Gaya Hidup / Resensi film

Robin Hood: Versi baru yang tak perlu

Hingga hari ini, ada lebih dari 70 versi adaptasi Robin Hood yang diangkat ke televisi maupun layar lebar.

Robin Hood: Versi baru yang tak perlu
Film Robin Hood (2018)./ IMDB

Hingga hari ini, ada lebih dari 70 versi adaptasi Robin Hood yang diangkat ke televisi maupun layar lebar. Robin Hood yang dibintangi Taron Egerton menjadi versi teranyar cerita rakyat dari Inggris itu.

Robin Loxley (Taron Egerton) adalah seorang bangsawan di Nottingham. Suatu hari, Sherrif Nottingham (Ben Mendelsohn) memerintahkan setiap laki-laki melakukan wajib militer. Robin dari Loxley akhirnya berangkat ke ‘Arabia’ meninggalkan kekasihnya Marian (Eve Hewson), melakukan wajib militer sebagai ksatria pasukan salib, memerangi muslim.

Di ‘Arabia’, Robin hampir mati di tangan Yahya ibn Umar atau John (Jamie Foxx) jika tak diselamatkan komandannya, Guy of Gisborne (Paul Anderson). Gisborne menangkap John dan mengeksekusi mati anak John. Robin tak terima dengan perlakuan Gisborne pada John dan menghalangi eksekusi mati tersebut. Pada akhirnya Robin dipulangkan kembali ke Nottingham hanya untuk melihat kediaman mewahnya hancur dan kekasihnya raib.

Robin dan kekasihnya, Marian./ IMDB

Robin mengunjungi wilayah pertambangan setelah mencari-cari kabar seputar keberadaan kekasihnya. Di sana ia melihat Marian telah bersama laki-laki lain, Will Scarlet (Jamie Dornan). Marian sendiri memilih bersama Will usai mendengar kabar Robin tewas di Arabia. Di pertambangan itu pula Robin bertemu kembali dengan John yang mengajaknya mencuri upeti perang yang diminta Sherif.

Versi yang ganjil

Saat mendengar nama Robin Hood, di kepala saya tergambar seorang laki-laki dewasa di Inggris abad pertengahan yang merampok untuk orang miskin. Namun, saya mendapati Robin Hood versi kekinian ketika menonton film ini.

Sepanjang film, saya bertanya-tanya, mengambil latar di era apakah Robin Hood versi ini. Sebagai contoh, pakaian yang dikenakan Taron Egerton dan kawan-kawan terbilang sangat bergaya, kontras dengan gambaran Robin Hood yang ada di kepala saya. Untuk latar abad pertengahan, rasa-rasanya tak mungkin telah ada jaket kulit seperti yang dikenakan Robin Hood.

Tak berhenti di jaket kulit Robin, dalam scene pesta menyambut Kardinal Agung, tamu-tamu yang datang tampil gaya dengan riasan wajah kekinian, seperti smoky eye yang dikenakan Marian. Hal semacam itu rasanya tak mungkin ada saat abad pertengahan.

Tak hanya dalam riasan dan pakaian, adegan pertempuran di Arabia pun terasa ganjil. Teknologi senjata crossbow yang seperti machine gun, ditampilkan bisa menembus tembok-tembok tebal Arabia. Saya tak tahu lagi Robin Hood ini berada di era apa.

Naskah dan akting yang tanggung

Sebagai film aksi yang menyajikan adegan perkelahian, Robin Hood bisa dikatakan film yang seru. Namun, kualitas dari naskah film perlu dipertanyakan. Beberapa adegan terlihat klise dan murahan di film tersebut.

Tengoklah ketika Robin Hood pertama kali merampok dan meletakkan uang rampokannya di depan rumah Marian. Beberapa saat setelahnya, ia mendengar Marian berkata seandainya saja Robin Hood membagikan uang-uang tersebut ke rakyat miskin. Curi dengar dari Marian itulah yang menjadi motif Robin Hood membagi-bagikan uang ke penduduk sekitar tambang. Klise dan tanggung seperti adegan drama di sekolah.

Kehadiran beberapa aktor yang ditampilkan dalam film, seperti Jamie Dornan dan F. Murray Abraham juga terasa sia-sia. Kehadiran Will misalnya, bahkan tak mengubah banyak jalan cerita yang ada di sepanjang film. Konflik antara Robin dan Will pun terkesan datar dan biasa-biasa saja.

Will Scarlet yang digambarkan gemar berorasi dan mengabdikan diri untuk komunenya tak mendapatkan ruang yang cukup untuk pendalaman karakter. Tak berlebihan jika diakatakan, selain karakter Robin Hood, tidak ada lagi pengembangan karakter lain yang berarti dalam film ini.

Sama halnya dengan Will, karakter John yang diperankan Jamie Foxx tak mendapatkan cukup ruang. John memang mendapatkan screen time yang lebih banyak daripada Will, tetapi, kehadirannya terasa tanggung.

Dengan penggambaran karakter yang tengil dan banyak rencana, mestinya sutradara Otto Bathurst bisa mengalihkan perhatiannya sejenak ke karakter John. Namun, penonton tak akan pernah mendapati John membagikan rencana gilanya ke Robin Hood.

Satu-satunya akting yang menarik dan patut diapresiasi ditunjukkan Ben Mendelsohn sebagai Sherif. Dengan pidatonya yang populis, tingkah lakunya yang mengintimidasi, akting Mendelsohn sebagai tokoh antagonis sangat menyakinkan. Walaupun karakter yang diperankan Mendelsohn terlalu hitam-putih, ia memerankannya dengan sangat baik.

 

2

Film aksi seru, tetapi dangkal.

 


Berita Terkait

Kolom

Infografis