sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

"Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi": Tempelan dongeng yang tak murahan

Upaya Yusi Avianto menempelkan potongan dongeng dari seluruh penjuru dunia tak lantas membuat novelnya, jadi kitsch atau tiruan murahan.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Minggu, 15 Jul 2018 07:00 WIB

Upaya Yusi Avianto Pareanom menempelkan potongan-potongan dongeng dari seluruh penjuru dunia tak lantas membuat novelnya, "Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi" menjadi sebuah kitsch atau tiruan murahan. Yusi merangkai referensi potongan-potongan dongeng dan kisah-kisah tersebut dengan padu, menjadi mozaik perjalanan balas dendam Sungu Lembu.

Narator atau tokoh utama dalam buku ini memang si Sungu Lembu itu sendiri. Kehidupannya di Banjaran Waru baik-baik saja sampai kemudian datang prajurit dari Gilingwesi, yang diperintahkan Watugunung meluluhlantakkan kampungnya.

Dalam penyerbuan itu, paman Sungu Lembu, Banyak Wetan ditangkap karena terlibat pemberontakan melawan Gilingwesi. Banyak Wetan terancam hukuman pancung, tetapi hukuman tersebut akan dilaksanakan setahun setelahnya. Keinginan untuk menyelamatkan pamannya mengompori semangat Sungu Lembu memenggal kepala Watugunung.

Perjalanan membalas dendam Sungu Lembu pada Watugunung, raja Gilingwesi inilah yang membawanya pada petualangan mendebarkan penuh kejutan. Di tengah perjalanannya menuju Gilingwesi, Sungu Lembu bertemu dengan Raden Mandasia, salah satu pangeran Gilingwesi. Ia kemudian memanfaatkan Raden Mandasia untuk mengincar kepala Watugunung.

Ilustrasi lakon Sungu Lembu./ Instagram

Dalam novel perdananya ini, Yusi bisa seenaknya melempar pembaca ke manapun, mulai dari perjalanan di lautan hingga ke gurun, rumah dadu hingga istana kerajaan, dan dari kegemaran ganjil Raden Mandasia hingga pertemuan dengan Loki Tua. Namun, Yusi tetap akan mengembalikan pembacanya ke Gilingwesi.

Yusi bertutur layaknya mengisahkan sebuah dongeng. "Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi" menunjukkan pada pembaca keberanian Yusi mengangkat diksi yang jarang digunakan dalam novel-novel Indonesia kontemporer. Saya melihat ini sebagai upaya Yusi melestarikan Bahasa, dan meluaskan khazanah pembaca novelnya akan keragaman Bahasa Indonesia.

Sponsored

Yusi juga menghadirkan khazanah kuliner yang membuat imajinasi pembacanya meneteskan air liur. Tokoh Loki Tua dalam novel ini merupakan seorang juru masak bermulut pedas, yang bisa menjadikan apapun menjadi masakan enak. Bahkan, Yusi sampai menghabiskan satu halaman lebih untuk menjelaskan aneka macam bagian daging sapi.

Tokoh-tokoh dalam "Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi" juga tak melulu hitam putih. Yusi mengingatkan pembacanya jika manusia bisa sangat abu-abu. Kita tak bisa menebak motif dari tokoh-tokoh yang dihadirkan Yusi. Mereka tak sepenuhnya baik, dan tak sepenuhnya pula jahat.

Seolah menjadi ciri khas Yusi, humor-humor gelap juga tak absen dalam buku ini. Banyak peristiwa mengejutkan dan kadang tak masuk akal dalam novel ini, yang sukses membuat pembaca tertawa tergelak sambil sesekali menyumpah sebagai ekspresi tak percaya.

Novel perdana Yusi Avianto Pareanom./ Kineruku

Namun, tetap saja Yusi tak bisa memuaskan banyak pembacanya. Dari teraturnya logika bercerita Yusi dan kemampuannya untuk memancing pembaca terus membaca, "Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi" adalah karya yang kental dengan bau maskulin.

"Perempuan dalam Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi" hanya dipandang sebagai objek semata. Perempuan dengan begitu mudah diajak bersenggama di atas ranjang dan ditampilkan sebagai objek seksual bagi tokoh utamanya.

Novel ini tergolong cukup tebal dengan penokohan yang tak terlalu kompleks. Pembaca akan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menandaskan novel ini. Namun, dengan diksi dan rangkaian kata yang mengalir, Yusi menunjukkan ia bisa memikat pembacanya untuk betah berlama-lama menandaskan novelnya.