logo alinea.id logo alinea.id

Kopi rasa alkohol, strategi bertahan bisnis kedai kopi

Mencicip kopi dengan citra rasa beralkohol tidak lantas membuat mabuk. Sebaliknya memberikan rasa semangat peminumnya.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Senin, 29 Jul 2019 07:00 WIB
Kopi rasa alkohol, strategi bertahan bisnis kedai kopi

Hidup bersosial di perkotaan tidak lepas dengan nongkrong di kedai kopi. Kebiasaan minum kopi pun menjadi gaya hidup penduduk dengan kalangan milenial sebagai konsumen utamanya. 

Sejak matahari terbit sampai malam datang, kedai kopi seakan tidak pernah istirahat. Selalu ada kesibukan di dalamnya yang berasal dari barista, pegawai kedai hingga para pengunjung yang ingin ngopi.  
 
Misalnya saja di sebuah kedai kopi di kawasan Granad Square, Serpong, Tangerang Selatan. Kerumunan terlihat dari sekumpulan pemuda yang duduk mengitari satu meja. 

Satu-dua cangkir kopi terhidang di hadapan mereka, sesuai pesanan masing-masing. Di antara barisan cangkir kopi ada pula satu papan catur dan bidak-bidaknya turut tergelar di situ. 

Yan Dikara, pemilik kedai kopi itu bercerita awal mulanya terjun di bisnis kopi. Ia mendirikan kedai yang dinamai Kararopi pada tahun 2015. 

Kafe tersebut dikemas sebagai tempat nongkrong yang bersisian dengan kios-kios lain di sekitarnya. Pengunjung mulai memadati kedai itu pada malam hari.

“Kami buka dari jam 3 sore. Mulai ramai waktu malam. Tutup jam 11 malam, tapi kadang jam 12 malam baru tutup. Ya, namanya pengunjung nongkrong ‘kan susah dipastikan waktunya,” kata Yan Dikara.

Suasana Kedai Kararopi pada malam hari yang makin ramai.Alinea/Roni

Yan mengatakan, bisnis kedai kopi dia jalankan lewat pembelajaran secara semi-otodidak. Dia mula-mula mengikuti kursus barista singkat selama lima hari pada awal 2015 yang diadakan oleh Università del caffè, sebuah divisi pendidikan barista dari salah satu kedai kopi di Jakarta. 

Setelah itu, pengetahuan, teknik, dan keterampilan mengolah minuman kopi dia kembangkan secara mandiri. Nama Kararopi dipilih Yan dengan meminjam tuturan khas masyarakat Sunda di sekitar Bogor saat menjajakan panganan.

“Kalau perjalanan ke Bogor, di bis gue sering dengar penjual tahu, ‘Tararahu, tararahu’, atau ‘Kararacang, kararacang’. Gue milih kararopi, kararopi,” ucap lelaki keturunan Jawa-Sunda ini. 

Hingga kini, Kararopi menjadi bisnis kedai kopi yang menawarkan beragam menu kopi. Penikmatnya dari beragam kalangan, sebagian besar mahasiswa dan pekerja kantoran. 

Kedai kopi yang melayani pesanan kopi secara take away juga tidak kalah ramainya. Kedai kopi yang berlokasi sekitar 200 meter ke arah selatan dari gedung DPR-MPR RI, Senayan, Jakarta terlihat ramai dengan ruangan berukuran sempit berukuran 3 x 4 meter. 

Dua pelayan kedai Kopi Soe melayani konsumen yang umumnya memesan via layanan daring. Satu demi satu pengemudi ojek daring datang membeli menu minuman kopi yang dipesan oleh pelanggannya.

Gambaran ini berbeda dari Kararopi yang menyediakan ruang jembar untuk pengunjung nongkrong sambil menikmati kopi. Memang, Kopi Soe cabang Palmerah ditujukan untuk melayani pesanan secara daring, tapi tingkat keramaiannya juga tidak kalah dengan kedai kopi lain. 

“Kita memang melayani buat pemesanan take away,” kata Arif, seorang pelayan kedai Kopi Soe cabang Palmerah, Selasa lalu (16/7). Kopi Soe Palmerah beroperasi pukul 07.00–19.00 WIB. 

Arif mengatakan, dalam sehari ketika akhir pekan atau hari libur, pemesan menu Kopi Soe via layanan daring dapat mencapai 500 cup. Sementara di hari biasa, separuhnya, sekitar 250 cangkir dalam sehari.

Kedai Kopi Soe berdiri pada akhir 2017 dengan dua gerai pertama di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dan Menteng, Jakarta Pusat. Kini, Kopi Soe memiliki puluhan cabang di kota lain, seperti Bogor, Bekasi, Tangerang, hingga Palembang, Surabaya, Banjarmasin, Bandung, dan Batam.

Dalam catatan lembaga riset pasar Euromonitor, pada 2012–2016, terdapat 1.083 gerai kedai kopi di Indonesia. Sebagian besar kedai, baik yang artisan ataupun jejaring, terkonsentrasi di Jakarta.