logo alinea.id logo alinea.id

Menumpang truk demi Slank

Ini cerita para Slankers menyesaki Gang Potlot demi menonton idola tampil dalam perayaan hari jadi ke-35, Minggu (23/12).

Annisa Saumi Sabtu, 22 Des 2018 20:17 WIB
Menumpang truk demi Slank

Tomi dan lima temannya terpaksa merebahkan badan di minimarket daerah Duren Tiga, Jakarta Selatan pagi tadi. "Di sana (Gang Potlot) soalnya sudah penuh, makanya istirahat di sini dulu,” ujarnya pada saya, Sabtu (22/12).

Pria 18 tahun itu berasal dari Kampung Tauge, Gresik Selatan, Jawa Timur. Ia sengaja menumpang truk sejak Kamis (20/12) lalu, dari Gresik menuju Jakarta. Kebiasaan menumpang truk sendiri dilakukan agar tak mengeluarkan ongkos sepeser pun.

“Saya kalau nggandol (menumpang truk yang sedang melintas) pasti ramai-ramai, biar cepat dapet truknya. Kalau sendiri sulit dapet truk,” kata Tomi.

Sejak berangkat dari Gresik, Tomi mengaku telah sepuluh kali berpindah-pindah truk untuk sampai ke Jakarta. Ia menumpang truk bersama rombongannya yang berjumlah 25 orang. Kawan-kawan di rombongan itu tak hanya datang dari Gresik, tapi juga daerah-daerah lain di Jawa Timur seperti Tuban, Pasuruan, dan Sidoarjo.

Perjalanannya ke Jakarta kali ini telah ia rencanakan sejak 3 November 2018. “Kami sudah merencanakan dan janjian sejak Slank konser di Sidoarjo, 3 November kemarin,” kata Tomi yang diamini kawan-kawannya.

Dalam perjalanannya ke Jakarta, Tomi hanya membawa telepon genggam, pengisi daya, dan stiker penggemar Slank atau Slankers Kampung Tauge. Ia pun hanya membawa pakaian yang dikenakan di badannya saja tanpa membawa pakaian ganti.

Bekal uang di sakunya hanya Rp50.000 saja. “Kalau di Gresik, Rp50.000 itu buat seminggu,” kata Tomi yang sehari-harinya berjualan tauge.

Setibanya di Jakarta, Tomi bertemu dan bertukar stiker dengan Slankers yang berasal dari wilayah-wilayah lain. Dari Gresik, Tomi telah menyiapkan stiker yang dibuat dan dicetaknya sendiri.

Sponsored

“Ini desainnya sendiri. Saya cetak stikernya di kertas besar tiga lembar,” kata Tomi sambil memberikan saya stiker yang telah dipotong-potong.

Ia bercerita, sudah lima tahun mengagumi Slank. Pasalnya, filosofi Slank “boleh nakal, tapi tetap taubat" dinilai cocok baginya. Lantaran kesukaannya inilah, ia selalu menyempatkan diri menonton konser Slank. Ia sampai tak tahu telah berapa kali menonton konser grup yang digawangi Kaka dan Bimbim tersebut.

Kali ini menjadi momen kedua Tomi berada di Jakarta. Tahun lalu, Ia juga berangkat ke Jakarta juga demi menonton konser Slank.

Tomi mengakui tiket konser Slank termahal yang pernah dibelinya adalah seharga Rp200.000. “Itu konsernya di Gelora Bung Karno, tahun lalu,” kata Tomi.

Sudah lama loyal

Tomi tak sendiri. Dari pantauan Alinea.id, para Slankers telah memadati kediaman orang tua Bimbim, pasangan Sidharta Soemarmo dan Iffet di Gang Potlot Nomor 14, untuk menyambut ulang tahun Slank ke-35 tersebut. Tak hanya memenuhi Gang Potlot, para Slankers juga berkumpul di sekitar jalan Raya Pasar Minggu, tepat di depan gang sambil membentangkan bendera Slankers.

Slank dalam sebuah konser./Facebook

Pemandangan tersebut sebetulnya sudah biasa terlihat pasca-Slank menggulirkan album kedua mereka bertajuk "Kampungan" pada 1992, menyusul album pertama "Suit-suit he..he.." yang semuanya meledak di pasaran. Gaya Slank di atas panggung yang apa adanya, slengekan, sukses menjadi magnet bagi anak-anak muda kala itu.

Sampai akhirnya Slank menjadi lebih terorganisir di bawah payung manajemen artis Pulau Biru dan kerap latihan di Gang Potlot, sejak itu pula fans kerap berkumpul di sana. Dalam buku Slank dan "Mafia Senayan" (2008) dijelaskan, Slank intens berkomunikasi dengan para penggemar lewat buletin Pulau Biru. Kedekatan dengan fans juga dibangun dengan jalan membebaskan mereka berkunjung ke Gang Potlot kapan saja.

Singkat cerita, atas inisiatif Bimbim dan Iffet, nama Slankers dipilih untuk melabeli mereka yang punya fanatisme tinggi terhadap grup penggemar Rolling Stone itu. Dengan segera, Slankers dibuka cabangnya di Bogor dan Malang. Hingga saat ini, Slankers tersebar di lebih dari 70 kota di Indonesia.

"Tanpa Slankers, Slank bukan apa-apa," tegas Iffet dalam buku tersebut.