sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mengharap akhir tradisi Chhaupadi yang mematikan di Nepal

Puluhan perempuan di Nepal, salah satu negara termiskin di Asia, telah kehilangan nyawa dalam beberapa tahun terakhir akibat Chhaupadi.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Sabtu, 28 Jul 2018 08:30 WIB
Mengharap akhir tradisi Chhaupadi yang mematikan di Nepal
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 60695
Dirawat 30091
Meninggal 3036
Sembuh 27568

Periode menstruasi mungkin menjadi masa paling menakutkan bagi para perempuan Nepal. Sebuah ritual kuno yang meski dilarang namun tetap umum dilakukan membuat mereka akan diasingkan ke sebuah gubuk atau kandang hewan, tidak diizinkan berpartisipasi dalam kegiatan keluarga, berinteraksi dengan laki-laki, dilarang menyantap menu tertentu, dan deretan aturan 'kejam' lainnya. 

Praktik mengisolasi wanita yang tengah menstruasi karena dianggap dalam kondisi "kotor" dikenal sebagai Chhaupadi. Itu sudah dilarang pada tahun 2005, namun hingga hari ini tetap lazim terjadi di bagian barat Nepal. 

Puluhan wanita dan anak perempuan di Nepal, salah satu negara termiskin di Asia, telah kehilangan nyawa dalam beberapa tahun terakhir akibat tradisi ini. 

Seorang gadis berusia 19 tahun meninggal tahun lalu akibat digigit ular saat tidur di sebuah gubuk selama diasingkan. Seorang gadis lainnya yang berusia 15 tahun dilaporkan mati lemas setelah menyalakan api agar tetap hangat di gubuk yang berventilasi buruk.

Parbati (17) mengisahkan bahwa dia takut ketika mengalami menstruasi pertamanya. Saat itu usianya 12 tahun dan dia merasa tidak ingin memberi tahu siapapun. Namun, pada akhirnya dia menceritakan pada kakak iparnya. Dia diasingkan di 'chhaugoth', sebuah pondok yang terpisah dari rumah, tempat di mana perempuan dipaksa tinggal selama menstruasi.

Suatu hari, Parbati memutuskan bergabung dengan sebuah kelompok remaja putri yang didukung oleh ActionAid di mana dia dididik tentang hak-hak seksual dan reproduksi. Remaja itu kemudian memberi tahu orang tuanya tentang aspek membahayakan dari chhaupadi, dan hasilnya dia tidak lagi diasingkan saat menstruasi.

"Orang tua saya senang ketika saya tinggal di rumah (saat menstruasi) karena mereka juga merasa tidak aman bagi saya tinggal di chhaugoth," tutur Parbati.

Dari sudut pandang seorang ibu, Durga (30), juga mengalami kecemasan tentang tradisi Chhaupadi. Dia khawatir putrinya yang berusia 14 tahun akan diperkosa ketika diasingkan.

Sponsored

Durga yang juga menjalani ritual Chhaupadi sejak usia 14 tahun mengatakan, "Saya sangat takut ketika putri saya tinggal di chhaugoth. Saya takut ada orang jahat datang dan memerkosanya."

Dia menambahkan, "Saya harus mempraktikkannya karena tekanan sosial. Jika saya tidak melakukannya, saya akan diasingkan di komunitas."

Rajkumari, seorang polisi berusia 23 tahun di distrik Doti di barat Nepal yang bekerja sama dengan ActionAid untuk mengakhiri praktik chhaupadi mengatakan, skala masalahnya sangat besar. Dalam empat tahun terakhir, hanya satu kasus Chhaupadi di distrik Doti yang berhasil dilaporkan.

"Beberapa orang berpikir bahwa (chhaupadi) itu baik karena menaati Tuhan. Meskipun kami berusaha meyakinkan penduduk setempat, namun mereka mengatakan, 'ini adalah budaya kami, lalu siapa Anda datang ke sini dan mengusik budaya kami?'," kisah Rajkumari.

"Sebelumnya perempuan tidak diizinkan bersekolah saat menstruasi. Tapi sekarang mereka bisa melakukannya," imbuhnya.

Ada keyakinan yang kuat di antara penduduk setempat bahwa jika perempuan yang tengah menstruasi diizinkan tetap tinggal di dalam rumah maka petaka akan datang, baik dalam bentuk bencana alam ataupun penyakit bahkan kematian bagi anggota keluarga dan ternak. 

Anggota keluarga laki-laki percaya bahwa tradisi Chhaupadi harus diikuti untuk menghindari nasib buruk. Sikap mereka didukung oleh anggota keluarga senior dan tetua desa.

Rentang waktu untuk diasingkan berbeda-beda. Wanita yang belum menikah harus tinggal selama enam hari, yang sudah menikah dan memiliki anak (putra dan putri) harus diasingkan selama lima hari, dan wanita yang hanya memiliki anak perempuan harus tinggal di gubuk selama tujuh hari.

Adapun bagi perempuan yang baru mendapat menstruasi diharuskan tinggal antara sepuluh dan sebelas hari. Itu sama halnya dengan wanita yang baru melahirkan.

Pada November 2016, Dambara Upadhyay meninggal setelah menghabiskan empat malam di pengasingan. Perempuan usia 21 tahun tersebut ditemukan oleh saudara iparnya dalam kondisi keluar darah dari hidung. Polisi menduga dia mengalami serangan jantung, namun laporan awal postmortem tidak berhasil mengungkap penyebab kematiannya.

Pemicu kematian lainnya dalam ritual chhaupadi adalah serangan hewan liar. Meski demikian, yang paling umum adalah akibat menghirup asap dari api yang dinyalakan untuk menghangatkan badan.

Payung hukum

Pada Agustus tahun lalu, sebuah undang-undnag disahkan untuk menghukum orang-orang yang memaksa perempuan menjalani ritual chhaupadi. Undang-undang ini akan mulai berlaku bulan depan.

Hukuman penjara tiga bulan atau denda US$300 atau bahkan keduanya akan dikenakan bagi siapapun yang mengasingkan perempuan yang sedang menstruasi. Bagaimanapun perempuan di Nepal mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak payung hukum, mengingat belum banyak yang menyadari keberadaan undang-undang tersebut.

"Budaya tabu saat menstruasi berarti perempuan dipaksa untuk menjalaninya dengan cara yang tidak nyaman, tidak sehat, dan tidak efektif. Akhir ekstrem dari stigma-stigma, seperti chhaupadi ini benar-benar dapat berujung kematian," jelas Girish Menon, chief executive ActionAid Inggris.

"Kurangnya akses pendidikan dan dukungan juga dapat menempatkan anak perempuan pada risiko yang lebih besar terhadap pernikahan dan kehamilan dini, yang berarti siklus kemiskinan, ketidaksetaraan gender, dan kekerasan terhadap perempuan menjadi lebih sulit dihentikan."

ActionAid, yang berusaha untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan di seluruh dunia, telah bekerja di Nepal bagian barat selama lebih dari 10 tahun. Mereka telah membentuk kelompok-kelompok yang memungkinkan perempuan lokal bersama-sama mendiskusikan Chhaupadi serta mengampanyekan masa menstruasi yang alami dan sehat.

LSM itu mengatakan lebih dari 1.400 wanita usia reproduktif telah berhenti melakukan chhaupadi dalam satu dekade terakhir. ActionAid juga telah membantu mendirikan setidaknya 11 komunitas 'Chhaupadi Free' di bagian barat negara itu dalam lima tahun terakhir.

 

Sumber: Independent dan The Diplomat
 

Berita Lainnya