sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dilema melestarikan ondel-ondel pengamen

“Yang menindak sejauh ini Dinas Sosial karena dianggap menganggu ketertiban, sesuai dengan Perda Ketertiban Umum."

Akbar Persada Nanda Aria Putra
Akbar Persada | Nanda Aria Putra Jumat, 22 Feb 2019 22:58 WIB
 Dilema melestarikan ondel-ondel pengamen
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 130718
Dirawat 39017
Meninggal 5903
Sembuh 85798

Ondel-ondel yang mengamen di jalan-jalan Jakarta sudah sangat lumrah ditemui. Biasanya, boneka besar itu menari-nari mengikuti irama lagu Betawi dari kaset di gerobak kecil yang didorong.

Satu-dua orang di antara mereka menarik uang dari orang-orang di sekitar jalan yang penuh kemacetan, memanfaatkan bekas bungkus permen, ember kecil, atau kaleng sebagai wadah. Ada orang yang terganggu ada pula yang tak peduli dengan kehadiran mereka.

Pengamen itu datang dari berbagai sanggar ondel-ondel yang ada di sekitar Jakarta. Salah satunya berasal dari Jalan Kembang Pacar, Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat.

Sanggar ondel-ondel

Orang-orang menyebut daerah ini sebagai kampung ondel-ondel. Sejak awal 1980-an, di Kramat Pulo berdiri beberapa sanggar dan tempat membuat ondel-ondel. Salah satu sanggar ondel-ondel yang ada di sini bernama Respal. Pengelolanya Agus Hermawan.

“Respal itu kepanjangannya Resos dan Palaksi. Dua nama sanggar di dua kampung yang dilebur jadi satu,” kata Agus saat ditemui di Sanggar Respal, Jumat (22/2).

Sanggar ini masih terbilang baru. Agus mengatakan, Respal berdiri pada 2010. Mulanya, kata Agus, ia mendirikan sanggar ini karena permintaan pemuda di sekitar Kramat Pulo yang tertarik mencoba ondel-ondel.

“Ada anak kampung sini yang tertarik. Tapi, saya bilang, bener mau narik (ngamen) enggak? Akhirnya dicoba beli satu, lengkap sama alat musiknya,” ujar Agus.

Sponsored

Ketika mulai membuka sanggar, Agus belum membuat ondel-ondel sendiri. Ia masih membeli semua peralatan untuk ngamen. Uang Rp10 juta ia habiskan untuk membeli seluruh perlengkapan mengamen yang dibutuhkan, termasuk sepasang ondel-ondel.

“Lama-kelamaan kita mulai bisa bikin rangka, kedok, dan baju (ondel-ondel) sendiri,” tuturnya.

Kini, sanggar yang dimiliki Agus punya 15 ondel-ondel dan 60 remaja anggota sanggar yang siap keliling mengamen. Sebanyak 60 anggota sanggar dipecah beberapa kelompok untuk mengamen. Sekali jalan, dibutuhkan empat hingga 12 orang, tergantung perlengkapan yang dibawa.

Pengamen ondel-ondel biasa menyewa angkutan kota ke titik mereka mengamen. (Alinea.id/Nanda Aria Putra).

“Kalau full pakai alat musik, kayak gendang, keneng, tehyan, kempul, dan gong itu bisa sepuluh sampai 12 orang. Tapi kalau musiknya pakai USB, cukup empat orang aja,” katanya.

Sekali jalan mengamen, dengan anggota empat orang, mereka bisa mengantongi Rp800.000. Nominal tersebut didapatkan setelah dipotong ongkos angkutan kota pulang-pergi Rp200.000.

Masing-masing anggota mendapatkan Rp100.000. Mereka pun harus menyetor kepada Agus Rp120.000 jika membawa alat musik lengkap, dan Rp50.000 untuk USB berisi musik.

Jam berkeliling dimulai pukul 15.00 hingga 22.00. Jarak tempuh berjalan kaki mengamen, rata-rata sejauh 8 kilometer. Wilayah jangkauan dibagi di beberapa titik Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur.

Rangga, Ucup, dan Aulia merupakan anggota Sanggar Respal. Ucup bergabung dengan Sanggar Respal sudah lima tahun. Bersama Aulia, ia tergolong senior di sanggar itu. Sedangkan Rangga, baru bergabung dua tahun lalu.

Menurut Agus, Rangga dan keluarganya adalah orang yang memulai bermain tehyan di kampungnya. Suatu keahlian yang telah didapatnya secara turun-temurun. Perkara di lapangan saat mengamen, semua kebagian tugas.

“Gantian aja, kadang nandak (menggendong ondel-ondel), kadang dorong gerobak, kadang ngolek (minta duit),” kata Ucup.

Berita Lainnya