logo alinea.id logo alinea.id
Rahmat Yananda

Ahmad Zaky, Bukalapak, dan ekosistem inovasi

Rahmat Yananda Sabtu, 16 Feb 2019 11:14 WIB

Klarifikasi Ahmad Zaky, CEO Bukalapak, seharusnya menyudahi kecaman bahwa twitnya menunjukkan ia berpihak menjelang pilpres 2019. Melalui twit tersebut,  Zaky prihatin atas kecilnya anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk Research and Development (R&D) menuju era Industri 4.0. Twitnya mendapat kecaman warganet, khususnya pendukung pasangan 01, karena menyudutkan kebijakan pemerintah Jokowi. Dan sebagian pendukung 01 mengajak uninstall aplikasi Bukalapak. Tetapi ada juga pendukung capres 01 menolak ajakan tersebut dan menganggapnya tidak relevan. 

Upaya klarifikasi Zaky yang disertai permintaan maaf dengan menggambarkan kedekatan dirinya dengan Presiden Jokowi, seharusnya menentramkan warganet yang mengecamnya. Ternyata perdebatan terus berlangsung dengan mempertanyakan data yang dipakai Zaky. Ada yang menyatakan data yang dipakai Zaky tidak akurat. Ada juga warganet yang memberikan data pembanding. Perdebatan terkait data ini dapat menjadi pintu masuk yang lebih objektif untuk mengakomodasi twit Zaky terkait pentingnya anggaran R&D. 

Keprihatinan Zaky perlu mendapatkan perhatian pengambil kebijakan, khususnya pasangan capres. Keprihatinan itu tentu saja bersumber dari pengalamannya sebagai wirausahawan pelopor di era ekonomi digital, yang telah mengantarkan Bukalapak sebagai perusahaan unicorn bergabung bersama Gojek, Tokopedia dan Traveloka. 

Zaky telah menjadi simbol milenial sukses. Sebagai salah seorang pendiri Bukalapak, Zaky sepertinya mendapatkan peran di “ruang depan”. Peran yang juga diambil para pelopor klasik, seperti Steve Jobs dan Jack Ma. Salah satu peran tersebut adalah memperkuat narasi brand Bukalapak sebagai platform e-commerce karya anak bangsa. Kata “Bukalapak” memiliki asosiasi kuat dengan aktivitas ekonomi orang kebanyakan, para pelapak. Mereka adalah representasi dari pedagang kecil (kaki lima dan UKM). Memanfaatkan narasi tersebut Bukalapak mengekspresikan keberpihakan. 

R&D adalah aktivitas pendukung inovasi teknologi untuk menyemai suatu ekosistem  di mana platform e-commerce seperti Bukalapak hidup. Ekosistem inovasi yang subur akan menjadi wadah tumbuh dan berkembangnya Bukalapak bersama dengan para pelapak. Sebaliknya, ekosistem yang gersang akan mematikan Bukalapak, yang juga akan membawa kematian untuk para pelapak. Wajar sekali Zaky sebagai penyelenggara platform mendorong suatu ekosistem yang sehat karena sejalan dengan tujuan perusahaan. Salah satu pupuk yang baik adalah kegiatan R&D. Anggaran R&D yang memadai mendorong riset yang membuka jalan inovasi teknologi.  Artinya, kesuburan ekosistem karena dukungan inovasi teknologi akan memperbanyak pedagang dan aktivitas perdagangan, yang berdampak positif secara langsung maupun ikutan. 

Bukalapak sebagai perusahaan e-commerce memiliki tujuan memberdayakan jutaan penjual di seluruh Indonesia dan menjadi platform utama untuk menghubungkan penjualnya dengan puluhan juta pembeli daring Indonesia. Bukalapak juga menawarkan peluang dan lingkungan bagi para insinyur yang ingin menumbuhkan bakat dan mengembangkan karir. Bukalapak selalu membuka mata untuk talenta teknologi yang dapat mempercepat kemajuannya dalam mewujudkan misinya (crunchbase.com, 15/02/2019). 

Indeks Inovasi

Perdebatan data tentang anggaran R&D dapat dilihat dari perbandingan posisi inovasi Indonesia dengan negara lain. Salah satu data yang sering menjadi rujukan adalah The Global Innovation Index (GII) yang dipublikasikan INSEAD Business School bekerjasama dengan World Intellectual Property Organization (WIPO). Beberapa publikasi lain dapat juga menjadi rujukan walaupun tidak selalu memasukan Indonesia dalam evaluasinya atau tahun publikasi bukan yang paling terbaru. Sumber lain tersebut adalah The Economist Intelligence Unit Innovation Report, The Global Innovation Scoreboard, The OECD STI Indicators, dan The Innovation Union Competitiveness Report (Adam, 2014). 

The Global Innovation Index 2018: Energizing The World Innovation (Dutta, Lanvin dan Sacha Wunsch-Vincent. Ed., 2018) menempatkan Indonesia di peringkat 85 dari 126 negara. Peringkat Indonesia tersebut naik 2 posisi dari tahun 2017 yang berada di posisi 87. Akan tetapi untuk negara-negara Asia, posisi tersebut masih berada di bawah Singapura (5), Korea (12), Jepang (13), Hongkong (14), Cina (17), Malaysia (35), Thailand (44), Vietnam (45), India (57), Brunei Darussalam (67), dan Filipina (73). Posisi Indonesia di atas Srilanka (88), Kamboja (98), Nepal (108), Pakistan (109), dan Banglades (116).

Kerangka kerja pengukuran inovasi bersumber dari dua indeks, yaitu (1) sub indeks input inovasi dan (2) sub indeks ouput inovasi. Indeks skor adalah rata-rata dari gabungan input dan ouput sub indeks tersebut. Sub indeks input inovasi terdiri atas kelembagaan (lingkungan politik, regulasi dan bisnis), SDM dan Riset (pendidikan, pendidikan tinggi dan R&D), infrastruktur (TIK, infrastruktur umum, dan keragaman hayati), kemajuan pasar (kredit, investasi, dan perdagangan, kompetisi dan skala pasar), dan kemajuan bisnis (pekerja ahli, jaringan inovasi, dan penyerapan pengetahuan). Sedangkan Sub indeks output inovasi terdiri atas ouput pengetahuan dan teknologi (penciptaan, dampak dan difusi) dan ouput kreatif aset intangible, produk dan jasa kreatif, kreatifitas berbasis daring). 

R&D masuk ke dalam sub indeks input inovasi. Aktivitas R&D diukur berdasarkan tingkatan dan kualitas R&D dengan indikator pada peneliti (penuh waktu), pengeluaran kotor,  pengeluaran R&D dari belanja tertinggi negara-negara untuk R&D, dan kualitas lembaga riset dan ilmu pengetahuan yang diukur berdasarkan skor rata-rata tiga universitas tertinggi dalam QS World University Peringkat of 2017. Pengeluaran R&D untuk tiga perusahaan teratas di suatu negara juga diukur dengan melihat pengeluaran rata-rata dari ketiga perusahaan ini yang merupakan bagian dari 2.500 pembelanjaan R&D teratas di seluruh dunia.

Anggaran R&D Indonesia Lemah

GII membagi indeks-indeks tersebut terdiri atas indikator kuat, lemah, kelompok dengan pendapatan kuat dan kelompok dengan pendapatan lemah. Peringkat Indonesia di sub indeks output inovasi di posisi 73 (12 peringkat di atas rata-rata/peringkat). Sementara peringkat Indonesia berdasarkan sub indeks input inovasi berada di posisi 90 (5 peringkat di bawah rata-rata/peringkat). SDM dan Riset sendiri berada di peringkat 94 yang berada 4 posisi di bawah rata-rata peringkat sub indeks input inovasi (90). SDM dan Riset memiliki turunan beberapa indeks yang salah satunya adalah R&D. R&D terbagi atas peneliti dan FTE, pengeluaran kotor dan persentase GDP, pengeluaran perusahaan global, dan peringkat QS.

Indeks R&D Indonesia berada di peringkat 60. Peringkat tersebut jauh di atas rata-rata indeks SDM dan riset (94) dan sub indeks input inovasi (90). Melonjaknya peringkat tersebut didorong oleh peringkat QS (37) dan anggaran R&D perusahaan global (40), walaupun secara kelompok pendapatan perusahaan peringkat tersebut didiindikasikan lemah. Ternyata benar pengeluaran Indonesia untuk R&D terindikasi lemah bertengger di peringkat 107. Posisi tersebut berada cukup jauh di bawah peringkat Indonesia (85), sub indeks input (90) dan sub indeks output (73), indeks SDM dan Riset (94), dan apalagi untuk R&D (60). Pengeluaran untuk R&D tidak hanya menduduki peringkat terendah untuk indeks R&D juga merupakan peringkat terendah di indeks SDM dan riset.
 
Keadaan tersebut berdampak kepada pertumbuhan ekosistem ekonomi digital. Wajar sekali Zaky, dan seharusnya kita semua, khawatir dengan kondisi inovasi Indonesia. Tertinggal jauh dari negara-negara di Asia apalagi dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Brunei Darussalam. Startup dan unicorn asli Indonesia sebagai karya anak bangsa menjadi tidak kompetitif yang memudahkan pemain asal negara tetangga masuk ke pasar Indonesia. Sebagai perusahaan yang dapat tumbuh dan berkembang dengan logika moore’s law, tentu saja unicorn-unicorn Indonesia dapat terkena dampak yang telah memberikan keunggulan untuk mereka, yaitu disrupsi.

Apa yang terjadi jika inovasi teknologi tak kunjung datang dan ekosistem ekonomi digital tak kunjung subur? Para pendiri unicorn yang telah berjuang dari perusahaan rintisan akan mendatangi ekosistem terdekat seperti Singapura dan India. Mereka akan mendapatkan sebagian kebutuhan yang diperlukan. Jika mereka punya mimpi lebih besar dari unicorn, maka mereka akan mencari ekosistem kelas dunia seperti Silicon Valley. Sebagai informasi penting, unicorn-unicorn papan atas di Silicon Valley dan AS secara umum,  para pendirinya adalah imigran seperti Elon Musk (SpaceX/Afsel), Garrett Camp (Uber/Kanada), Ash Ashutosh (Actifio/India), Kenneth Lin (Credit Karma/Cina), Stepan Pachikov (Evernote/Azerbaijan) dan lain-lain. 50 dari 91 (55%) pendiri unicorn di AS adalah imigiran (Anderson, 2018, National Foundation For American Policy).

Para capres (01) dan (02) harus melihat twit Zaky dan rangkaian perdebatan di media sosial sebagai masukan kebijakan inovasi. Para capres tentu saja harus memiliki visi ekonomi ke depan berdasarkan perkembangan termutakhir. Sebagai negara yang menghadapi ancaman deindustrialisasi yang salah satu penyebabnya adalah lemahnya inovasi teknologi, keberadaan unicorn-unicorn ini harus dilihat sebagai salah satu kekuatan dan peluang untuk menyusun catch-up strategy. Mereka telah terbukti memiliki kemampuan untuk melentingkan inovasi teknologi menjadi kekuatan ekonomi.

Awalnya Amazon adalah perusahaan yang hanya menjual buku secara daring. Sekarang Amazon telah memiliki beragam lini usaha sampai dengan jasa bepergian ke luar angkasa mengikuti SpaceX. Alibaba dari suatu perusahaan perdagangan B2B telah berkembang melahirkan beragam bisnis dan anak perusahaan seperti Alipay, Taobao dll), yang valuasinya melampau Amazon dan eBay. Alibaba menjadi salah satu simbol dominasi China di era ekonomi digital. 

Hanya pemimpin yang cerdas, bermental entrepreneur (berani dan kreatif), memiliki pengalaman dan jaringan bisnis global, dan tentu saja memahami serta dekat dengan gaya hidup milenial yang mampu memahami keprihatinan Zaky. 

Lebay (sekali) mengecam Zaky habis-habisan karena menyampaikan keprihatinannya dengan data yang tidak akurat dan mengabaikan perjuangannya (Bukalapak) memberikan kesempatan kepada jutaan anak negeri!