logo alinea.id logo alinea.id

Sembuh dari rasa sakit hati ditelikung teman

Perasaan campur aduk, antara marah dan sedih dialami seseorang yang pernah ditelikung temannya.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 08 Mar 2019 20:31 WIB
Sembuh dari rasa sakit hati ditelikung teman

Hati siapa yang tak hancur bila melihat mantan kekasih menikah dengan sahabat sendiri. Hal itu dirasakan aktris Luna Maya. Sebab, beberapa waktu lalu, mantan kekasihnya Reino Barack menikah dengan sahabatnya Syahrini.

Sontak, warganet pun mencibir Syahrini dan berempati kepada Luna Maya. Mereka menilai, penyanyi Syahrini sudah menelikung Luna Maya.

Teman makan teman

Pengalaman ditelikung tentu bukan hanya dialami publik figur macam Luna Maya. Arum Karunianti pun pernah mengalami kisah asmara pahit itu. Pada 2016, ia mengakhiri hubungan dengan kekasihnya, yang sudah berjalan empat tahun.

“Dia merasa waktu kami berdua berkurang karena aku sibuk kerja. Kami waktu itu cuma ketemu di akhir pekan,” kata Arum saat dihubungi, Selasa (5/3).

Arum berkisah, pada 2016 sebuah kafe dibuka persis di depan rumah kekasihnya. Seorang temannya kebetulan bekerja di kafe tersebut. Arum, kekasihnya, dan temannya itu pernah menghabiskan malam tahun baru bersama di sana.

Perkara pun muncul. Ketika Arum sedang sibuk bekerja, kekasihnya mulai dekat dengan temannya. “Mereka temenan, main gim online bareng, sampai chat-chatan dan ngobrol begitu,” ujar Arum.

Melihat kedekatan kekasihnya dengan temannya itu, Arum pun cemburu. Mereka sering berkelahi. Hingga akhirnya, beberapa bulan menuju tahun keempat hubungan mereka, Arum melihat gerak-gerik temannya yang menyukai kekasihnya. Bukannya menjauh, hubungan kekasihnya dan temannya itu malah semakin dekat.

Sponsored

“Aku sebelumnya sudah pernah melabrak temanku. Temanku juga konfirmasi bilang ‘enggak mungkinlah aku suka cowokmu’ dan ‘enggak mungkinlah kami ada apa-apa’,” tutur Arum.

Pada akhir 2016, Arum memilih mengakhiri hubungan. Tak lama kemudian, mantan kekasihnya itu menjalin asmara dengan temannya.

Berkebalikan dengan kisah Luna Maya dan Arum, Dadang, bukan nama sebenarnya, justru menjadi “tokoh antagonis” hubungan asmara kawannya. Istrinya sekarang adalah gebetan temannya.

“Teman saya sudah melakukan pendekatan dengan istri saya saat ini selama kurang lebih tujuh tahun, dan saya tahu mereka berdua saling suka,” kata Dadang saat berbincang, Selasa (5/3).

Saat itu, Dadang berpikir, temannya belum mengikat komitmen apapun. Oleh karena itu, Dadang merasa berhak menyukai gebetan temannya. Dadang lalu menyatakan cinta dan berniat serius dengan gebetan temannya.

“Keputusan dia (istrinya) cukup lama. Akhirnya, saya yang dipilih menjadi suaminya sampai sekarang,” ujar Dadang.

Teman-temannya menilai, Dadang berkhianat dan tak setia kawan. Hubungan pertemanan Dadang pun menjadi renggang. “Saya tak merasa bersalah ke teman saya. Toh, saya tak melakukan tipu muslihat apa-apa,” kata Dadang.

Prosesi lamaran Reino Barack terhadap Syahrini. (instagram.com/princessyahrini).

Introspeksi

Perasaan campur aduk, antara marah dan sedih dialami seseorang yang pernah ditelikung temannya. Psikolog Rose Mini Agoes Salim mengatakan, ditelikung teman sendiri memang bisa benar-benar terasa sakit.

“Karena kita tahu kebiasaan teman kita, dan teman kita juga tahu kebiasaan kita,” ucap Rose saat dihubungi, Jumat (8/3).

Menurut staf pengajar Psikologi di Universitas Indonesia itu, alasannya pasangan kita tak terpenuhi kebutuhannya, dan melihat teman kita mampu memenuhinya. “Jika itu dipupuk terus-menerus, maka pasangan kita bisa terpincut dengan teman kita,” ujarnya.

Perasaan sakit hati, lanjut Rose, datang dari merasa dikhianati, terkejut, dan ditusuk dari belakang.

Sementara itu, relationship coach dan pendiri Kelas Cinta—pusat edukasi, tips, dan trik tentang cinta—Lex dePraxis mengatakan, dirinya tak mempercayai istilah telikung-menelikung pacar teman. Lex menyebut istilah “lompat keluar pagar.”

“Ia melompat tidak selalu karena ada kebutuhan yang tak terpenuhi, tapi karena gatel (genit) aja juga banyak,” ujar Lex saat dihubungi, Jumat (5/8).

Di sisi lain, Rose menyarankan agar korban telikung introspeksi diri. Sebab, kalau merasa tak nyaman, terkadang seseorang malah menyalahkan lingkungan sekitar.

Rose pun menyarankan agar pasangan yang baru saja mengakhiri hubungan, memberikan jeda sejenak pada dirinya. Proses bangkit setelah mengakhiri hubungan alias move on, menurut Rose harus dibekali dengan seperangkat informasi agar lebih berhati-hati ke depannya.

“Beri jeda sejenak agar kita bisa menyembuhkan diri sekaligus introspeksi,” katanya.

Cara agar move on

Sedangkan Lex dePraxis menuturkan, proses move on itu generik. Sebab, kata dia, rasa sakit orang yang bercerai setelah menikah lima tahun sama dengan rasa sakit orang yang menjalin hubungan asmara enam bulan.

“Yang namanya duka cita, ya duka cita. Sakit hati, ya sakit hati,” ujar dia.

Pada hari pertama patah hati, Lex biasanya akan menyarankan kliennya untuk memasukkan semua foto bersama mantan ke flashdisk, lalu menyimpannya di gudang.

Hari kedua, ia akan menyarankan kliennya bersih-bersih barang peninggalan mantan. Di hari ketiga, ia menyarankan untuk ke pergi ke salon, bagi korban patah hati perempuan.

Menurut Lex, tanda orang yang sudah move on itu agak sulit dilihat. Setiap orang berbeda-beda. Namun, kata dia, biasanya orang itu bisa cerita patah hatinya sebagai bahan bercanda.

Lebih lanjut, Lex biasanya menawarkan tiga langkah move on setelah patah hati kepada keliennya. Pertama, kata dia, tutup kontak dengan mantan tersebut. Kedua, mengubah gaya hidup.

Ada beberapa cara untuk menghilangkan rasa sakit hati setelah ditelikung teman sendiri.

“Kalau perempuan mungkin ke salon lagi, potong rambut, fitness lagi, membuat citra diri yang baru, belanja. Mulai geluti lagi hobi yang sempat kita tinggalkan karena pacaran,” tutur Lex.

Bila langkah satu dan dua gagal, Lex menyarankan langkah ketiga, yakni pergi konseling ke profesional, seperti psikolog, setelah tiga atau empat minggu.

“Ke psikolog bukan hal yang memalukan kok,” katanya.

Teman-teman korban patah hati, menurut Lex, juga bisa membantu menyembuhkan, seperti mengajak makan dan jalan-jalan agar si korban mau terbuka berbicara.

Akan tetapi, Lex tak menyarankan korban telikung untuk berbicara kepada keluarga. Sebab, kata dia, keluarga acapkali malah menghancurkan si korban patah hati dengan memberikan ceramah-ceramah yang tak perlu.