Rentetan bencana hidrometeorologi kembali terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk tanah longsor besar yang menimpa Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Longsor akibat hujan deras yang berlangsung lama ini mengubur puluhan rumah, menyebabkan korban meninggal, hilang, serta memaksa ratusan warga mengungsi dan menjalani pencarian oleh tim SAR.
Kejadian di Bandung Barat menjadi pengingat kuat bahwa musim hujan, dengan intensitas curah hujan tinggi dari Oktober hingga April, meningkatkan risiko tanah longsor di wilayah perbukitan dan lereng. Longsor dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama saat hujan ekstrem dan tanah jenuh air, sehingga kewaspadaan serta deteksi dini terhadap tanda-tanda alam menjadi kunci penting untuk menekan risiko korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Tanah longsor tidak hanya mengancam keselamatan warga di daerah rawan, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial ekonomi dan akses layanan dasar. Antisipasi bencana memerlukan pahami dan kenali gejala alam, perubahan struktur tanah, serta kondisi lingkungan sekitar.
Berikut lima langkah antisipasi tanah longsor yang perlu diperhatikan masyarakat, dikutip dari Geneverse:
Pantau perubahan lingkungan dan perilaku air
Amati perubahan bentang alam, seperti munculnya rembesan air baru atau bercak tanah basah di area yang biasanya kering. Perubahan cepat pada debit sungai atau aliran air—terutama jika air berubah dari jernih menjadi keruh—bisa menjadi tanda awal pergerakan material tanah.
Perhatikan retakan dan pergerakan tanah
Retakan segar yang semakin melebar di permukaan tanah, jalan, atau trotoar merupakan indikator pergeseran tanah. Permukaan yang tampak “mengembung” terutama di tepi lereng adalah tanda kuat potensi longsor.
Periksa struktur bangunan
Perhatikan tanda struktur yang mulai berubah, seperti pintu atau jendela yang macet untuk pertama kali, serta retakan baru pada dinding, fondasi, atau ubin. Perubahan ini sering kali muncul sebelum tanah longsor mengenai permukiman.
Amati pepohonan, pagar, dan utilitas
Objek-objek seperti pagar, tiang utilitas, dinding penahan tanah, atau pohon yang miring bisa menjadi tanda tanah sedang bergeser. Kondisi miring atau tidak lagi tegak lurus sering kali menunjukkan gerakan massa tanah di bawahnya.
Waspadai suara tidak biasa dan curah hujan
Suara gemuruh tanah, pohon retak, atau batu saling berbenturan bisa menandakan pergeseran material. Saat hujan deras atau berkepanjangan, tetaplah waspada dan pertimbangkan untuk mengungsi jika berada di zona rawan.
Tanda-tanda ini penting diwaspadai bukan hanya di Bandung Barat tetapi juga di kawasan lain yang rawan longsor, terutama setelah serangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi belakangan ini. Mitigasi risiko sejak dini dengan langkah sederhana namun telaten dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana yang dipicu oleh hujan ekstrem.