Berolahraga saat puasa tetap bisa dilakukan tanpa membuat tubuh lemas. Aktivitas seperti jalan kaki, yoga, maupun lari ringan justru membantu menjaga kebugaran selama Ramadan, asalkan dilakukan dengan pengaturan waktu dan intensitas yang tepat.
Meski asupan makanan dan minuman terbatas dari fajar hingga magrib, tubuh tetap membutuhkan gerak agar metabolisme berjalan seimbang. Dengan memilih waktu yang sesuai serta durasi yang tidak berlebihan, olahraga tetap aman dilakukan tanpa mengganggu ibadah maupun aktivitas harian.
Berikut panduan waktu terbaik, durasi ideal, dan tips aman berolahraga selama bulan puasa agar tubuh tetap fit dan terjaga, dilansir dari Svarga, Jumat (20/2)
Waktu terbaik untuk lari saat puasa
1. Menjelang berbuka
Waktu ini sering dipilih karena tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Olahraga ringan hingga sedang membantu pembakaran lemak tanpa membuat tubuh terlalu lelah.
Setelah selesai berolahraga, tubuh bisa segera mendapatkan asupan cairan dan makanan saat berbuka sehingga risiko dehidrasi lebih terkendali. Namun, penting untuk tetap memperhatikan kondisi tubuh. Jika muncul pusing atau kelelahan berlebihan, latihan sebaiknya dihentikan.
2. Setelah berbuka
Berolahraga setelah berbuka menjadi pilihan aman karena tubuh sudah memperoleh asupan cairan dan energi awal. Intensitas dapat dijaga pada tingkat sedang agar latihan tetap efektif tanpa membebani tubuh. Pastikan memberi jeda satu hingga dua jam setelah makan agar proses pencernaan tidak terganggu saat berlari.
3. Malam hari
Bagi pekerja atau pelajar dengan jadwal padat, malam hari bisa menjadi alternatif. Tubuh umumnya sudah terhidrasi dan memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas. Meski demikian, waktu istirahat tetap harus diperhatikan. Hindari tidur terlalu larut agar proses pemulihan tubuh berjalan optimal.
4. Olahraga setelah sahur
Melansir Halo Sehat, Selain menjelang berbuka dan setelah makan malam, olahraga juga bisa dilakukan setelah sahur. Pada waktu ini, tubuh baru saja mendapatkan asupan makanan dan cairan sehingga cadangan energi masih cukup tersedia untuk beraktivitas fisik.
Sejumlah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Fasting and Health menunjukkan bahwa performa olahraga cenderung lebih optimal pada pagi hari setelah sahur maupun pada malam hari setelah berbuka. Kondisi tersebut terjadi karena tubuh memiliki energi dan hidrasi yang lebih baik dibandingkan saat siang hari.
Durasi dan intensitas yang disarankan
1. Durasi ideal 20–45 menit
Untuk pemula, olahraga dengan durasi 20 hingga 45 menit sudah cukup untuk melatih jantung dan menjaga kebugaran tanpa menyebabkan kehilangan cairan berlebihan.
Disarankan memulai dengan durasi singkat, kemudian meningkatkannya secara bertahap sesuai kemampuan tubuh. Konsistensi lebih penting dibandingkan mengejar jarak atau kecepatan.
2. Intensitas ringan hingga sedang
Intensitas ringan hingga sedang merupakan pilihan paling aman saat berpuasa. Patokan sederhananya adalah tetap bisa berbicara meski sedikit terengah saat berlari.
Memaksakan tempo tinggi saat tubuh kekurangan cairan berisiko memicu pusing dan kelelahan. Tujuan utama olahraga saat puasa adalah menjaga kebugaran, bukan mengejar performa maksimal.
Dengan pengaturan waktu, durasi, dan intensitas yang tepat, lari saat puasa dapat dilakukan secara aman dan tetap memberikan manfaat bagi kesehatan.