logo alinea.id logo alinea.id

Akar penyebab eksodus warga termakan isu kiamat

Sebanyak 52 warga di Desa Watubonang, Kabupaten Ponorogo hijrah ke Kabupaten Malang karena termakan isu kiamat.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Kamis, 21 Mar 2019 11:00 WIB
Akar penyebab eksodus warga termakan isu kiamat

Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan pemberitaan eksodusnya 52 warga Desa Watubonang, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ke Malang, Jawa Timur. Kepindahan warga itu karena embusan isu kiamat.

Nama Katimun disebut-sebut sebagai sosok yang menyebabkan warga hijrah ke Kota Apel. Ia diduga menyebarkan ajaran yang nyeleneh, seperti akan ada huru-hara dan perang saat Ramadan tahun ini dan kemarau panjang berlangsung tiga tahun di pengajian Thoriqoh Musa pimpinannya.

Satu nama lagi yang mencuat karena isu kiamat ini adalah Kiai Haji Ramli Soleh Syaifuddin. Warga yang pindah itu mengungsi ke Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin di Kabupaten Malang, Jawa Timur, pimpinan Ramli.

Ramli sudah membantah bahwa dirinya menyebarkan isu kiamat. Warga yang eksodus itu juga menjual lahan, harta, dan rumah mereka. Ada semacam fatwa, yang konon membuat warga percaya desa mereka akan hancur pertama kali ketika kiamat datang.

Dalam sanggahannya, Ramli mengatakan kabar burung kiamat itu sumbernya berasal dari program tiga bulanan menjelang Ramadan yang rutin diadakan di pondok pesantren pimpinannya. Di situ ia menjelaskan 10 tanda kiamat.

Ramli menerangkan, usai Ramadan ada meteor, dunia kemarau tiga tahun, lalu Dajal muncul, kemudian Nabi Isa datang. Ramli berdalih, hanya mengajak pengikutnya berjaga-jaga seandainya meteor datang usai Ramadan, maka kiamat tiba.

Agama kultus

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus akademikus Komaruddin Hidayat angkat bicara tentang kegaduhan di Ponorogo terkait isu kiamat. Menurutnya, Thoriqoh Musa sebagai kelompok penganut agama Islam yang ekslusif.

“Ceramahnya itu-itu saja, mereka menjadi salah satu bentuk cultic religion. Biasanya fanatik pada gurunya,” kata Komaruddin saat dihubungi reporter Alinea.id, Rabu (20/3).

Cultic religion atau agama kultus menurut Komaruddin adalah sikap fanatik, tak hanya pada ajaran agama, tetapi juga pada sosok pemimpin mereka. Menurutnya, bila warga Desa Watubonang mendengarkan ceramah dari penceramah yang berbeda-beda, peristiwa eksodus dari kampungnya itu takkan terjadi.

“Coba kalau dengarkan ceramah yang berbeda-beda, misal dari yang klasik, modern, tarekat, dan lainnya, maka mereka akan tidak mudah percaya dengan satu fatwa. Itu bisa diantisipasi,” kata penulis buku Iman yang Menyejarah (2018) itu.

Komaruddin melanjutkan, hijrah karena fatwa Thoriqoh Musa—maupun Miftahul Falahil Mubtadiin—akan sangat mudah dan kerap terjadi, terlebih di masyarakat Jawa yang lekat dengan takhayul.

Ia pun memandang, berkembangnya pemahaman apokaliptik—berkaitan dengan kehancuran atau kiamat—umumnya terjadi dalam masyarakat yang terisolasi dari lingkungan luar.

Akibatnya, pemahaman masyarakat itu menjadi tertutup, sempit, dan cenderung tak rasional. Paham apokaliptik, kata Komaruddin, bisa terjadi di semua kelompok kepercayaan.

Pemahaman tertutup, lanjut Komaruddin, memunculkan ekslusivisme yang bisa memudahkan sebuah informasi dengan mudah dipercaya. Lantas, makin diikat dengan keyakinan sosok pemimpin agama di kalangan mereka.

“Mereka hanya terfokus untuk pengultusan sosok gurunya. Akibatnya, kondisi lingkungan mereka menjadi agak terpisah dari dunia luar, dan hanya berpatok pada ajaran yang disampaikan satu sosok gurunya,” kata dia.

Maka, Komaruddin menyarankan, sikap fanatisme semacam itu digerus dengan berpikiran terbuka dan mau menyerap informasi dari ceramah pengajar agama kelompok lain.