sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Mangkatnya ‘Lord’ Didi Kempot dan estafet campursari generasi baru

Kepergian mendadak Didi Kempot mengejutkan banyak orang. Di sisi lain, genre musik campursari semakin dikenal dan berkembang.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Kamis, 07 Mei 2020 13:15 WIB
Mangkatnya ‘Lord’ Didi Kempot dan estafet campursari generasi baru
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Hari itu, Selasa (5/5), langit seakan runtuh bagi Deni Purwanto dan kawan-kawannya. Fan garis keras musikus campursari Didi Kempot itu terkejut bukan main mendengar kabar sang idola pergi untuk selama-lamanya.

Deni, yang merupakan pendiri Sobat Ambyar Jakarta—sebutan komunitas penggemar Didi Kempot—tersebut, sebelumnya sangat tak percaya mendengar kabar duka dari Solo, Jawa Tengah yang masuk ke ponselnya.

“Waktu aku dikabari pagi-pagi itu dari pengurus Sobat Ambyar Jakarta, aku kaget. Banyak yang merasa kehilangan. Pakde Didi seperti teman terdekat kami,” kata Deni saat dihubungi reporter Alinea.id, Rabu (6/6).

“Kayak kehilangan sosok panutan dan orang tua. Secepat itu Pakde meninggalkan kita.”

Penyanyi yang punya nama asli Didik Prasetyo—ada pula yang menyebut Dionisius Prasetyo—itu wafat di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo karena henti jantung (sudden cardiac arrest). Pria yang lahir pada 31 Desember 1966 itu sempat mengalami sakit panas di hari sebelumnya.

Nama panggung Didi Kempot merupakan akronim dari Kelompok Pengamen Trotoar, sebuah grup musik asal Solo yang membawa ia merantau ke Jakarta pada 1987. Ia memulai karier sebagai musikus jalanan di Solo sejak 1984.

Sosok santun dan panutan

 Didi Kempot bernyanyi di tengah penggemarnya, yang mayoritas generasi muda saat konser bertajuk Pahlawan Sakit Hati di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jawa Timur (5/11/2019). Foto Instagram didikempot_official.

Sponsored

Deni mengenang, ketertarikannya terhadap sosok Didi Kempot tidak dimulai dari lagu-lagu campursari yang dinyanyikannya, tetapi dari ramainya pembicaraan di media sosial Twitter pada Juni 2019. Pembicaraan di Twitter itu terjadi usai acara Musyawarah Nasional Pengukuhan Awal Solo Sad Boys Club di Solo pada 15 Juni 2019.

Sad Boys merupakan sebutan bagi penggemar Didi untuk laki-laki. Sad Girls disematkan bagi penggemar Didi untuk perempuan. Munas itu kemudian dikenal di kalangan penggemar Didi sebagai “Munas Loro Ati” alias “Munas Patah Hati”.

Deni mengaku tak ikut dalam acara yang mempertemukan Didi dengan kelompok penggemarnya itu. Namun, ia menyimak keseruan aktivitasnya dalam berbagai unggahan di Twitter.

“Awal mula suka karena melihat sosoknya yang rendah hati. Saat ketemu dengan penggemarnya, dia berusaha melayaninya,” katanya.

Irama musik yang menghibur dan mudah dinikmati, mendorong Deni yang lahir dan besar di Jakarta mencari tahu arti kata-kata dalam lirik berbahasa Jawa.

“Aku tanya-tanya ke Sobat Ambyar yang lain. Kami sama-sama suka, joget bareng kalau di konsernya. Aku paling suka lagu 'Cidro'. Aku pikir ini lagu happy, ternyata lagu sedih banget,” tuturnya.

“Cidro” adalah salah satu lagu andalan dalam album kelompok musik Batara Group pada 1990. Selain Didi, personelnya merupakan saudaranya sendiri, yakni Mamiek Prakoso, Dian S, dan Pompi S. Lagu ini diangkat dari kisah cinta Didi yang gagal karena tak direstui orang tua sang kekasih. Sejak itu, Didi kerap menulis lagi tentang patah hati.

Karena itu, penggemar Didi yang berasal dari generasi muda, “menobatkan” Didi sebagai The Godfather of Broken Heart, Bapak Loro Ati Nasional, ataupun Bapak Patah Hati Nasional. Mereka pun menyebut Didi dengan Lord Didi.

Deni mengatakan, setidaknya anggota Sobat Ambyar Jakarta yang resmi terdaftar ada 100-an orang. Mayoritas mereka yang bergabung berusia 25-33 tahun.

“Bahkan ada yang umurnya 18 tahun. Ada juga bapak-bapak berusia di atas aku, 40 tahun. Dia (Didi Kempot) memang mempersatukan semuanya. Kami semua merasa kehilangan,” ucap Deni.

Lagu-lagu Didi ternyata juga membuat beberapa anak muda terinspirasi mengikuti jejaknya bermusik. Helarius Daru Indrajaya salah satunya. Pria berusia 24 tahun itu mulai serius bermusik, membawakan lagu-lagu berbahasa Jawa bergenre campursari, pop Jawa, dan keroncong dangdut, lantaran kegemarannya mendengar lagu-lagu Didi.

Pemuda yang tinggal di Desa Gilangharjo, Bantul, Yogyakarta itu memulai karier bermusiknya pada 2013, dengan nama panggung Ndarboy Genk. Selain Didi, penampilan Ndarboy Genk dipengaruhi musikus campursari lainnya, Manthous.

“Kami tetap konsisten melestarikan lagu-lagu Jawa, dangdut, campursari. Khususnya juga melestarikan bahasa Jawa. Kalau enggak ada yang menyanyikan lagu bahasa Jawa, siapa lagi?” kata Daru saat dihubungi, Rabu (6/5).

Daru mengaku, sudah puluhan kali tampil bersama Didi. Menurutnya, Didi selalu mendorongnya untuk tetap konsisten membawakan lagu-lagu berbahasa Jawa. Daru pun terkesan dengan Didi, yang menurutnya santun dalam tutur dan perilaku.

“Pak Didi selalu berpesan, berikan selalu karya yang terbaik, jangan asal-asalan. Harapannya, agar budaya Jawa dapat dibawa hingga ke kancah internasional,” katanya.

Suatu hari, Daru pernah bertanya kepada Didi, perihal semangat yang seperti tak pernah padam. Kala itu, Didi hanya berkata, “Intine berpikiran selalu positif. Ojo mikir wong sing elek-elek, urip digawe seneng” (Intinya berpikiran selalu positif. Jangan berprasangka buruk kepada orang lain, selalu jalani hidup dengan bahagia).

“Kok sudah dipanggil (meninggal). Saya sedih sekali. Saya harus ikut panutan sama siapa lagi?” ujarnya.

  Warga melewati poster ucapan duka cita untuk mengenang penyanyi campursari Dionisius Prasetyo atau Didi Kempot yang meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020). Foto Antara/Maulana Surya.

Populer karena media, menandingi K-Pop

Pengamat musik Bens Leo mengingat, Didi Kempot pernah berkata, ia menciptakan sekitar 600 hingga 700-an lebih lagu. Pada 1999, Didi Kempot tenar lewat lagu “Stasiun Balapan”.

“Nama Mas Didi meroket di kancah musik campursari pop karena tak lebih dari 30-an lagunya. Sebelum meninggal pun, dia menciptakan lagu ‘Ojo Mudik’,” kata Bens Leo ketika dihubungi, Rabu (6/5).

Lagu “Ojo Mudik” dirilis Didi pada 1 Mei 2020. Melalui lagu itu, ia meminta para penggemarnya supaya tidak mudik untuk mencegah penularan Coronavirus jenis baru atau SARS-CoV-2. Ia pun sempat mengadakan konser live streaming pada 11 April 2020, dan berhasil menghimpun donasi sebesar Rp7,6 miliar untuk penanganan Coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Bens menuturkan, kepergian Didi yang mendadak terasa menorehkan luka seluruh bangsa. Hal itu, kata dia, tak bisa dilepaskan dari pengaruh lagu-lagu Didi, yang mengungkapkan kesedihan seputar patah hati.

“Emosi yang dibangkitkan lewat lagu-lagu ciptaannya mewakili dan dekat dengan pengalaman setiap orang,” tutur Bens.

Selain itu, Bens mengatakan, musikalitas lagu-lagu campursari yang dinyanyikan Didi sangat khas. Meski lirik-liriknya mengetengahkan perihal kepedihan asmara, musik Didi justru mengajak para pendengarnya berjoget, bukan menangis.

Menurut Bens, popularitas Didi yang memuncak dua tahun belakangan, tak bisa dilepaskan dari peran media massa. Terutama ketika Didi hadir sebagai bintang tamu program talkshow di salah satu stasiun televisi pada 2 Agustus 2019.

Makin lama, kekuatan pengaruh bahasa Jawa dari lagu-lagu Didi mampu menggaet penggemar dari berbagai usia dan latar belakang sosial-ekonomi. Ia mengatakan, karya-karya Didi sudah menorehkan sejarah baru.

“Belum pernah ada satu fenomena bahasa daerah menjadi dicintai anak muda karena disampaikan melalui lagu. Anak muda ini lalu jadi fan fanatik campursari dan Didi Kempot itu sendiri,” ujarnya.

Bahkan, Bens menyebut, Didi menandingi budaya populer Korea (K-Pop). Menurutnya, kekuatan musik campursari di tangan Didi menyerupai pola musik yang ditawarkan K-Pop.

“Satu keindahan yang ditunjukkan K-Pop adalah bahasa Korea dipadukan permainan musik yang sebetulnya dari Barat,” ujarnya.

“Lalu dengan unsur kecantikan dan ketampanan penyanyinya, orang tak peduli lagi artisnya lipsync atau tidak. Pada gilirannya, membuat orang banyak mau mempelajari bahasa Korea.”

Dengan format serupa, Bens memandang, musik campursari yang dipopulerkan Didi punya kekuatan besar menggerakkan puluhan ribu penggemarnya, yang tidak hanya di Jawa, bahkan dari luar negeri.

“Salah satu musikus Indonesia yang mampu melawan K-Pop ya Didi Kempot. Jika dibandingkan grup BTS dari Korea, misalnya, Didi Kempot mampu meredamnya. Bahkan, penggemar BTS itu juga termasuk dalam penggemar Didi,” tuturnya.

Meninggalnya Didi membuat rencana konsernya di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada November 2020 menjadi ambyar. Padahal, kapasitas Gelora Bung Karno yang mampu menampung puluhan ribu orang itu, bisa saja menghimpun para penggemar Didi dari seluruh dunia.

“Tapi kita belum bisa membuktikan 10.000 penonton memadati di situ karena beliau lebih dulu meninggal,” kata Bens.

Kerabat meratapi pusara almarhum penyanyi campursari Dionisius Prasetyo atau Didi Kempot sesuasi dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Desa Majasem, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (5/5/2020). Foto Antara/Joni Pratama.

Siapa pengganti Lord Didi?

Seniman sekaligus dosen Jurusan Karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Danis Sugiyanto mengatakan, selain Didi, musikus yang mempopulerkan campursari sebenarnya cukup banyak. Dahulu, ujar Danis, ada pesinden seperti Ngatirah, Maryati, dan Waldjinah.

Mereka terbentuk dari lingkungan Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang dan Surakarta pada 1950-an. Sosok Waldjinah lebih menonjol karena lagu “Walang Kekek” yang dipopulerkannya.

“Waldjinah terkenal di langgam musik Jawa, sehingga namanya juga mengatrol musik campursari hingga makin dikenal luas oleh publik,” kata Danis saat dihubungi, Rabu (6/5).

Danis mengatakan, sebenarnya gaya musik yang dibawakan Didi, kompetitornya di musik rekaman campursari cukup banyak. Salah satunya, Sonny Josz.

“Didi Kempot salah satu seniman yang beruntung dari persaingan untuk tampil di permukaan, dia berhasil memainkan musik tradisional yang menjadi populer,” ucap Danis.

Menurut Danis, setelah Didi berpulang, musik campursari tetap bisa menemui dan memikat penggemarnya. “Ketika Didi Kempot sedang di atas, saya kira dia tidak sedang berkibar sendirian. Itu hanya masalah keberuntungan. Patah tumbuh hilang berganti,” tuturnya.

Terkait geliat musikus muda campursari, Danis menilai hal itu merupakan pengaruh dari kelompok penggemar Didi, Sobat Ambyar. Menurutnya, komunitas fan Didi inilah yang lantas melahirkan generasi baru musikus campursari.

Danis mengatakan, setiap kelompok musikus muda campursari, berlatih dan berkreasi mengembangkan corak campursari masing-masing. Hal itu bisa terlihat dari cara permainan, alat musik, tata panggung, hingga lirik lagunya.

Selain Helarius Daru Indrajaya alias Ndarboy Genk, ada beberapa musikus muda campursari yang namanya mulai naik, seperti Hendra Kumbara, Dory Harsa, Guyon Waton, dan Denny Caknan.

Daru mengungkapkan, mereka mengembangkan musik campursari yang dipopulerkan Didi Kempot, dengan kemasan yang lebih modern. Sentuhan khas, kata dia, bisa dilihat dari isi cerita dalam lirik seputar kehidupan anak muda, dengan genre musik cenderung pop atau dangdut.

Ndarboy Genk merilis beberapa lagu yang digemari anak muda, seperti “Balungan Kere”, “Tibo Mburi”, dan “Wong Sepele”. Daru juga pernah berkolaborasi dengan Hendra Kumbara, yang dikenal dengan lagunya “Dalan Liyane”.

Infografik Didi Kempot. Alinea.id/Hadi Tama.

Sementara Denny Caknan beberapa kali tampil di program televisi. Salah satunya di ajang pencarian bakat Indonesian Idol pada Februari 2020. Penyanyi campursari asal Ngawi, Jawa Timur itu dikenal lewat lagu “Sugeng Dalu”, “Sampek Tuwek”, dan “Kartonyono Medot Janji”.

Dalam kacamatan Bens Leo, Denny Caknan cukup menonjol di kancah musik campursari pop generasi baru. Bens pun memuji kejujuran Denny yang mengakui sosok Didi Kempot sebagai panutannya dalam bermusik.

“Kalau saya dengarkan musik Denny Caknan, lagunya mirip Didi Kempot, tapi bersentuhan dengan anak muda,” kata Bens.

Bens mengatakan, melalui penyanyi-penyanyi muda ini, rasa duka penggemar musik campursari bisa diobati usai kepergian The Godfather of Broken Heart. Bahkan, kata dia, kehadiran mereka patut disyukuri karena dapat meneruskan skena musik campursari.

“Sekarang ini Sobat Ambyar sedang frustrasi. Maka, musisi daerah inilah yang harus mengisi kekosongan campursari,” tutur Bens.

Berita Lainnya