logo alinea.id logo alinea.id

Ritual Labuhan Merapi, bentuk syukur atas keselamatan

Upacara tradisi yang digelar setiap Bulan Ruwah (Kalender Jawa) tersebut diawali dari petilasan rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbu

Hermansah
Hermansah Minggu, 07 Apr 2019 22:46 WIB
 Ritual Labuhan Merapi,  bentuk syukur atas keselamatan

Ratusan masyarakat dari berbagai daerah mengikut puncak ritual Labuhan Merapi yang digelar Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dalam rangka memperingati naik tahta Sultan Hamengku Buwono X  serta menjadi bentuk syukur kepada Tuhan atas segala kelimpahan dan keselamatan. Ritual ini diadakan di lereng Gunung Merapi, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Minggu.

Upacara tradisi yang digelar setiap Bulan Ruwah (Kalender Jawa) tersebut diawali dari petilasan rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan.

Ratusan masyarakat bersama dengan para abdi dalem keraton mulai bergerak jalan mendaki lereng Gunung Merapi menuju Bangsal Srimanganti sekitar pukul 06.20 WIB.

Iring-iringan para abdi dalem keraton tiba di lokasi labuhan, yaitu Bangsal Sri Manganti yang terletak di Pos 1 jalur pendakian Merapi hampir memakan waktu dua jam.

Di lokasi itu "ubo rampe" (sesaji) dilabuh setelah selama satu malam di semayamkan di Kinahrejo.

"Ubo rampe" tersebut berupa kain yang dinamai sinjang cangkring, sinjang kawung kemplang, semekan gadhung, semekan gadhung melati, semekan banguntulak, kampuh poleng ciut, dhestar daramuluk, paningset udaraga. Masing-masing satu lembar.

Satu persatu ubarampe yang berada dalam peti berwarna merah dikeluarkan. Sembari disebutkan nama-nama "ubo rampe" itu.

Selanjutnya, dilakukan doa bersama yang dipimpin Juru kunci Gunung Merapi, Masbekel Anom Suraksosihono atau yang akrab disapa Mas Asih.

Sponsored

Usai doa, para abdi dalem membagikan plastik kecil yang berisi nasi gurih dengan lauk suwiran daging ayam ingkung.

Para wisatawan, yang sekadar menonton ritual tersebu juga turut kebagian untuk "ngalap" (mendapat) berkah. Prosesi itulah yang disebut Labuhan Merapi.

"Saat labuhan ada semacam prosesi serah terima yaitu saat di Bangsal Sri Mnganti. Setelah disampaikan lalu dilorot lagi. Ini istilahnya 'lorotane'. Jadi bukan dibuang di kawah. Tapi disajikan di situ (Bangsal Sri Manganti). Setelah diterima, kemudian dibawa turun," kata Mas Asih.

Mas Asih memiliki kewenangan sepenuhnya untuk membagikan "ubo rampe" tersebut kepada yang membutuhkan. Namun, Mas Asih menegaskan jika dia tidak pilih-pilih dalam memberikan "ubo rampe" tersebut. Semuanya dibagi secara adil.

Namun, untuk bisa mendapatkan hal itu, mereka harus rela inden atau memesan terlebih dahulu. Sebab, peminatnya sangat banyak. Tidak tanggung-tanggung, jangka waktu untuk bisa mendapatkan "ubo rampe" itu bisa sampai bertahun-tahun. Pasalnya, setiap tahun jumlah dan jenis "ubo rampe"-nya sama.

"Syaratnya memang harus sabar. Siapa pun yang butuh pasti dikasih asal mau menunggu giliran," katanya.

Menurut Asih, setiap orang punya tujuan berbeda. Ada yang untuk cenderamata, ada pula yang untuk "pegangan". Bahkan, ada yang untuk syarat lelaku tertentu.

"Semua dilihat barangnya. Kalau pas ada saya kasih. Kalau habis, ya, tunggu tahun depan. Untuk tahun ini sudah ada yang meminta dan sepertinya masih ada sisa," katanya.

Labuhan Merapi tahun ini merupakan labuhan alit sebab tidak bertepatan dengan Tahun Dal.

Dari sekian banyak "ubo rampe", hanya kambil wacangan atau "ubo rampe" berupa pelana kuda yang tidak disertakan.

"Jenis 'ubo rampe' itu hanya disertakan saat labuhan ageng setiap delapan tahun sekali," katanya.

Sebelum erupsi Merapi 2010, labuhan digelar di Pos II yang dikenal dengan sebutan Pos Rudal. Namun, akibat erupsi, jalur pendakian menuju pos tersebut rusak sehingga sulit dilalui.

Sejak saat itu, lokasi labuhan dipindah ke Bangsal Sri Manganti yang berjarak sekitar tiga kilometer dari petilasan Mbah Marijan di Kinahrejo. (Ant)