logo alinea.id logo alinea.id

Teman tapi mesra, hubungan sekadar indehoi

Hubungan semacam ini dilakukan oleh seseorang yang tak sedang menjalin hubungan khusus dengan siapa pun.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 29 Mar 2019 08:00 WIB
Teman tapi mesra, hubungan sekadar indehoi

Anton, bukan nama sebenarnya, sudah tiga tahun menjalin hubungan friends with benefits dengan seorang pramugari maskapai penerbangan. Friends with benefits merupakan sebuah hubungan yang terjalin dari seseorang yang saling mengenal, namun tidak memiliki status hubungan yang jelas, dengan keuntungan personal yang didapat kedua belah pihak.

Istilah ini, bila dipadankan dengan Bahasa Indonesia kurang lebih serupa dengan teman tapi mesra.

Senang sama senang

“Aku memang memiliki ketertarikan sama dia, tapi tidak untuk dijadikan pacar,” kata dia saat dihubungi reporter Alinea.id, Kamis (28/3).

Ia mengatakan, tak semua perempuan bisa dijadikan pacar atau pasangan yang serius. Menurut dia, pramugari ini merupakan tipe perempuan yang tak cocok dijadikan kekasih. Katanya, ia cocok dijadikan teman saja.

“Teman ha-ha hi-hi, ngobrol, jalan, dan nonton,” tuturnya.

Selain merasa tak ada kecocokan secara emosional, mereka masih memiliki hubungan kekeluargaan, meskipun jauh. Nenek mereka masih saudara.

“Kan malu juga kalau tahu keluarga kami dekat,” katanya.

Sponsored

Ia mengatakan, awalnya teman perempuannya itu tak mau menjalin hubungan teman tapi mesra. Akan tetapi, karena sejak awal menjalin komunikasi Anton sudah menekankan ia tak mau menjalin hubungan terikat, akhirnya si teman perempuan itu luluh juga.

“Dia boleh ngajak jalan, nonton, tapi enggak boleh ngatur-ngatur,” ucapnya.

Karyawan swasta di sebuah perusahaan agensi di Jakarta ini juga tak menampik, ada keuntungan yang ia peroleh dari menjalin hubungan teman tapi mesra. Selain punya teman ngobrol dan teman jalan yang menyenangkan, kepuasan secara seksual juga didapatkannya.

Ia berkilah, tak hanya untung sepihak. Keuntungan ini dirasakan dia dan sang teman perempuannya itu.

Ia berdalih, mereka melakukan hubungan tanpa status ini atas dasar kesadaran yang sama. Bahkan, katanya, saat menjalin hubungan ini, teman perempuannya itu sudah punya pacar.

“Kalau aku prinsipnya enggak mau selingkuh. Kalau dia sih terserah,” ujarnya.

Hubungan teman tapi mesra yang dijalani Anton berakhir pada 2017. Namun, Anton mengaku, hingga kini masih menjalin komunikasi dengan teman perempuannya itu. Meski tak sesering seperti dahulu.

“Akhirnya aku sadar kalau itu enggak baik, makanya diakhiri waktu itu. Tapi dia kadang masih ngontak sebulan sekali. Kalau dia ngajak jalan ya bertiga, aku enggak mau berdua,” katanya.

Dorongan seksual

Relationship coach dan pendiri Kelas Cinta—pusat edukasi, tips, dan trik tentang cinta—Lex dePraxis punya pandangan menarik tentang hubungan teman tapi mesra. Umumnya, kata dia, hubungan semacam ini dilakukan oleh seseorang yang tak sedang menjalin hubungan khusus dengan siapa pun.

Biasanya, kata Lex, terjalin sekadar dorongan seksual. “Tapi mereka sama-sama sadar bahwa pasangan FWB (friends with benefits/teman tapi mesta) ini adalah pasangan yang tidak mungkin dia terima dalam hubungan yang lebih serius,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (28/3).

Lex melanjutkan, tak terjalinnya hubungan ke jenjang yang lebih pasti antara perempuan dan lelaki terjadi karena faktor-faktor, seperti ikatan batin yang tak terjalin, komunikasi yang tak lancar, ditentang keluarga, atau perbedaan etnis dan agama.

“Meski begitu, tapi ada seksual chemistry antara keduanya, gitu lho. Bisa ada horny-nya, dan kalau ngobrol enak aja,” tutur Lex.

Namun lanjut Lex, sama seperti kasus Anton, hubungan teman tapi mesra awalnya tidak diniatkan untuk seksual semata. Hal itu, katanya, biasanya terjadi karena kondisi dan situasi tertentu.

“Entah karena ada satu kejadian, bergandengan, mulai ciuman, atau mungkin tidur bareng,” katanya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Adaa..?? #penulismalam #bertepuksebelahtangan #temantapimesra #pacarkhayalan #qouteskendari #qoutescinta

Sebuah kiriman dibagikan oleh penulismalam???? (@_penulismalam) pada

Lanjut setelah menikah

Dihubungi secara terpisah, psikolog Sani Budiantini Hermawan mengatakan, hubungan teman tapi mesra lazimnya terjadi pada remaja yang sedang beranjak dewasa, yang tak menginginkan menjalin hubungan serius dengan seseorang.

Sebab, bila menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, ada sesuatu yang secara psikologis terlibat, seperti orang tua atau latar belakang. Kasus teman tapi mesra, kata Sani, tak ada jalinan seperti itu.

“Mereka mempunyai keinginan untuk memiliki, tapi engak ada hubungan yang pasti. Lebih dari pada teman, tapi bukan pacar,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (28/3).

Sementara itu, Lex dePraxis berpendapat, hubungan seperti ini dapat berlangsung hingga perempuan atau lelaki memiliki pasangan, dan bahkan telah menikah. Namun, katanya hal ini berbeda dengan selingkuh.

“Kalau dia punya pasangan lain hanya setelah menikah itu bukan FWB namanya, tapi selingkuh. Namun, kalau dia punya FWB sejak sebelum menikah dan terus berlanjut, mungkin itu juga bisa disebut selingkuh, tapi dengan FWB,” ucapnya.

Menurutnya, pasangan selingkuh punya tuntutan lebih, seperti keinginan untuk punya status hubungan yang jelas atau untuk orang yang sudah menikah, menuntut untuk dinikahi. Sementara teman tapi mesra tidak.

“Makanya FWB ini, misalkan sudah menikah, mungkin juga terus dipertahankan, masih berlanjut. Dan FWB ini masih ingin ketemuan cuma untuk indehoi doang, dan enggak mau married juga,” katanya.

Bukan gangguan

Sani Budiantini Hermawan mengatakan, berdasarkan kasus yang pernah ditanganinya, pasiennya seorang perempuan menjalin hubungan tanpa status lebih karena tidak punya kepercayaan diri untuk menjalin hubungan dengan seseorang, frustasi, dan merasa kesepian.

Acapkali ia gagal dalam menjalin hubungan. Ia menjalin hubungan teman tapi mesra agar ia merasa diakui, dan ada orang yang menginginkannya.

Menurut Sani, keuntungan yang didapatkan lelaki dan perempuan berbeda. Lelaki, kata dia, lebih mencari keuntungan secara seksual. Sedangkan perempuan lebih kepada perasaan emosional dan kenyamanan.

Bagi Sani, orang yang menjalin hubungan teman tapi mesra tak bisa disebut punya kelainan secara psikologis. Kata dia, hal ini hanya menandakan seseorang punya karakter khas, dan memiliki hasrat untuk mencoba sesuatu yang baru.

“Saya melihat sebagai orang yang punya karakter khas saja kali ya. Bisa juga ke arah orang yang berani ambil risiko atau ingin tahu, ingin coba saja iseng-iseng,” katanya.