Upaya penyerangan bersenjata terjadi dalam acara makan malam bergengsi di Washington yang dihadiri Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pelaku diduga berencana membunuh Trump dan sejumlah pejabat tinggi pemerintah.
Insiden itu terjadi saat acara tahunan yang dihadiri ratusan tamu, termasuk pejabat kabinet dan tokoh politik. Melansir dari Channer Asia News, Senin (27/4), pelaku mencoba menerobos pos keamanan sebelum akhirnya dihentikan oleh agen Secret Service.
Setelah sempat terjadi baku tembak singkat, pelaku berhasil diamankan di lokasi. Ia kini ditahan dan dijadwalkan menjalani proses hukum di pengadilan federal.
Pejabat sementara Jaksa Agung AS, Todd Blanche, mengatakan pelaku diyakini menargetkan pejabat pemerintahan.
"Berdasarkan pemahaman awal yang masih sangat terbatas tentang apa yang terjadi, kami meyakini bahwa dia menargetkan anggota pemerintahan,” ujarnya.
Pelaku disebut membawa sejumlah senjata, termasuk shotgun, pistol, dan pisau. Ia juga diketahui menginap di hotel tempat acara berlangsung.
Media AS melaporkan pelaku, yang diidentifikasi sebagai Cole Allen (31), sempat menulis catatan berisi daftar target dari prioritas tertinggi hingga terendah. Catatan tersebut menunjukkan kemarahan mendalam terhadap pemerintah, meski tidak secara eksplisit menyebut nama Trump.
Trump sendiri sempat dievakuasi dari lokasi oleh pengamanan. Ia mengaku awalnya mengira suara yang terdengar hanyalah benda jatuh, sebelum menyadari itu adalah tembakan.
“Orang ini sakit,” kata Trump dalam wawancara, merujuk pada pelaku.
Insiden ini memicu kepanikan di dalam ruangan, dengan tamu-tamu berhamburan dan berlindung di bawah meja saat agen keamanan memasuki lokasi.
Peristiwa ini kembali menyoroti keamanan pejabat tinggi AS. Sebelumnya, Trump juga pernah menjadi target percobaan pembunuhan dalam kampanye pada 2024.
Mantan Presiden Barrack Obama turut mengecam insiden tersebut dan menegaskan bahwa kekerasan tidak memiliki tempat dalam demokrasi.
Penembakan ini juga menghidupkan kembali kekhawatiran soal standar keamanan acara besar yang melibatkan pejabat tinggi negara, terutama di lokasi non-resmi seperti hotel.