logo alinea.id logo alinea.id

Friend Zone: Humor dan cinta sepasang sahabat

Kisah cinta pelik antara sepasang sahabat, Gink dan Palm. Secara sinematografi, film ini baik. Akting kedua tokoh utama memukau.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Sabtu, 23 Mar 2019 12:00 WIB
Friend Zone: Humor dan cinta sepasang sahabat

Gink (Pimchanok Leuwisetpaiboon) merasa sangat sedih. Ayah yang begitu ia cintai, yang selalu mengantarkannya setiap berangkat ke sekolah, ternyata memiliki selingkuhan.

Fakta ini ia ketahui setelah dirinya dan sahabat prianya Palm (Naphat Siangsomboon), membuntuti sang ayah ke sebuah hotel di kota sebelah. Menyadari sang ayah berada di kamar hotel dengan seorang perempuan yang bukan ibunya, Gink pulang dengan perasaan hancur.

Di dalam pesawat menuju pulang, Palm sebagai satu-satunya orang yang berada di dekat Gink berusaha menenangkan. Ia memeluknya sembari mengatakan ia menyayangi Gink. Mendengar pernyataan Palm, Gink menuntut penjelasan.

“Rasa sayang yang seperti apa?” tanya Gink.

Palm yang tak siap dengan pertanyaan yang datang tiba-tiba itu, gelagapan. Dengan diplomatis, ia menjawab rasa sayang yang ia maksud rasa sayang sebagai teman.

“Bukankah menjadi teman itu cukup?” katanya.

Gink yang sedang terpuruk, seperti kena dua kali tamparan. Sedih, ia hanya membenamkan kepalanya ke dalam selimut.

Antara persahabatan dan cinta

Sponsored

Naphat Siangsomboon dan Pimchanok Leuwisetpaiboon dalam Friend Zone (2019). /Imdb.com.

Adegan tersebut menjadi pembuka film Friend Zone garapan sutradara Chayanop Boonprakob, produksi GDH 559. Sebuah adegan yang turut mengawali kisah yang dialami Palm selama 10 tahun persahabatannya dengan Gink.

Film Thailand bergenre drama komedi yang mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada 20 Maret 2019 ini dibangun dengan alur cerita maju-mundur. Sebuah alur yang juga turut menggambarkan dinamika hubungan persahabatan yang terbangun antara Palm dan Gink.

Alur cerita lantas bergerak maju ke masa di mana mereka berdua telah lulus sekolah dan memiliki pekerjaan masing-masing. Palm diceritakan bekerja sebagai seorang pramugara di salah satu maskapai penerbangan, dan menjalin hubungan dengan beberapa perempuan.

Sementara Gink bekerja di perusahaan rekaman, dan menjalin hubungan dengan produser rekaman di perusahaan tersebut. Produser rekaman itu bernama Ted (Jason Young).

Hubungan Gink dengan Ted menjadi sorotan khusus di film ini, seperti perselingkuhan dan pengkhianatan. Sedangkan hubungan cinta antara Palm dan perempuannya tak diberi porsi yang terlalu banyak.

Drama perselingkuhan ini yang kerap menghadirkan Palm di sisi Gink, sebagai sahabat yang acapkali setia menemani.

Palm selalu peduli dengan apa yang dialami Gink. Seperti halnya kisah persahabatan yang banyak diangkat di kisah fiksi. Palm memiliki rasa yang tak biasa kepada Gink. Namun, perasaan itu ia kubur dalam-dalam.

Selain takut kehilangan sahabat yang paling disayanginya, kejadian di pesawat beberapa tahun sebelumnya saat ia mengatakan, “bukankah menjadi teman itu cukup?” selalu diulang-ulang Gink di momen-momen ketika komunikasi di antara mereka terjalin semakin dekat.

Kata yang pada akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, dan mengantarkannya pada sebuah jebakan hubungan pertemanan yang ganjil selama sepuluh tahun.

Humor yang asyik

Film ini dipenuhi adegan konyol yang mengocok perut penonton. /Imdb.com.

Sepanjang narasi film penonton akan disajikan dengan humor segar, selain adegan romantis dan haru. Humor yang mampu membuat penontonnya terpingkal-pingkal—atau setidaknya tertawa kecil.

Misalnya, adegan ketika Gink sedang merasa sedih karena memergoki Ted selingkuh. Saat itu, Palm dan Gink sedang berada di dalam bus tingkat dengan atap yang menganga. Gink yang menangis sesenggukan di sebelah Palm, tiba-tiba melompat dan bergelayutan ke papan jalan sembari teriak-teriak.

Contoh lain, saat Palm bercerita soal pengalaman friendzone-nya ke teman-temannya, yang juga mengalami nasib sama di sebuah acara, yang ternyata adalah acara lamarannya dengan Gink.

Adegan lainnya menampilkan Palm dan Gink yang tengah berboncengan sepeda motor, tiba-tiba diserang segerombolan kera.

Usai berhasil lolos dari amukan kera-kera tersebut, Gink tiba-tiba sakit perut dan buang air besar di antara pepohonan dan semak belukar pinggiran jalan. Konyolnya, kera-kera itu tak pergi, malah asyik mengintip Gink yang sedang buang air besar.

Humor yang disajikan sang sutradara terbilang baik, tak mengesankan lawakan receh. Hanya saja, film berdurasi satu jam 58 menit ini menampilkan ide cerita yang terus didaur ulang alias klise. Yang menjadi pembeda hanya penyajiannya humornya saja.

Film Thailand yang menyajikan banyak adegan menarik dan lucu.

Secara sinematografi, film ini terbilang baik. Adegan-adegan yang membutuhkan pengambilan gambar yang baik, untuk mendukung ide cerita juga dilakukan dengan ciamik. Sepanjang film mata penonton akan dimanjakan dengan beragam lokasi menarik, seperti di Bangkok, Chiang Mai, Krabi, Malaysia, Hong Kong, dan Myanmar.

Selain itu, akting kedua tokoh utama ini juga memukau. Karakter Gink yang ekspresif, sendu, dan agak konyol dapat diperankan dengan baik oleh Pimchanok Leuwisetpaiboon. Sekadar informasi, Pimchanok adalah pemenang Won Top Award 2010 kategori Best Film Rising atas perannya di film Sing Lek Lek Tee Riek Wa Ruk (2010).

Sedangkan karakter Palm yang penyabar dan kalem juga dapat diperankan dengan baik oleh Naphat Siangsomboon lewat raut wajah dan ekspresinya. Aktor sekaligus model dari Negeri Gajah Putih ini mengawali kariernya di layar lebar lewat film Rak Kan Panlawan (2017).

starstarstarstarstar3

Humor yang disajikan menghibur. Meski klise, ide cerita disajikan dengan baik.