close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi seseorang dengan gangguan mental./Foto Mohamed_hassan/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi seseorang dengan gangguan mental./Foto Mohamed_hassan/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Rabu, 06 Desember 2023 18:03

Bahaya terjebak dalam self diagnosis kesehatan mental

Self diagnosis adalah praktik di mana seseorang mencoba mengidentifikasi kondisi kesehatan mental mereka sendiri.
swipe

Dalam beberapa tahun terakhir, internet—terutama media sosial—menjadi wadah informasi yang melimpah terkait kesehatan mental. Dengan kemajuan teknologi ini, pengguna internet—terutama anak muda—kerap mendiagnosis dirinya sendiri atau self diagnosis, soal kondisi kesehatan mentalnya. Biasanya, informasi itu didapatkan dari media sosial, yang tak valid dan kredibel sumbernya.

Secara harfiah, psikolog Jehan Safitri mendefinisikan self diagnosis sebagai praktik di mana seseorang mencoba mengidentifikasi kondisi kesehatan mental mereka sendiri. “Berdasarkan gejala yang mereka alami. Biasanya dengan mencari informasi di internet atau sumber lainnya,” kata Jehan kepada Alinea.id, Senin (4/2).

Jehan menekankan, meski dua orang punya gejala serupa, tetapi sesungguhnya kondisi kesehatan mental mereka mungkin sangat berbeda. “Memiliki gejala yang sama, tidak selalu berarti memiliki diagnosis yang sama atau memerlukan perawatan yang sama,” ujar Jehan.

Penyebab, praktik, dan bahayanya

Menurut peneliti dari Departemen Kesehatan Sosial Universitas Padjadjaran (Unpad), yakni Tahira Nurul Azizah dan Nunung Nurwati dalam penelitian mereka “Dampak perilaku self diagnosis pada kesehatan mental remaja” di Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNSIQ (Juli, 2021), keterbukaan akses menyebabkan individu dapat melihat sendiri penyebab dari gangguan mental, dan bisa mengidentifikasi secara langsung.

“Praktik diagnosa diri ini menjadi praktik umum sekarang,” kata Tahira dan Nunung.

“Tanpa didiagnosa secara profesional, mereka (remaja) langsung mengklaim gejala itu sebagai apa yang dialaminya, dan cepat-cepat mengidentifikasi bahwa mereka mempunyai gangguan mental.”

Tahira dan Nunung menulis, anggapan bahwa gangguan mental adalah hal yang tabu atau identik dengan gila, membuat remaja akhirnya hanya melakukan self diagnosis. Alasannya, orang tua tak percaya atau tak berani berkonsultasi dengan profesional.

“Hal ini malah membuat self diagnosis menjadi tren,” kata mereka.

Mereka cenderung mendiagnosis mandiri salah satu jenis gangguan mental, merasa sesuai dengan apa yang dirasakan. Padahal, menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, ada lebih dari 300 jenis gangguan mental.

Para peneliti dari Indiana University Bloomington, yakni Lauren A. Rutter, Jacqueline Howard, Prabhvir Lakhan, Danny Valdez, Johan Bollen, dan Lorenzo-Luaces pernah melakukan penelitian soal self diagnosis dalam risetnya “I haven’t been diagnosed, but I should be”—insight into self-diagnoses of common mental health disorders: Cross-sectional study.”

Penelitian yang terbit di JMIR Formative Research (Januari, 2023) itu dilakukan dalam dua eksperimen. Eksperimen pertama dilakukan terhadap 1.123 orang dewasa, sedangkan yang kedua dilakukan terhadap 2.237 mahasiswa dari sebuah unitersitas di Midwest.

Semua peserta menyelesaikan survei berbasis web terkait kesehatan mental, penggunaan media sosial, dan informasi demografis. Dari riset ini, Rutter dkk menemukan, jika seseorang percaya bahwa mereka seharusnya didiagnosis dengan gangguan internal, mereka sedang mengalami psikopatologi yang mirip dengan orang yang sudah didiagnosis sebelumnya.

“Diagnosis yang dilakukan sendiri sesuai dengan tingkat keparahan gejala secara berkelanjutan dan dapat dipercaya sebagai indikator klinis, terutama dalam gangguan internal umum, seperti depresi dan gangguan kecemasan umum,” tulis para peneliti.

Sementara itu, di media sosial, bila ada seseorang dengan pengikut yang besar memberikan diagnosis tertentu, menurut Jehan, orang lain cenderung mengikuti atau bahkan mendiagnosa diri sendiri. Padahal, tak benar-benar sesuai dengan kondisi mereka.

“Ada kemungkinan, seseorang mengabaikan informasi yang valid dari sumber medis yang kredibel, demi mengikuti tren populer di media sosial,” ujar dosen psikologi di Universitas Lambung Mangkurat itu.

Self diagnosis memiliki kecenderungan berulang dan intensif. Menurut Kepala Kantor Medis di Talkspace dan Floreo VR sekaligus psikiater, Varun Choudhary dalam US News, semisal seorang perempuan muda menelusuri TikTok, melihat seorang influencer berbagi bahwa ia punya gangguan pemusatan perhatian dan hireaktivitas, kemudian algoritma media sosial dalam seminggu berikutnya lebih banyak menyuguhkan umpan konten terkait hal itu.

Dari sana, beberapa gejala terasa relevan. Lalu, ia mencari di YouTube tentang gangguan mental tadi. Setelah menonton beberapa dari ribuan video tentang topik serupa, ia “memutuskan” punya gangguan mental tersebut.

Akibatnya, bila seseorang percaya mereka memiliki suatu kondisi mental berdasarkan informasi yang ditemukan, hal itu dapat memengaruhi pikiran dan perasaan mereka. Baik untuk memperburuk atau memperbaiki kondisi mental tersebut, meski tak ada dasar medis yang kuat.

Jehan mengingatkan, informasi yang tak terverifikasi atau tak lengkap, bisa membuat seseorang merasa khawatir secara berlebihan tentang kondisi kesehatan mental mereka. Hal ini bisa menyebabkan stres, kecemasan, atau bahkan mengganggu kesejahteraan mental seseorang.

“Misalnya, dia yakin dirinya depresi. Maka, perilakunya seperti orang yang didiagnosis depresi,” tutur Jehan. “Kasus paling banyak, masalah self harm.”

Jehan mengakui, banyak pasiennya yang menganggap dirinya mengalami bipolar dan depresi. Padahal, setelah dilakukan penilaian, pasien itu tak termasuk ke dalam gejala gangguan mental tersebut.

Choudhary menulis, self diagnosis bisa berbahaya. Perkaranya, ketika seorang pengguna media sosial percaya mereka menderita gangguan kesehatan mental, hal itu dapat mendorong mereka untuk mencari perawatan yang tak tepat.

“Mereka mungkin melaporkan diagnosis diri sendiri kepada lembaga yang tak punya keahlian kesehatan mental yang mumpuni untuk mengevaluasi gejala yang muncul,” tulis Choudhary dalam US News.

“Atau mereka mungkin akhirnya menggunakan penyedia layanan kesehatan jarak jauh untuk mendapatkan resep obat yang tak membantu atau bahkan berbahaya.”

Oleh karena itu, Jehan menyarankan, penting bagi seseorang untuk tak ragu mencari bantuan tenaga profesional, seperti psikolog, psikiater, atau terapis, jika merasa mengalami masalah kesehatan mental. Sebab, jika terjadi kesalahan dalam diagnosis, bisa membawa risiko serius, salah satunya mengonsumsi obat yang tak tepat.

“Mengonsumsi obat sembarangan atau mencoba metode pengobatan yang tidak direkomendasikan, dapat meningkatkan risiko kondisi kesehatan yang lebih parah,” ujar dia.

Di sisi lain, Choudhary menyarankan, untuk menghentikan bahaya diagnosis diri sendiri, para profesional kesehatan mental harus bertemu dengan pihak platform media sosial. Bagi Choudhary, perusahaan media sosial dengan konten yang dihasilkan penggunanya, punya tangung jawab untuk membuat batasan, yang memastikan informasi yang telah terverifikasi secara klinis dan akurat dapat diakses siapa pun yang mencari konten tentang kesehatan mental.

Perusahaan media sosial pun dapat membuat semacam syarat untuk pembuat konten yang memonetisasi platform mereka, dengan menghubungkan pengikutnya ke sumber-sumber yang tepercaya terkait setiap unggahan mereka tentang kesehatan mental.

“Sebagai contoh, jika Anda memasukkan istilah pencarian ‘depresi’ atau ‘bunuh diri’ di Instagram, Anda akan diberikan daftar sumber-sumber kesehatan mental,” tulis Choudhary di US News.

img
Maulida Alfi Syahrani
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan