sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tantangan budaya digital di Indonesia adalah menipisnya sopan santun dan etika

Dalam bermedia sosial atau menggunakan ruan digital, menurut Dian Ikha, dibutuhkan pengendalian diri dan emosi penggunanya. 

Immanuel Christian
Immanuel Christian Sabtu, 26 Nov 2022 16:20 WIB
 Tantangan budaya digital di Indonesia adalah menipisnya sopan santun dan etika

Tantangan budaya digital di Indonesia adalah menipisnya sopan santun dan etika di ruang digital. Beberapa pengguna media sosial bahkan mengutamakan konten yang viral dengan menanggalkan etika. Padahal, untuk viral tak harus menghilangkan akal sehat dan moral.

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam Al Muhajirin Purwakarta Dian Ikha Pramayanti mengatakan, ruang digital yang banyak diisi orang dengan ragam latar belakang dan tujuan, kerap diisi oleh konten-konten negatif. Contohnya adalah konten mengandung muatan ujaran kebencian, kabar bohong atau hoaks, penipuan, dan macam kejahatan siber lainnya. Tak jarang, beberapa konten sama sekali meninggalkan etika.

“Bahkan, dalam survei yang diselenggarakan Microsoft, dari 32 negara yang disurvei, Belanda ada di peringkat tertinggi dalam adab bermedia sosial. Ada pun Indonesia ada di peringkat ketiga paling bawah," kata Dian Ikha dalam diskusi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Sabtu (26/11)

Dalam bermedia sosial atau menggunakan ruan digital, menurut Dian Ikha, dibutuhkan pengendalian diri dan emosi penggunanya. 

Pengendalian itu meliputi membatasi diri untuk tidak berkomentar sembarangan dan membatasi diri tak mengunggah hal-hal yang tak baik atau melanggar norma dan etika. Sebelum meneruskan informasi atau konten, saring terlebih dahulu apakah sudah sesuai dengan norma dan etika atau justru sebaliknya.

“Selalu berpikir apakah saat akan membagikan atau meneruskan informasi maupun konten, sudahkah memenuhi kriteria penting, informatif, kebaikan, inspirasi, dan realita? Kalau memenuhi syarat, silakan konten atau informasi itu diteruskan. Prinsipnya, saring sebelum sharing,” ujarnya.

Dian Ikha menyampaikan , ruang digital adalah dunia kita sekarang ini. Ia mengajak pengguna ruang digital untuk menggunakannya dan menjadikannya sebagai ruang berbudaya, tempat belajar dan berinteraksi, sekaligus tempat anak tumbuh dan berkembang. Ruang digital sekaligus tempat di mana bangsa Indonesia hadir dengan bermartabat dan bijaksana.

Dalam kesempatan serupa, Relawan TIK Kabupaten Tulungagung Jawa Timur Lilik Yulianah mengatakan, generasi muda khususnya anak-anak dan remaja, harus diberikan pendidikan literasi digital sejak dini. Hal itu sebagai upaya, agar tidak membagikan atau meneruskan konten negatif di media sosial.

Sponsored

Selain itu, aturan pembatasan penggunaan gawai harus diterapkan dan disepakati antara anak dengan orang tua. Patut dipahamkan juga bahwa dunia maya tidak jauh berbeda dengan dunia nyata sehingga penerapan etika tetap dibutuhkan.

“Hal penting lainnya adalah jangan mudah percaya 100 % terhadap apa yang ada di ruang digital, termasuk di media sosial. Berpikir kritis sangat perlu dan penting bagi siapa pun yang beraktivitas di dunia maya,” katanya.

Dosen sekaligus relawan TIK Edy Wihardjo mengatakan, keamanan digital dapat didukung dengan melakukan pengamanan perangkat digital yang dimiliki. Salah satunya adalah dengan membuat kata sandi yang kuat yang merupakan kombinasi huruf dan angka.

“Masyarakat bisa membaut kata sandi yang tidak begitu saja, tapi ada kombinasi huruf dan angka,” tandasnya.

Berita Lainnya
×
tekid