close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Vinice Mabansag, bayi yang menjadi penduduk ke-8 miliar dunia, bersama sang ibu. Foto: @OfficialPOPCOMNCR/Newsflash
icon caption
Vinice Mabansag, bayi yang menjadi penduduk ke-8 miliar dunia, bersama sang ibu. Foto: @OfficialPOPCOMNCR/Newsflash
Sosial dan Gaya Hidup
Selasa, 22 November 2022 17:55

Populasi penduduk dunia mencapai 8 miliar jiwa

Di Amerika Serikat, Jepang, serta negara-negara Eropa, birth rate atau angka kelahiran semakin melambat.
swipe

Kelahiran Vinice Mabansag di Manila, Filipina, pada Selasa (15/11) lalu, resmi membuat populasi Bumi menyentuh angka 8 miliar.

Berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 12 tahun telah berlalu sejak populasi manusia menyentuh angka 7 miliar.

Dilansir dari Metro.co.uk, PBB memperkirakan populasi manusia baru akan menyentuh angka 9 miliar pada 15 tahun lagi atau pada 2037.

“Pertumbuhan populasi disebabkan oleh bertambahnya jangka hidup manusia karena kualitas kesehatan publik, nutrisi, kebersihan, dan obat-obatan yang terus meningkat,” ujar PBB. “Selain itu, angka fertilitas yang tinggi di beberapa negara juga menjadi faktor.”

Namun, data menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi justru melambat karena tingkat kelahiran yang terus berkurang, terutama di negara-negara maju. Di Amerika Serikat, Jepang, serta negara-negara Eropa, birth rate atau angka kelahiran semakin melambat.

Saat ini, negara berkembang di Asia menjadi penyumbang utama terhadap angka kelahiran dunia. Menurut demografis, angka pertumbuhan populasi secara keseluruhan terus menurun secara stabil menjadi kurang dari 1% per tahunnya.

Turunnya tingkat kelahiran secara global terjadi karena tiga faktor utama, yaitu kontrasepsi, edukasi, dan ekonomi. Data menunjukkan bahwa di daerah-daerah dengan edukasi yang rendah serta hak yang kurang bagi perempuan, tingkat fertilitas ditemukan paling tinggi.

Berdasarkan penelitian yang diunggah di National Library of Medicine, akses terhadap kontrasepsi yang semakin mudah menjadi alasan fundamental di balik turunnya tingkat fertilitas.

Di negara lain, faktor ekonomi menjadi alasan, karena banyak orang memilih menunggu kondisi finansial yang stabil sebelum memutuskan memiliki anak. Sedangkan, gaji pekerja cenderung stagnan dibandingkan dengan biaya hidup yang terus meningkat. Karenanya, gaya hidup childfree yang semakin ramai diperbincangkan di media sosial menjadi pilihan bagi banyak orang.

Meski begitu, populasi dunia akan terus bertambah selama waktu yang dapat diperkirakan. Meski jumlah kematian dunia akibat Covid-19 tinggi, angka kelahiran masih jauh lebih banyak. Menurut World Health Organization (WHO), ada 14,9 juta kematian yang diasosiasikan dengan Covid-19 pada 2020 dan 2021. Namun, di sisi lain terdapat 269 juta kelahiran yang terjadi pada tahun tersebut.

Menurut pembaca Social Policy di University of Bath, Melanie Channon dan dosen senior Sosiologi di Lancaster University, Jasmine Fledderjohann, populasi dunia tetap akan menyentuh angka 9 miliar jiwa paling terlambat di 2039 atau dua tahun lebih lama dari perkiraan terkini.

 

Sumber:  Metro.co.uk

img
Priscilla Violetta Prawira Putri
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan