logo alinea.id logo alinea.id

Titiek Puspa, mengajarkan budi pekerti lewat lagu

Titiek Puspa merasa prihatin dengan kondisi bangsa, terutama cara berpikir dan bertindak anak muda ke orang tua yang berubah.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Jumat, 26 Apr 2019 17:53 WIB
Titiek Puspa, mengajarkan budi pekerti lewat lagu

Usia penyanyi Titiek Puspa tak muda lagi. November nanti, umurnya menginjak 82 tahun. Meski begitu, hingga kini biduan kelahiran Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan pada 1937 tersebut masih eksis di dunia hiburan.

Ia berujar, sepanjang puluhan tahun berkarier di dunia musik, dirinya tak pernah terlalu merencanakan jumlah album atau lagu. Ia sudah mengeluarkan 13 album solo.

“Saya menjadi penyanyi itu tidak pernah bercita-cita bikin album sampai sekian. Saya penyanyi paling kere, paling tidak berencana mau bikin album, karena dalam hari-hari saya ada saja yang saya kerjakan,” ujarnya ketika berbincang dengan reporter Alinea.id di kediamannya, Jalan Darmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (24/4).

Titiek pun memperoleh beragam penghargaan atas konsistensinya dalam bidang musik, di antaranya Lifetime Achievement Award 2016, Lifetime Achievement Award Indonesian Choice Awards 2018, dan Pengabdian Seumur Hidup di Bidang Penyiaran Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia 2018.

Ia juga pernah menjadi nominasi pemeran pendukung wanita terbaik Festival Film Indonesia 2016 lewat film Kisah Tiga Dara.

Sembuh dari kanker

Akan tetapi, usia senja membuat seseorang rentan terserang penyakit. Pada 2011, ia pun pernah divonis dokter terkena penyakit kanker rahim. Mulanya, ia mencoba perawatan di sebuah rumah sakit di Singapura. Namun, penyakitnya malah tambah parah.

Dua setengah bulan ia menjalani perawatan di sana. Lantas, ia pun pasrah, menyerahkan nasibnya kepada Tuhan.

“Saya minta sama Tuhan, penyakit ini apa artinya? Jika memang waktunya, ambil saja saya. Tetapi jika saya masih harus hidup, kasih saya isyarat,” kata Titiek.

Meski masih bingung apa yang harus dilakukan, Titiek lantas kembali ke Indonesia. Di tanah air, Titiek justru mendapatkan jalan untuk kesembuhannya.

Titiek Puspa pertama kali mendapatkan penghargaan sebagai juara Bintang Radio jenis hiburan tingkat Jawa Tengah pada 1954. Alinea.id/Annisa Rahmawati.

Suatu hari, putri pertamanya, Petty Tunjung Sari berkisah kepadanya tentang keberhasilan seorang temannya sembuh dari strok separuh badan setelah mengikuti terapi pernapasan.

Ia lantas mengikuti saran putrinya. Terapi tersebut tanpa obat-obatan. Titiek hanya melakukan terapi duduk, dengan posisi tegak, kaki rapat, lidah melipat ke belakang, dan kedua telapak tangan diletakan di atas paha. Kemudian, menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya pelan-pelan.

Setiap hari, ia melakukannya sebanyak lima kali, dengan durasi masing-masing sejam. Selama 13 hari Titiek mencoba terapi ini. Setelah 13 hari, ia dinyatakan sembuh.

Pengalaman sakit pernah membuat Titiek mengalami perubahan nama sebanyak tiga kali ketika masih anak-anak. Awalnya, ia bernama Sudarwati, kemudian menjadi Kadarwati, lantas Sumarti. Nama Titiek Puspa sebagai nama panggung diambil dari panggilannya sehari-hari, Titiek, sementara nama Puspa diambil dari Puspo, nama ayahnya.

Duta Cinta

Pelantun lagu “Kupu Kupu Malam”, “Bimbi”, “Jatuh Cinta”, “Marilah Kemari”, “Apanya Dong”, dan “Gang Kelinci” ini memang diberkahi talenta untuk terus eksis di dunia hiburan, meski usainya tak muda lagi.

Ia masih aktif menciptakan lagu. Sebagian besar karyanya dinyanyikan kelompok penyanyi anak-anak Duta Cinta, yang dibimbingnya. Kelompok penyanyi anak-anak ini dibentuk pada 2014.

Titiek memang gemar membuat kelompok seni. Bila masih ingat, ia pernah membentuk Persatuan Artis Penyanyi Ibu Kota (Papiko) pada 1972, yang menjadi wadah para penyanyi yang berdomisili di Jakarta. Papiko mengadakan pertunjukan operet—pentas opera berupa teater musikal di TVRI pada 1970-an hingga awal 1990-an, menyemarakan Idulfitri.

Duta Cinta beranggotakan delapan anak perempuan dan dua anak laki-laki. Melalui grup vokal anak-anak ini, Titiek ingin menyalurkan kepeduliannya kepada generasi muda, terutama untuk membina kepribadian santun.