logo alinea.id logo alinea.id

A Quiet Place: Sebuah teror dari kesunyian

Keluarga di pinggiran desa New York. Teror kematian. Sunyi. Kurang lebih itulah yang dikisahkan “A Quiet Place”, film ketiga John Krasinski.

Purnama Ayu Rizky Minggu, 08 Apr 2018 14:04 WIB
A Quiet Place: Sebuah teror dari kesunyian

Saya belum pernah membayangkan film horor produksi Hollywood bisa dikemas tanpa suara sama sekali. Pada 1922, saat belantara sinema masih stagnan dalam teknologi bisu, film vampir FW Murnau Nosferatu: “A Symphony of Horror” ditayangkan dengan orkestra mencekam ala Hans Erdmann. Penggunaan suara dan musik untuk membangkitkan ketakutan lantas direpetisi di film-film horor berikutnya, “Psycho (1960), “Halloween” (1978), “Zombie Flesh Eaters” (1979), dan “The Beyond” (1981).

Bahkan saat teknologi scoring film sudah jauh berkembang. Termasuk saat synthesizer ditemukan pada 1970-an dan ’80-an, musik tetap dijadikan modal untuk mencincang adrenalin penonton. Hampir seluruh film horor Amerika, alih-alih menonjolkan karakterisasi hantu dan alien antagonis, justru sibuk mengolah dentuman musik dan efek suara mengerikan. Menurut manajer label Death Waltz Spencer Hickman, dilansir BBC, musik memang selalu membantu film horor membangun suasana hati, ketegangan, dan suasana.

Namun cara ini tak dilakukan Krasinski dalam “A Quiet Place”, yang rilis awal April ini. Itu justru hadir dengan dialog super minim dan tanpa ambiens musik mencekam. Hening. Namun dari situlah kengerian diciptakan.

Terinspirasi dari film summer blockbuster “Jaws” (1975) karya Steven Spielberg, “A Quiet Place” tanpa basa-basi, tanpa eksposisi latar, dibuka lewat tragedi. Mirip seperti “Annabelle” (2017) yang saat durasi film belum berumur lama, langsung menyuguhkan tragedi matinya anak kecil karena dihantam mobil. Demikian dengan film yang langsung lompat ke hari ke-89 pasca serangan monster misterius.

Hari di mana pasangan suami istri Lee (John Krasinski) dan Evelyn (Emily Blunt) beserta ketiga anak mereka, si sulung yang tuna rungu Regan (Millicent Simmonds), Marcus (Noah Jupe), dan anak bungsu Beau (Cade Woodward), menyadari betapa teror sang monster tidak main-main. Beau yang tak tahan dengan kesunyian khas kanak-kanak, mati diterkam monster asing yang entah datang dari mana itu. Penyesalan, kesedihan, dan ketakutan setelah kematian Beau, terus berlanjut menyelimuti film ini hingga akhir.

Film langsung membawa penonton ke hari 472, kala keluarga tersebut masih menjalani hari sambil bersembunyi di pinggiran desa, yang notabene lebih hening dibanding hiruk pikuk kota. Nasib manusia lain tak diketahui, namun diceritakan, monster itu bersebaran memangsa korban di seluruh penjuru dunia, termasuk China dan negara-negara di Eropa.

Sejumlah monster tersebut memang memburu makhluk yang bersuara, mereka bisu tapi punya indera pendengaran super disertai gerakan gesit bak halilintar. Jika ingin selamat, maka diamlah. Begitu pesan yang disuarakan surat kabar setempat.

Sponsored

Salah satu adegan di hutan saat berhimpitan dengan monster pemangsa./ IMDB

Keluarga Lee pun menjalani hari-hari dengan kesunyian, berdialog dengan bahasa isyarat seperti yang biasa mereka terapkan dengan artis tuna rungu pemeran Regan. Berteriak, menangis, kesakitan, tawa, semua dilakukan dalam diam. Sebuah gambaran kondisi yang tak hanya getir namun juga melelahkan. Bahkan untuk menghindari terciptanya suara, mereka terpaksa mengganti piring dengan alas daun dan bertelanjang kaki kemanapun.

Bagian paling menegangkan adalah saat Evelyn harus melahirkan anak, tatkala monster itu berada di dalam rumahnya. Ia harus berjibaku melawan sakit dan takut sendirian. Sementara sang suami pun harus memutar otak agar bayi mereka yang tak bisa langsung masuk dalam dunia sunyi, tak mengundang kehadiran monster ini.

Film yang naskahnya dibuat oleh Bryan Woods dan Scott Beck itu dikemas sedemikian rupa dalam latar pasca apokaliptik. Karena semua keterbatasan di era ini, alhasil pemain harus cerdik memikirkan cara bertahan hidup terbaik. Berburu ikan, mengirim sinyal SOS lewat frekuensi radio di seluruh dunia, tidur di bunker bawah tanah dalam rumah mereka.

Lee adalah sosok bapak yang cerdik, setia, penyayang, namun kelelahan. Evelyn yang di dunia nyata adalah istri Kransinski juga kuat karakternya sebagai ibu yang lembut, terpaksa tegar, dan diliputi penyesalan sebagai orang tua yang sempat gagal melindungi anaknya. Sementara Regan tampil prima sebagai sosok remaja pembangkang yang selalu mempertanyakan cinta kedua orang tuanya.

Sejauh ini, film “A Quiet Place” adalah film horor yang paling saya kagumi. Krasinski tak pernah gagal membangun intensitas dan menyuapi penonton dengan efek kejut. Bahkan sebuah paku yang beberapa kali jadi fokus kamera pun tak pernah gagal memanen kecemasan. Singkatnya, film ini secara teknis memang sengaja dibuat untuk membuat seisi bioskop hening. Bahkan di dekat saya, seorang penonton yang makan popcorn pun harus mengunyah pelan agar tidak “mengganggu” penonton lain. Sebuah film yang begitu kuat menyugesti pemirsanya.

Satu-satunya lubang yang ada di film ini adalah keanehan para tokoh menyadari kelemahan monster tersebut, lalu menyiasati dan membuat solusi penumpasan. Penikmat film yang gemar menulis di laman pribadinya Harry Rasyid menilai, naskah solid yang menggambarkan detail kehidupan para penyintas, termasuk cara menghalangi tercipta suara, terasa kurang masuk akal dengan kelalaian tokoh menemukan solusi melenyapkan monster itu.

Namun secara keseluruhan film ini tetap layak ditonton karena ide cerita dan pengemasannya yang apik. Tak heran jika hingga lima hari lalu Rotten Tomattoes situs agregator film sempat memberi rating sempurna 100% pada film ini. Nah, selamat menikmati teror dari kesunyian.