logo alinea.id logo alinea.id
Riza Annisa Pujarama

Keberlangsungan pasokan energi listrik di Indonesia

Riza Annisa Pujarama Rabu, 07 Agst 2019 19:11 WIB

Listrik merupakan salah satu sumber energi pokok yang memengaruhi aktivitas masyarakat di antaranya aktivitas rumah tangga, industri, perdagangan, transportasi, dan telekomunikasi.

Padamnya listrik di sebagian Pulau Jawa dan Bali telah melumpuhkan perekonomian karena aktivitas ekonomi banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, ditambah penduduknya lebih banyak dan lebih metropolis yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap akses listrik. 

Padamnya listrik langsung menuai kritik dari masyarakat. Pemerintah pun langsung mengambil tindakan. Upaya perbaikan memang langsung dilakukan, namun kerugian secara ekonomi tak bisa dihindarkan. Selain melakukan perbaikan pada jaringan sutet yang terputus, Pemerintah (dalam hal ini PLN) juga melakukan upaya ganti rugi dengan memberikan kompensasi berupa pemotongan tagihan listrik untuk konsumen rumah tangga, industri, dan usaha. 

Tetapi tentunya perkara padamnya listrik ini bukan permasalahan temporer yang hanya cukup diatasi dengan perbaikan jaringan yang rusak dan kompensasi materi pada pelanggan. Lebih jauh dari itu, perlu ada perbaikan sistem dan manajemen dalam upaya penyediaan listrik.

Dari investigasi awal yang dipaparkan PLN pada publik, salah satu penyebab padamnya listrik adalah karena pohon, yang seharusnya itu masuk dalam manajemen perawatan jaringan listrik. Seharusya pohon itu secara otomatis sudah ditebang sebagian agar tidak mengganggu jaringan listrik sebelum hal ini terjadi. 

Padamnya listrik di sebagian Pulau Jawa dan Bali ini juga menyisakan tanya pada kesiapan Indonesia dalam menjaga keberlangsungan pasokan energi listrik. Keberlangsungan pasokan energi listrik ini penting dan perlu dipersiapkan terutama karena beberapa hal, di antaranya adalah: 1. Energi listrik merupakan energi ramah lingkungan yang akan banyak digunakan ke depannya; 2. Ketersediaan infrastruktur energi listrik penting untuk dunia usaha dan investasi; 3. Era 4.0 membutuhkan energi listrik sebagai sumber penggeraknya.

Isu lingkungan menjadi salah satu alasan terkuat untuk melakukan konversi energi fosil yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan dan energi fosil yang digunakan sumber energi untuk memasak.

Energi listrik sebagai bahan bakar kendaraan sudah mulai diterapkan pada angkutan masal kereta api di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Bahkan ke depannya penggunaan kendaraan pribadi dengan energi listrik sudah akan mulai didorong penggunaanya oleh Pemerintah. Hal ini membutuhkan kepastian keberlangsungan ketersediaan pasokan energi listrik di Indonesia.

Padamnya listrik yang terjadi 4 Agustus lalu berdampak pada mobilitas masyarakat yang telah menggunakan transportasi publik berbasis listrik. Selain itu program konversi kompor gas ke kompor listrik juga sudah diupayakan oleh Pemprov Jabar misalnya, mungkin akan membuat masyarakat berpikir dua kali untuk mau melakukan konversi jika tidak ada perubahan perbaikan sistem dan manajemen listrik di Indonesia. 

Keberlangsungan energi listrik penting untuk mendukung dunia usaha dan upaya menarik investor untuk berinvestasi. Seperti yang telah banyak dipaparkan bahwa padamnya listrik beberapa hari yang lalu telah membuat dunia usaha di berbagai sektor rugi ratusan rupiah hanya dalam kurun waktu 1 hari.

Selain itu, memasuki era 4.0 ketika semua mulai dilakukan secara digital, peran energi listrik sangat besar. Digitalisasi sektor perbankan membuat sistem pembayaran dilakukan secara online, sehingga ketika listrik padam dan telekomunikasi ikut mati, maka sektor perbankan ikut lumpuh dan merugi. Masyarakat pun menjadi susah bertransaksi apalagi bagi yang masyarakat yang sudah mulai menyimpan sedikit uang di dompet.  

Padamnya listrik pada 4 Agustus kemarin merupakan sebuah pembelajaran yang penting bagi Pemerintah dalam mengupayakan keberlangsungan ketersediaan pasokan energi listrik jangka panjang. Pemerintah harus membenahi sistem dan manajemen penyediaan listrik secara menyeluruh di Indonesia agar lebih baik dan lebih aman. Selain itu pengawasan dan evaluasi menyeluruh secara berkala pun perlu dilakukan. Dengan begitu, Indonesia dapat menjaga ketahanan energi listrik jangka panjang.