Banyak orang mengira bahwa otot tubuh akan berubah menjadi lemak jika seseorang berhenti berolahraga atau vakum pergi ke gym dalam jangka waktu tertentu. Namun, secara ilmu biologi dan fisiologi tubuh manusia, klaim tersebut ternyata sama sekali tidak benar.
Profesor Leigh Breen, seorang pakar fisiologi otot dari University of Leicester, melalui The Guardian (12/10/2026) menegaskan bahwa tidak ada proses di dalam tubuh manusia yang menghubungkan kedua jenis jaringan tersebut secara langsung.
Pengaruh Otot dan Lemak
Otot dan lemak adalah dua jenis jaringan tubuh yang sepenuhnya berbeda. Di dalam tubuh tidak ada mekanisme biologis yang memungkinkan jaringan otot berubah menjadi lemak, begitu pula sebaliknya.
Kebingungan ini biasanya muncul akibat asumsi yang keliru terhadap apa yang terjadi pada tubuh saat seseorang berhenti aktif bergerak, khususnya setelah rutin melakukan latihan beban.
Dan sebenarnya, ketika seseorang berhenti berolahraga, massa otot yang sebelumnya terbentuk secara perlahan akan mengalami penyusutan atau atrofi karena tidak mendapatkan stimulus yang cukup.
Dampak dari jeda latihan ini sangat bervariasi tergantung pada tingkat aktivitas harian seseorang. Jika seseorang hanya mengambil libur latihan selama beberapa minggu, namun tetap menjaga mobilitas fisik, perubahan komposisi tubuh yang terjadi biasanya tidak terlalu signifikan.
Pola konsumsi makanan selama masa istirahat latihan juga memegang peran krusial dalam mengontrol perubahan massa tubuh. Karena itu, pakar menyarankan untuk menjaga asupan protein dan kalori untuk menyesuaikan dengan aktivitas fisik yang sedang menurun.
Kekurangan kecil pada otot dan lemak merupakan hal yang wajar terjadi dalam dinamika tubuh manusia, asalkan pola hidup sehat dan konsistensi olahraga secara keseluruhan tetap dijaga dalam jangka panjang.