close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Flyer sinetron Terpaksa Menikahi Tuan Muda (TMTM). Foto istimewa
icon caption
Flyer sinetron Terpaksa Menikahi Tuan Muda (TMTM). Foto istimewa
Sosial dan Gaya Hidup
Kamis, 23 Desember 2021 21:02

Sinetron TMTM ANTV viral karena syuting di Semeru, ini pernyataan produser

Manajemen juga meminta maaf jika menyinggung para korban, karena datang di waktu yang tidak tepat.
swipe

Aksi protes dilayangkan sejumlah komunitas dan warganet kepada sinetron Terpaksa Menikahi Tuan Muda (TMTM) yang tayang di ANTV setiap hari mulai pukul 18.30 WIB-20.00 WIB.

Pasalnya kru sinetron dan para pemain TMTM melakukan proses syuting di lokasi pengungsian Semeru di Desa Penanggal, Kecamatan Candipiro, Kabupaten Lumajang. Lokasi itu adalah kawasan terdampak erupsi Semeru.

Sejumlah komunitas menilai, perilaku TMTM tidak etis karena memanfaatkan lokasi bencana alam untuk meraih rating penonton.

Pegiat Komunitas Tujuh Bidadari Gava Zulkarnaen menyebutkan, pengambilan gambar untuk sinetron TMTM dinilai kurang tepat. Pasalnya Lumajang sedang berduka akibat erupsi Semeru.

Apalagi ada adegan berpelukan di depan tenda pengungsi serta anak-anak di pengungsian yang melihat langsung proses syuting adegan itu. Terkait protes ini, sejumlah komunitas bersama warga bersepakat untuk melakukan aksi boikot apabila adegan yang diambil di kawasan Semeru benar-benar tayang di televisi.

Terkait sejumlah protes tersebut, Line Producer PT Verona Indah Pictures yang menaungi TMTM Diwi Sunarso Lobo menyebutkan, sinetron ini memang menceritakan tentang seorang relawan kemanusiaan.

"Jadi cerita dari sinetron ini memang tentang relawan. Di mana tokoh Amanda yang diperankan oleh Rebecca Tamara perannya sebagai pemilik yayasan kemanusiaan. Maka sangat relevan jika tokoh Amanda ini sedang melakukan tugas kemanusiaan sebagai relawan di lokasi pengungsi erupsi Semeru," kata Dwi Sunarso seperti dikutip dari keterangan resminya dari akun Instagram @tmtm.antv1.

Dijelaskan Dwi Sunarso, sinetron yang digarapnya memiliki pesan kemanusiaan tentang kerja keras seorang relawan.

"Lagi pula syuting sinetron bukan hanya di lokasi pengungsian, tetapi juga di tempat pariwisata di Lumajang. Salah satunya di pantai di Lumajang. Produsernya mas Dwi Ilalang itu kan memang orang Lumajang juga," kata Dwi Sunarso.

Lobo memastikan, sinetron garapannya berbeda dengan yang konten-konten media sosial yang memperlihatkan penyuka swafoto dan konten tiktok. Namun, sinteron ini mengandung pesan moral tentang kemanusiaan di dalamnya.

Pihak produser tidak memberikan keterangan yang jelas mengenai apakah akan ada penayangan adegan yang diambil di kawasan pengungsian Semeru. Kendati demikian, dalam postingan terbarunya ketika mendengar tentang duka yang tengah menyelimuti warga Lumajang, Verona Pictures mengaku segera memikirkan cara untuk bisa meringankan sedikit beban para korban. Bukan hanya dengan bantuan materil, tetapi juga dengan membawa sedikit hiburan untuk para pengungsi.

“Kami segenap pemain dan kru begitu bahagia, bisa melihat tawa dan senyuman di wajah para pengungsi ketika melihat kedatangan kami. Mudah-mudahan saudara saudari kami yang berada di sekitar gunung Semeru bisa segera dipulihkan dan diberikan kekuatan,” tulis dia dalam unggahan Instagram, Kamis (23/12).

Dalam postingan yang sama, manajemen juga meminta maaf jika mereka menyinggung para korban, karena datang di waktu yang tidak tepat. Namun, manajemen menegaskan tidak ada sedikit pun niat untuk memanfaatkan situasi yang ada demi kepentingan konten.

Kendati demikian, Bupati Lumajang Thoriqul Haq menyebutkan proses syuting di kawasan erupsi Semeru tidak mengantongi izin resmi. Baik dari Pemerintah Kabupaten maupun Satuan Tugas (Satgas) Bencana Semeru.

Dalam keterangan resmi yang diunggah di akun Diskominfo Lumajang, bupati yang akrab disapa Cak Thoriq ini menegaskan, tidak ada satu pun pihak yang memberikan izin syuting sinetron di posko pengungsian, baik itu Pemkab Lumajang hingga Komandan Pusat Pengendali Operasi Satgas (Dansatgas) Bencana Erupsi Semeru.

“Tidak ada satupun surat izin yang keluar, baik dari pemkab, polres, atau dansatgas,” ucap Thoriq melanjutkan.

Thoriq menambahkan, Pemkab Lumajang memang menerima surat pengajuan izin untuk syuting di posko pengungsian Semeru. Namun, hingga proses syuting digelar, belum ada surat izin resmi yang keluar dari semua pihak.

img
Nadia Lutfiana Mawarni
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan