logo alinea.id logo alinea.id
Mutimmatun Nadhifah

Ekonomi budaya pop Kartini

Mutimmatun Nadhifah Senin, 22 Apr 2019 23:16 WIB

“Bagi para tamu wanita yang datang mengenakan kebaya di Hari Kartini, kami memberi diskon khusus 50% untuk menikmati hidangan di restoran kami.” Ini adalah pernyataan resmi dari manajer Hotel Santika Premiere, salah satu hotel di Bintaro, Jakarta (Tempo, 14 April 2016).

Hotel telah menyiapkan kuliner spesial untuk menyambut Hari Kartini seperti paduan ayam dan tuna yang diolah dengan roti berharga Rp125.000. Iklan-iklan mulai disebarkan agar perayaan semakin meriah.

Kejadian tiga tahun lalu terus berulang sampai sekarang, misal salah satu hotel di Yogyakarta menyebar poster untuk merayakan Hari Kartini dengan lomba mewarnai dan fashion show. Ada yang harus dipenuhi peserta dengan mengenakan busana “kebaya modern jaman now” dan uang kontribusi.

Tentu itu hanya sebagian contoh. Kasus lain akan menampilkan sosok Kartini dalam rupa yang lebih canggih. Kartini mutakhir bukan hanya lembaran-lembaran surat, tapi telah menjadi ikon ekonomi bersegmentasi perempuan. 

Gagasan Kartini tentang emansipasi wanita di Indonesia khususnya di Jawa tersebar melampaui batas negara dan waktu. Kartini tidak hanya menjadi simbol wanita Jawa tapi juga perempuan Indonesia. Untuk menyambut dan memperingati Hari Kartini ada banyak agenda yang dilakukan banyak lembaga dengan mewajibkan semua karyawan memakai baju kebaya adat Jawa pada tiap tanggal 21 April tiba.

Begitu juga dengan foto-foto Kartini yang dipajang depan hotel dan pusat perbelanjaan mengajak mata perempuan untuk memasuki dan berbelanja di mal. Agenda ini dianggap cukup untuk menjadi tanda peringatan jasa perempuan di masa lampau.

Ikon Kartini yang hadir melalui agenda diskon produk-produk menjadi tanda bahwa agenda peringatan dan perayaan Kartini dikhususkan untuk kaum perempuan. Pelekatan nama Kartini dalam produk-produk yang dimiliki oleh kaum perempuan menjadikan Kartini hanya milik kaum perempuan.

Hari Kartini hanya bisa dirayakan di salon, mal, dan tempat-tempat lain yang biasa dikunjungi perempuan. Kartini hanya dimaknai sosok perempuan bukan gagasan yang bisa dirayakan, dibaca dan bahkan ditafsirkan ulang. Tentu tidak ada pembedaan jenis kelamin untuk membahas gagasan dan diri Kartini. 

Kartini telah menjadi ikon budaya pop yang turut melariskan penjualan dan pemasaran barang. Hal ini sama dengan yang terjadi pada kasus Ernesto “Che” Guevara, penggerak gagasan Marxist di Amerika Selatan. Dalam tulisan berjudul Dijual: Revolusi, kolumnis Bre Redana (2015) menulis petualangan tanpa iklan yang dilakukan Che untuk menyusuri negara-negara Amerika Selatan dengan motor Norton 500 cc.

Perjalanan ini telah menumbuhkan humanisme dalam dirinya perihal kemiskinan dan perjuangan yang ditemuinya. Maka, bangkitlah jiwa humanis radikal pemuda yang masih berumur 23 tahun dan masih berstatus mahasiswa kedokteran itu hingga gagasannya menyebar sampai Afrika dan Asia. Namun, heroisme Che kini hanya dikenal dan dikenang dalam sebuah foto lengkap dengan motornya yang menempel di kaus-kaus pemuda metropolitan yang narsis.

Nasib Kartini mutakhir di Indonesia juga hampir seperti Che. Dalam novelnya Pulang, Leila S. Chudori (2012: 157-162) menarasikan tokoh Lintang yang akan menghadiri perayaan Hari Kartini di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris. Lintang harus masuk ke perpustakaan Beauborg mencari dan membaca buku kumpulan surat Kartini yang masyhur Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai bekal menghadiri peringatan tahunan itu.

Lintang sadar, Hari Kartini adalah perayaan dan pengayaan gagasan! Namun, setelah sampai di KBRI, Lintang kecewa berat dan mengajukan pertanyaan menonjok: “apakah mereka yang memperingati Hari Kartini sudah membaca kumpulan surat-surat Kartini dan gagasannya tentang pendidikan?

Lalu kenapa peringatan Hari Kartini hanya berlalu di gedung megah dengan makanan dan minuman mewah, kemeja batik dan kebaya mahal yang dikenakan oleh para pejabat.” Lintang menganggap peringatan itu telah menggagalkan imajinasi emansipasif Kartini sebagai tokoh penyemai gagasan pendidikan di Jawa dan Indonesia. Novel akhirnya turut mengabarkan kepada kita pemaknaan dan perayaan picisan Kartini dalam gedung-gedung megah pemerintah di dalam atau luar negeri. 

Peringatan Hari Kartini terlalu berisik dan terlalu mahal, juga seremonial. Gagasan Kartini yang sampai pada kita adalah kata-kata tertulis Kartini, bukan ucapan langsung Kartini. Artinya, kita memahami Kartini tidak secara langsung, sedikit berjarak yang diperantarai oleh surat-suratnya, dan itu pun tanpa surat-surat yang dikirimkan padanya. Surat Kartini hadir sebagai renungan reflektif bersama nuansa kesyahduan, kesunyian, juga kegetiran. Bersama surat-surat Kartini, kita memasuki dunia respublica literaria pada abad ke-19. 

Respublica literaria

Secara historis, pada abad ke-15 terbentuk respublica literaria yang menjadi forum kebebasan akademik. Surat-menyurat mempertemukan para pemikir politik, ilmuwan alam, sastrawan, dan kaum ningrat lainnya. Surat-menyurat inilah yang kemudian mengembangkan pemikiran bebas di mana kebebasan akademis universitas terkena imbas pertikaian agama.

Beberapa pemikir terbesar Eropa seperti Erasmus dan Copernicus, Galileo dan Descartes, Newton dan Bacon hidup dalam respublica literaria. Suratlah yang telah membesarkan Eropa. Dan Kartini ada dalam arus besar ini.

Surat sebagai etos pertukaran gagasan dan kepedulian menjadi jalan yang ditempuh Kartini demi pemartabatan diri. Gagasan Kartini yang revolusioner tidak datang secara mendadak, ada pertaruhan gagasan dalam waktu yang lama meski adat memaksa untuk menerima semua sebagai sebuah kodrat. Waktu yang lama itu telah membentuk gagasan Kartini untuk terus bertanya ihwal yang terjadi di sekitarnya dan mencari jawabannya dari buku dan majalah yang dia baca, juga dari komunikasi lewat surat bersama temannya di Belanda. 

Dalam sejarah pergerakan kemajuan bangsa Indonesia, surat-surat Kartini telah memberikan arah yang jelas dalam perjuangan. Pemikiran Kartini dalam surat-surat itu telah memberikan suluh bagi para pemimpin awal Indonesia. Dan pada abad XXI ini, RA Kartini masih bisa kita obrolkan meski nama besar Kartini telah dijual dan dibisniskan. Kartini hidup sebagai ikon budaya pop dalam arus ekonomi.