sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Man on the Moon, mengaburkan batasan fiksi dan nyata

Film "Man on the Moon" (1999) menjungkirbalikkan fiksi dan realitas di dunia. Ini juga kritik atas segala pencitraan yang dilakukan manusia.

Purnama Ayu Rizky
Purnama Ayu Rizky Senin, 16 Apr 2018 15:30 WIB
Man on the Moon, mengaburkan batasan fiksi dan nyata
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Adakah orisinalitas di dunia yang sekompleks ini? Banyak manusia terasing dengan dirinya dan tenggelam dalam dunia citra. Mengunggah gambar diri dengan mode terbaru, persetan dengan rasa tak nyaman, gatal, dan panas, akibat kain yang tak ramah kulit. Menjelajah destinasi eksotis di Nusantara untuk menjejali media sosialnya dengan gambar terbaik, meski tabungan ludes. Lalu mendadak atas nama citra, mengenakan sepatu olahraga merek kaliber dunia demi bisa berpose di stadion ternama.

Jika klaim pemujaan terhadap citra adalah pepesan kosong, maka obat peninggi, pil pelangsing, pemutih badan, jual beli followers media sosial tak akan laku. Faktanya, menurut laporan tahunan yang dikeluarkan We Are Social, persentase masyarakat Indonesia yang membeli barang dan jasa di media daring untuk produk tersebut, selama 2017 mencapai 41% dari total populasi. Jumlah ini meningkat 41% dibanding 2016 yang menyentuh 26% saja.

Fenomena ini dijelaskan filsuf Perancis Jean Baudrillard dalam “Simulacra” (1983). Menurutnya, manusia mendiami ruang realitas, di mana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, yang asli dan palsu sangat tipis. Modernisme yang mewujud dalam budaya pop jadi dalang pengaburan tersebut. Sebab ia menggerogoti budaya tanding dan menjungkirbalikkan realitas.

Identitas manusia pun katanya, mencelat dalam budaya citra, yang dipengaruhi film, iklan, mode, dan komoditi lainnya. Tak peduli berapapun rupiah digelontorkan, asal itu bisa menyokong citra yang dibangun, maka publik cenderung tak peduli.

Adalah Andy Kaufman, komedian asal Negeri Paman Sam yang melepaskan diri dari jerat tipuan pencitraan diri. Ia dilukiskan dalam film bioepic bertajuk “Man on the Moon” (1999) sebagai orang paling orisinil dan terus berihtiar melepaskan diri dari jejaring pasar. Bagi sebagian orang, Kaufman yang diperankan aktor spesialis komedi Jim Carrey ini, sosok gila dan paling subtil. Semua ditabrak demi membuktikan pada publik, ia tak terasing dengan dirinya, kehilangan identitas, atau menghamba pada pasar demi mendulang gelak tawa.

Saat harus menampilkan musim pertama “Saturday Night Live”, ia dengan percaya diri memperagakan aksi “Mighty Mouse” dengan berujar, “Here I come to save the day!” Mengagetkan sekaligus segar, karena kala itu ia betul-betul bisa menyelamatkan dunia lawak dari kejumudan. Saat celoteh yang digulirkan para pelawak stand up comedy hanya berisi repetisi membosankan, lelucon yang itu-itu saja. Kaufman mendobrak semua itu.

Tak heran jika ia bisa dalam satu pertunjukan, membacakan satu novel utuh “Great Gatsby” karya F. Scott Fitzgerald (1925). Tak peduli penontonnya berteriak protes atau memaksanya memainkan karakter yang mereka inginkan sebagai “Latka” laiknya serial komedi televisi “Taxi” yang kerap ia mainkan di paruh 1970-an. Kaufman tak bergeming. Ia tetap membacakan novel tersebut hingga rampung, sampai suaranya serak, dan sebagian penonton yang bertahan di kursi tertidur pulas.

Bagi Kaufman yang terjun ke dunia komedi televisi, ia tak mau membunuh karakternya dengan melakukan peniruan atau mengikuti selera pasar. Lawakannya ganjil, cenderung sakit, bagi sebagian orang di era 1970 hingga 1980-an. Misalnya bergulat dengan perempuan di atas ring, menantang pegulat profesional demi membuat leher patah, atau menciptakan alter ego sosok pengacau bersuara bebek Tony Clifton adalah cara ia berbicara.

Sponsored

Sosok alter ego yang diciptakan Kaufman, Tony Cliffton./ IMDB

Melalui Kaufman, kritik atas yang nyata serta fiksi yang kabur disampaikan. Kaufman membuat produser dan pasar yang menahbiskannya sebagai komoditi, kelabakan. Hal pakem ia tabrak, Kaufman sendiri tak pernah merasa salah atas dirinya, ia dibenci, dicaci, tapi juga dirindukan. Tak jarang ia dipaksa turun dari panggung karena tingkahnya yang memuakkan. Sebab dalam hematnya, dunia yang harus memahaminya, bukan sebaliknya.

Orang tertawa atau terperanjat, jijik, dan reaksi lain tak ia ambil pusing. Orang-orang yang tertawa dianggapnya tak berbeda dengan orang mati (“Those are dead people laughing, you know that, those people are dead!”), sebab semua lawakan sudah sering diulang-ulang. Semuanya.

Kaufman dalam film besutan sutradara Milos Forman ini dideskripsikan sebagai sosok yang semau gue. "Pecah", edan, saya bahkan tak tahu lagi kata yang tepat untuk menggambarkan semua keganjilannya.

Film berdurasi 118 menit tersebut mulanya saya tangkap sebagai kegilaan yang luar biasa. Ya, Andy Kaufman adalah pelawak gila dan terasing. Di tengah film, saya tersentak, ternyata selama ini yang gila adalah saya dan penonton lainnya, Kaufman waras—setidaknya di dalam realitasnya.

Film ini sukses mengusir orang-orang yang terbiasa mengonsumsi budaya pop yang dikonstruksi pasar. Karena mungkin film ini justru hendak menyingkirkan orang-orang yang mengkonsumsi hal-hal sebagaimana konstruksi pasar. Kaufman jelas tak mau jadi Charlie Chaplin yang mengeluh, “What a sad business, being funny.”

Sekali lagi, Kaufman sukses menohok saya dengan gayanya. Dalam kehidupan nyata, ia membuat publik terhenyak karena isu kanker paru-paru menggerogoti dirinya, sehingga ia dikabarkan tewas di usia 38 tahun. Namun hingga kini publik bertanya-tanya, apakah kematiannya juga bagian dari manipulasi? Apakah ia hanya ingin hidup normal sebagai ayah dan suami dari istrinya, yang dalam film diperankan oleh istri mendiang Kurt Cobain, Courtney Love. Lalu sengaja mundur dari dunia hiburan yang sarat hingar bingar. Atau seperti celotehnya, ia akan kembali di suatu hari di sebuah café.

Andy Kaufman lagi-lagi memaksa saya untuk merenung kembali, memilah mana yang nyata dan fiksi. Sebab menyedihkan hidup terasing dalam badan yang sama, namun jiwa ini, entah identitasnya milik siapa. Sama menyedihkannya dengan hidup menjadi budak pasar, pemuja segala hiperealitas di media sosial, atau menipu diri dengan menjadi orang lain. Mengutip pernyataan terkenal novelis Amerika Chuck Palahniuk, “Kita membeli sesuatu yang tak kita butuhkan, dengan uang yang tak kita punya, untuk menyenangkan orang yang tak kita sukai.” Aih, sadis.

Berita Lainnya