sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Film-film edukatif tentang bahaya korupsi yang jarang diketahui

Terdapat sejumlah karya film Indonesia yang mengedukasi bahaya laten korupsi.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Minggu, 15 Sep 2019 09:31 WIB
Film-film edukatif tentang bahaya korupsi yang jarang diketahui

Dewan Perwakilan Rakyat sudah memilih lima orang pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2019–2023, Jumat dini hari (13/9) lalu. Banyak lembaga sosial dan kelompok masyarakat memprotes hasil itu dan menyuarakan keprihatinannya. Terlebih Wakil Ketua KPK Saut Situmorang lantas mengundurkan diri beberapa jam setelah terpilihnya Firli Bahuri sebagai Ketua KPK baru.

Pemilihan Firli diwarnai pandangan miring dengan dugaan keputusan itu untuk melindungi kepentingan anggota DPR, selain melumpuhkan peran KPK. Upaya pelemahan KPK tampak makin mulus seiring pembahasan revisi UU KPK di parlemen.

Padahal, seperti dikatakan Novel Baswedan, peran KPK sangat urgen sebagai gerbang utama pencegahan kerugian lebih besar bagi bangsa.

“Korupsi adalah salah satu masalah yang besar karena dapat menghambat kesejahteraan masyarakat ataupun menimbulkan kerusakan lingkungan,” kata Novel, dalam wawancara eksklusif dengan Alinea.id di rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (10/4) silam.

Demonstrasi pro-kontra terhadap nasib KPK pun berujung ricuh di halaman kantor KPK Gedung Merah Putih, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat sore (13/9). Dalam keriuhan pelemahan KPK yang seakan tak kunjung surut, terdapat sejumlah karya film Indonesia yang mengedukasi bahaya laten korupsi. Lewat film-film berikut kita bisa berefleksi tentang bahaya korupsi yang dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari.

Kita Versus Korupsi (2012)

Terdiri dari empat film pendek yang dibuat sebagai bentuk kampanye anti korupsi./traxonsky.com

Film Kita Versus Korupsi terdiri atas empat film pendek yang menggambarkan persoalan korupsi dengan latar cerita yang beragam. Keempat film ini adalah:

Sponsored

a)   Rumah Perkara

Berkisah tentang seorang lurah bernama Yatna (diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana) yang setuju tanah di wilayahnya dijual kepada seorang kontraktor. Namun, polemik muncul karena seorang janda warga setempat yang tidak sudi tanahnya dibeli, apalagi bila harus pindah dari tanah tempat tinggalnya.

b)     Selamat Siang, Risa!

Dengan latar era Orde Baru, sebuah keluarga miskin dengan seorang ayah (Tora Sudiro) yang berusaha hidup jujur di tengah rekan sejawatnya yang banyak berkorupsi.

c)      Pssstt… Jangan Bilang Siapa-Siapa

Berlatar kegiatan belajar-mengajar di sebuah sekolah menengah, film ini mengisahkan seorang murid yang membongkar praktik korupsi yang dilakukan seorang guru dengan modus menjual buku pelajaran dengan harga lebih mahal daripada di toko buku. Film ini disutradarai oleh aktor Sha Ine Febriyanti dan melibatkan sejumlah pemain remaja dengan kemasan menghibur, smeisal menggunakan teknik vlog.

d)     Aku Padamu

Sepasang kekasih hendak menikah di luar sepengetahuan kedua orangtua mereka. Rencana itu terhalang ulah seorang calo di Kantor Urusan Agama yang meminta bayaran lebih sebagai timbal-balik jasa. Akting Revalina S. Temat dan  Nicholas Saputra sebagai sepasang kekasih yang berjuang melawan kebiasaan korupsi sangat mencuri perhatian. Cerita film ini menekankan bahwa bahaya korupsi dapat dicegah sejak dini dari lingkup terkecil, yaitu keluarga.

Film Kita Versus Korupsi diproduseri oleh Teten Masduki, Busyro Muqoddas, Juhanni Grossman, dan M. Abduh Aziz (alm.) yang ditujukan sebagai pendidikan masalah korupsi di sekolah-sekolah. Sebagai sebuah kumpulan atau omnibus film pendek, Kita Versus Korupsi dapat disaksikan melalui saluran tontonan digital pada kanal Youtube KPK.

Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014)

Film SPTK sarat dengan pesan moral agar kita bersikap jujur dan bersih./iradiofm.com

Rumah produksi Cangkir Kopi memproduksi film panjang bertema korupsi yang berjudul Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014). Film ini secara lantang menggambarkan wabah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) berangkat dari ruang lingkup keluarga. Karya film ini hadir bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam menyosialisasikan pendidikan antikorupsi.

Sepanjang 100 menit, Sebelum Pagi Terulang Kembali secara komprehensif mengupas tindak-tanduk perilaku korupsi yang dilakukan anggota dalam sebuah keluarga. Struktur tiga babak diterapkan dengan tepat sebagai pola umum pengisahan film-film cerita keluarga. Cara ini pun efektif membumikan isu korupsi kepada publik.

Dalam film ini, terungkap beberapa bentuk tindak pidana korupsi, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Lambat-laun, perilaku korupsi itu dengan jelas menggerogoti keharmonisan keluarga.

Film yang disutradarai oleh Lasja F Susatyo ini sempat diputar di bioskop-bioskop. Beberapa aktor dan figur publik yang terlibat di film ini antara lain adalah Alex Komang (alm.), Nungki Kusumastuti, Ringgo Agus Rahman, Teuku Rifnu Wikana, Adinia Wirasti, dan Maria Oentoe, dan Arswendi Bening Swara.

Menolak Diam (2017)

Film ini merupakan kolaborasi antara Transparency International Indonesia dan Night Bus Pictures didukung oleh Keduataan Denmark di Indonesia.

Sementara itu, Transparency International Indonesia berkolaborasi dengan Night Bus Pictures menghasilkan karya film berjudul Menolak Diam!. Film pendek berdurasi 41 menit ini diinspirasi dari kisah nyata yang dialami Dermawan Bakrie, seorang pelajar sebuah SMA negeri di Solo. Emil Herradi bertindak sebagai sutradara, sedangkan aktor Teuku Rifnu Wikana sebagai pelatih akting.

Menurut Teuku Rifnu Wikana yang turut menggagas produksi film ini, kisah nyata itu didapatinya secara langsung setelah berbincang langsung dengan Dermawan Bakrie.

“Waktu itu saya dan Emil (Herradi) ketemu dia (Dermawan Bakrie) langsung di Solo. Tadinya mau dibikin film panjang,” kata Rifnu yang ditemui di kedai Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (14/9).

Rifnu mengungkapkan, kisah nyata pelanggaran berupa tindak korupsi di sebuah SMA di Solo itu bermula dari sebuah pengumuman di majalah dinding sekolah. Bunyi pengumuman itu adalah tidak ada penyelenggaraan wisuda sebagai tanda kelulusan murid. Ini merupakan hal yang janggal sebab para siswa sudah banyak membayarkan uang sekolah.

Dalam film ini, lantas diceritakan upaya seorang siswa kelas XII bernama Alif setelah menemukan kejanggalan dalam pengelolaan keuangan sekolahnya. Bersama beberapa sahabatnya, Alif mencoba membongkar dugaan penyimpangan itu. Namun, dia harus berhadapan dengan serangkaian intimidasi di tengah persiapan mereka menghadapi Ujian Nasional.

“Kisah itu memang harus diangkat, supaya pelaku korupsinya tidak bertindak sembarangan,” ucap Rifnu.