Nachtwey pun bukan jurnalis tulis macam Colvin.

starstarstarstarstar4

Komposisi tersusun pas antara kisah kehidupan pribadi dan pengalaman Marie Colvin dalam meliput daerah konflik. Jika dikemas lebih dramatis, sosok Marie Colvin akan jauh lebih menyentuh dan inspiratif.