sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Eksistensi semu Tik Tok dan fenomena hiperrealitas

Fenomena penggunaan Tik Tok tersebut menciptakan kondisi hiperrealitas yang jamak dijumpai di internet.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 28 Jun 2018 11:52 WIB
Eksistensi semu Tik Tok dan fenomena hiperrealitas

Aplikasi sinkronisasi bibir (lip-sync) lagu Tik-tok sedang mendapatkan ketenarannya saat ini. Aplikasi ini telah diunduh oleh lebih dari 50 juta pengguna di Google Play. Bahkan menjadi aplikasi terpopuler nomor dua di Google Play Indonesia dan menjadi salah satu aplikasi yang paling cepat pertumbuhannya. 

Sebenarnya, aplikasi ini menggabungkan musik dan sosial media, sama seperti aplikasi musical.ly yang telah lebih dulu hadir. Tik Tok diluncurkan pada bulan September 2017 oleh Zhang Yiming. 

Aplikasi asal China ini memungkinkan penggunanya untuk membuat video musik pendek mereka sendiri dengan pengguna sebagai bintangnya. Di tempat asalnya, China, pengguna aktif Tik Tok telah mencapai angka 150 juta orang.

Kemudian kepopulerannya merambah di sejumlah negara seperti: Hong Kong, Jepang, dan Asia Tenggara. South China Morning Post menyebut pengguna Tik Tok berasal dari generasi Z. Mengapa Tik Tok menarik perhatian generasi Z? Jawabannya, proses penyuntingan video di Tik Tok membantu kreatornya mencipta dan membagi video mereka dengan mudah.  

Sayangnya, belakangan aplikasi ini kini lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. South China Morning Post (SCMP) melaporkan bahwa pengguna Tik Tok adalah anak-anak yang berada di bawah umur 16 tahun. Seorang bocah sekolah dasar yang diwawancarai SCMP mengaku Tik Tok telah mengubah dirinya.

Anak tersebut menyebut begitu populernya Tik Tok sebab ada 20 teman kelasnya dan adiknya yang masih berumur 9 tahun menggunakan aplikasi tersebut. Kini, ia merasa dirinya seperti seorang selebriti ketika ia dikenal oleh orang-orang saat berjalan-jalan setelah mengunggah video di Tik Tok.

Tak hanya di negara asalnya, di Indonesia aplikasi ini tengah mencapai puncak ketenarannya. Dari pantauan Alinea.id banyak kreatornya yang merupakan remaja dan anak-anak, sama seperti di China. Selain itu, banyak video Tik Tok yang juga menampilkan anak-anak.

Salah satu kreator di Tik Tok yang banyak menarik perhatian warganet adalah Nurrani_r. Ia terkenal berkat video viralnya yang menggoda Iqbaal Ramadhan, selebriti tanah air, dan pengakuannya sebagai ‘istri sah Iqbaal’ di laman Instagramnya yang banyak memancing komentar warganet.

Sponsored

Selain Nurrani_r, ada pula video Tik Tok yang menjadi bahan omongan warganet karena konten yang tak semestinya. Seorang kreator Tik Tok menggunggah video dirinya yang sedang melakukan lip sync lagu di depan jenazah kakeknya yang terbujur kaku. Perbuatan tersebut memancing banyak reaksi kemarahan dari warganet karena dianggap tak pantas.

Demi eksistensi 

Keinginan-keinginan kreator Tik Tok untuk menjadi populer dan diketahui banyak orang bak selebritis menunjukkan keinginan untuk mendapatkan eksistensi yang melampaui esensi. Konsep eksistensi yang melampaui esensi ini dicetuskan oleh Jean Paul Sartre, seorang filsuf aliran eksistensialis asal Prancis.

Manusia, menurut Sartre, ibarat sebuah buku tulis kosong yang sepanjang hidupnya menyusun sebuah buku yang menuliskan kisah-kisah dirinya. Sartre melihat manusia memiliki kebebasan untuk menentukan siapa dirinya.  

Sartre bahkan mengatakan jika manusia pada dasarnya dikutuk untuk bebas. Eksistensialisme menolak anggapan adanya patokan moral bersama yang membelenggu manusia dari kebebasan dirinya. Dalam eksistensialisme, dasar utama untuk membuat keputusan haruslah datang dari manusia itu sendiri.

Kehadiran media komunikasi massa seperti televisi dan internet, membuat orang beramai-ramai mengidentifikasikan diri dengan artis-artis idolanya, dengan karakter yang diproduksi sinetron dan film. Melalui modus konsumsi, manusia berupaya mengasimilasi makna yang melekat erat di balik materi atau gaya hidup tertentu.

Penggunaan media sosial sebagai alat eksistensi merupakan pola komunikasi yang galib terjadi pada masyarakat dewasa ini. Internet tidak lagi hanya digunakan sebagai sumber mencari informasi dan berita.

Kesadaran dan makna diri yang diciptakan tersebut kemudian menjadi manipulatif karena lahir sebagai produk dari kuasa struktur sosial tertentu. Dalam kasus Tik Tok, makna menjadi manusia telah disempitkan menjadi sebatas pencitraan agar viral dan terkenal, seperti dalam kasus bocah China di atas.

Fenomena penggunaan Tik Tok tersebut menciptakan kondisi hiperrealitas yang jamak dijumpai di internet. Hiperrealitas merupakan sebuah ungkapan yang dikonsepkan oleh Jean Baudrillard. Secara harfiah hiperrealitas bisa dimaknai sebagai sebuah kondisi yang melampaui realitas. Hiperrealitas sering kita jumpai dalam tayangan-tayangan reality show di televisi, ketika kenyataan dan fiksi menjadi buram.

Sementara itu, menurut Yasraf Amir Piliang di bukunya Hipersemiotika, dalam hiperrealitas kepalsuan berbaur dengan keaslian, masa lalu berbaur dengan masa kini, fakta bersimpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dan dusta bersenyawa dengan kebenaran.

Dunia hiperrealitas dapat dipandang sebagai sebuah dunia perekayasaan realitas lewat permainan tanda yang melampaui kenyataan sehingga tanda-tanda tersebut kehilangan kontak dengan realitas yang ditampilkan ulang.

Tak jauh berbeda dengan tayangan reality show di televisi, penggunaan aplikasi Tik Tok juga mengaburkan realita itu sendiri. Kenyataan direkayasa sedemikian rupa di Tik Tok sehingga hanya menjadi citra dan kehilangan kontak dengan realitas.

Privasi anak diabaikan

Masih berkaca di China, salah satu keluhan yang banyak dilayangkan oleh warganet pada aplikasi Tik Tok adalah hak privasi anak. Anak-anak sendiri tidak akan mengerti apa dan bagaimana dampak yang akan ditimbulkan jika mereka membagi informasi mereka di internet.


Salah satu video yang ada di aplikasi Tik Tok./Youtube

Privasi anak dalam dunia digital ini pun ironisnya dibuka sendiri oleh orang tua mereka. Hal-hal yang dibagikan di Tik Tok akan menjadi konsumsi publik yang luas jika saja video mereka tidak dibuat privat. Alinea.id menemukan banyak video-video yang ada di Tik Tok menampilkan anak-anak di bawah umur, bahkan beberapa di antaranya menampilkan bayi.

Anak-anak, menurut Stacey B. Steinberg dalam penelitiannya yang berjudul Sharenting: Children’s Privacy in the Age of Social Media mengatakan jika anak-anak belum bisa mengontrol penyebarluasan privasi mereka yang dilakukan oleh orang tua mereka. Hal ini akan berbeda dengan remaja dan orang dewasa yang bisa beradu argument ketika mereka tidak setuju privasi mereka disebarkan.

Yang mesti dipahami oleh orang tua, informasi yang tersebar di internet memiliki potensi untuk meninggalkan jejak digital yang tak akan hilang. Hal ini tentu akan berakibat buruk bagi anak ketika mereka sudah remaja atau dewasa nanti jika orang tua mereka membagikan konten yang memalukan tentang mereka.

Video-video yang dibagikan di Tik Tok akan dengan mudah diunduh oleh orang lain dan dibagikan lagi di platform lain seperti YouTube atau Instagram. Tentu hal tersebut akan menjadi masalah ketika hal-hal yang memalukan disebarkan di Tik Tok.

Tidak seperti akun-akun sosial media lainnya, tidak ada pilihan mudah untuk menghapus akun Tik Tok bagi penggunanya. Pengguna harus membuat permintaan dan mengisi informasi secara detail jika ingin menghapus akunnya.

Dalam terms of service -nya, Tik Tok mengatakan aplikasi mereka tidak ditujukan untuk anak-anak berusia di bawah 16 tahun. Namun, siapa yang bisa menjamin jika anak-anak tidak memalsukan usia mereka di Tik Tok?