close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi seseorang diculik./Foto Estefano/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi seseorang diculik./Foto Estefano/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Senin, 04 Desember 2023 19:27

Stockholm syndrome: Saat sandera simpatik terhadap penculik

Stockholm syndrome adalah kondisi di mana korban malah simpati terhadap penculiknya.
swipe

Pada Sabtu (24/11) malam waktu setempat, seorang sandera kelompok militan Palestina, Hamas, Maya Regev tiba di dekat mobil Palang Merah yang akan membawanya keluar dari Gaza, Palestina. Tak ada rasa takut dari raut wajah perempuan asal Israel itu. Empat pejuang Hamas mengawal Maya yang berjalan tertatih menggunakan tongkat karena kakinya luka akibat luka tembak peluru nyasar ketika terjadi baku tembak antara tentara Israel dan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Sebelum masuk ke dalam mobil Palang Merah, salah seorang anggota Hamas mengucapkan perpisahan, “Bye Maya.” Lantas, dibalas Maya dengan mengucapkan terima kasih. “Bye, syukron (terima kasih),” ujar perempuan 21 tahun itu.

Maya kembali ke Israel setelah 50 hari disandera Hamas. Ia diculik saat menghadiri Festival Musik Supernova di Re’im, Israel bersama adik laki-lakinya, setelah serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober lalu. Menurut media Israel, Haaretz, Maya adalah satu dari 17 sandera—13 warga Israel dan empat warga Thailand—yang dibebaskan Hamas, dengan imbalan pembebasan sandera Palestina.

Tak munculnya raut wajah ketakutan, malah terekam kamera ia senyum, disebut-sebut Maya mengalami stockholm syndrome. Menurut profesor psikologi di North-West University, Llewellyn E. van Zyl dalam tulisannya di Psychology Today, stockholm syndrome adalah fenomena psikologis saat korban yang disandera malah bersimpati, afeksi, bahkan merasa kedekatan emosional terhadap pelakunya.

“Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh psikiater Swedia, Nils Bejerot, pada 1973 setelah mengamati empat orang sandera dalam kasus perampokan bank di Stockholm (Swedia),” tulis van Zyl.

“Dalam kasus tersebut, para sandera menunjukkan perilaku yang aneh setelah dibebaskan. Mereka menolak bersaksi, bahkan mengumpulkan uang untuk membantu pembelaan pelaku.”

Kasus seperti ini memang sangat jarang terjadi. Namun, terdapat beberapa kasus serupa yang mengarah ke stockholm syndrome.

Misalnya, penculikan Mary McElroy pada 1933 oleh empat pria di Amerika Serikat. Dalam risetnya “Stockholm syndrome: A psychiatric diagnosis or just a myth?” di International Journal of Trend in Scientific Research and Development, Somya Singh dari Jaipur National University menyebut, setelah dilepaskan, McElroy justru membela para penculik. Bahkan, ia kerap mengunjungi para penculiknya di penjara.

Kisah McElroy berakhir tragis. Ia bunuh diri dengan menembakan pistol ke kepala pada awal 1940. Ia meninggalkan catatan tentang penculiknya.

“Keempat penculik saya mungkin adalah orang di bumi yang tak menganggap saya bodoh. Sekarang, mereka menghadapi hukuman mati. Tolong, beri mereka kesempatan,” tulis McElroy, seperti dikutip dari riset Somya.

Menurut Forbes, stockholm syndrome tak didefinisikan sebagai kondisi kesehatan mental oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang diterbitkan American Psychiatric Association (APA). Namun, APA menganggap sindrom itu sebagai respons mental dan emosional.

“Dalam istilah yang paling sederhana, stockholm syndrome merujuk pada pengalaman korban yang punya perasaan positif terhadap pelakunya,” kata psikolog klinis dari Texas dan penulis buku Has Your Child Been Traumatized? Melissa Goldberg Mintz kepada Forbes.

van Zyl menulis, beberapa gejala stockholm syndrome melibatkan rasa kasih sayang dan ikatan emosional terhadap pelaku, terbentuknya sikap negatif dan kurang percaya terhadap orang-orang yang mencoba membantu mereka, simpati atau sukarela membantu pelaku, rasionalitas terhadap perilaku kekerasan, melihat tindakan pelaku yang sebenarnya tak baik sebagai tindakan kebaikan luar biasa, dan merasa tak berdaya meninggalkan situasi tersebut.

“Fenomena ini memberikan pemahaman tentang bagaimana kondisi tertentu dapat memengaruhi psikologis korban dan membuat mereka membentuk ikatan emosional dengan pelaku, meski pelaku melakukan tindakan yang merugikan,” tulis van Zyl.

Ketika pelaku sesekali menunjukkan tindakan kebaikan kecil di tengah ancaman, kata van Zyl, justru dianggap sebuah bantuan besar yang membuat korban merasa lega. Lalu, perasaan ini dikombinasikan dengan rasa takut, sehingga membuat korban enggan menunjukkan perasaan negatif terhadap pelaku.

Korban lantas menjadi sangat peka dan terhubung dengan perilaku serta emosi pelaku. Korban mengembangkan strategi untuk membuat pelaku menyukai mereka, bahkan mengadopsi pandangan pelaku sebagai strategi bertahan hidup.

“Jika strategi ini berhasil dan pelaku membiarkan mereka tetap hidup atau sejenak menghentikan kekerasan, korban mungkin mulai melihat pelaku sebagai pahlawan, mengabaikan kekejamannya, dan fokus pada kebaikan kecil yang ditunjukkan pelaku dengan tidak menindas atau membunuh mereka,” kata van Zyl.

Sementara itu, dijelaskan psikolog klinis dan ahli trauma di Sonoma County, California, Carla Manly dalam Forbes, beberapa elemen yang menyumbang terjadinya stockholm syndrome, antara lain kepribadian, genetika, riwayat kesehatan mental, dan faktor situasional dari kejahatan.

Psikolog klinis dan direktur MindClear Integrative Psychotherapy di New York, Noel Hunter, dikutip dari Forbes mengatakan, intinya penyebab stockholm syndrome tergantung pada penculik dan korban merasa terjebak oleh situasi.

"Setiap orang memiliki temperamen yang berbeda—faktor mitigasi seperti figur otoritas yang mendukung dan pengalaman masa lalu—berkontribusi pada keseluruhan rasa kekuatan dan percaya diri mereka (meskipun ini bisa hancur seiring waktu)," katanya kepada Forbes.

Lamanya penahanan, interaksi dengan penculik, dan gaya penanganan korban, menurut Goldberg Mintz adalah faktor-faktor yang mungkin pula memengaruhi stockholm syndrome. Di sisi lain, Goldberg Mintz mengatakan, bila ada trauma terhadap korban, pengobatan dengan terapi bisa membantu mereka.

Kepada Forbes, Hunter pun mengemukakan, stockholm syndrome biasanya memerlukan terapi trauma jangka panjang, dengan tujuan pengakuan korban terhadap apa yang terjadi, melihat bahwa itu adalah kejahatan, dan membangun kesadaran kalau korban tak lagi “terjebak”.

“Usaha ini dapat membantu secara perlahan-lahan mengurai hubungan yang kompleks antara korban dan penculik mereka, serta melalui trauma yang dirasakan,” ujar Hunter.

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan