logo alinea.id logo alinea.id
Xavier Quentin Pranata

Matinya para pakar

Xavier Quentin Pranata Senin, 14 Jan 2019 17:58 WIB

Seorang anak teman kakak saya, pulang ke tanah air setelah lulus dari satu kampus teknik top di Jerman. Dia disambut ayahnya dengan pertanyaan sederhana, “Apa yang engkau dapatkan di sana?”

“Saya bisa membuat gelas minum Pa,” ujarnya dengan antusiasme tinggi khas fresh graduate.

Kebanggaannya langsung sirna saat ayahnya menjawab sinis, “Kalau kuliah jauh-jauh ke Jerman hanya bisa membuat gelas, ya percuma. Gelas di dapur banyak. Tidak perlu beli. Hadiah sabun cuci!”

Kisah ‘skak mat’ di atas pernah saya baca juga. Seorang mahasiwa dengan gagahnya masuk sebuah taksi.

“Kok happy sekali?” tanya sopir taksi itu.

“Ya, dunia menantiku, karena aku baru lulus dari Harvard,” ujarnya dengan kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan.

“O begitu,” ujar sopir taksi cuek, “Aku juga lulusan Harvard bertahun-tahun lalu!”

Dua kisah sinkron di atas mempunyai ‘atmosfer’ dan ‘nuansa’ yang mirip dengan buku The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why it Matters karya Tom Nichols, Oxford University Press, 1 April, 2017. Meskipun terbit persis pada April’s Fools Day, buku ini jauh dari hoaks. Sebaliknya, buku ini justru mengkritisi tumbuhnya para ‘pakar’ awam yang belakangan tumbuh bak cendewan di musim hujan seperti sekarang ini.

Maraknya media online ‘dadakan’ dibarengi semakin murahnya smartphone, membuat banyak orang awam tiba-tiba saja merasa menjadi pakar di bidang apa pun. Media mainstream yang layak dipercaya seperti Detik, Kompas dan Tempo dikeroyok ramai-ramai oleh media online terbitan (baca: karbitan).

Adanya media online yang bisa publish tulisan sendiri tanpa moderasi, misalnya kompasiana, membuat banyak orang jadi sok pandai dan sok tahu. Padahal, waktu belajar jurnalistik dulu, kami para wartawan menyebut diri sebagai pakar di bidang yang satu ini: bertanya. Jadi, jika kami tidak pakar di bidang komputer, misalnya, maka kami cari pakar komputer dan meminta pendapatnya untuk memperkaya tulisan kami.

Sebaliknya, media online yang prudent—seperti Detik—tulisan kiriman ‘dimoderasi’ lebih dulu sebelum dinyatakan layak atau lolos terbit. Dengan demikian, munculnya pakar dadakan yang sebenarnya tidak pakar bisa dihindari. Jika dibiarkan, Amerika dan kini Indonesia bisa sampai pada situasi chaos sehingga kita bingung menentukan rujukan.

Siapa yang bisa dipercaya? Bukankah kebohongan yang diulang-ulang pun lama-lama bisa dianggap sebagai suatu kebenaran?

Rotary 4-Way Test

Saat mahasiswa, saya mengenal Rotary Club. Ada filosofi menarik dari para rotarians. Tes ini dikembangkan oleh rotarian sekaligus entrepeneur Herbert J Taylor saat Amerika Serikat menghadapi salah satu momok terbesar dalam sejarah negara adi kuasa itu, yaitu great depression. Selama Depresi Besar, garis pedoman organisasi nonprofit ini dipakai sebagai standar etik anggota Rotary Club International, termasuk di tanah air.

Inilah empat ujian yang bisa jadi filter bagi kita semua. Pertama, is it the truth? Check and recheck and check and balance merupakan pelajaran inti yang harus mendarah daging di sosok jurnalis. Bayangkan jika warganet lebih mempercayai Fadli Zon dan Fahri Hamzah terkait hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet ketimbang dr Tompi yang sekali lihat bisa membedakan apakah Ratna korban penganiayaan atau operasi plasik.

Apa yang dilakukan KPU dengan mengecek kabar adanya tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos di Priok patut mendapatkan acungan jempol.

Kedua, is it fair to all concerned? Apakah yang kita tulis adil bagi semua yang berkepentingan? Apakah justru kita mempunyai hidden agenda atau vested interest sendiri yang bukan saja berbeda, melainkan berlawanan dengan arah utama berita? Kecuali secara khusus media tempat kita bernaung menyatakan diri mendukung warna politik tertentu yang jelas seperti yang dilakukan Jakarta Post di pilpres 2014.

Ketiga, will it build goodwill and better friendships? Apakah yang kita tulis membangun keinginan dan persahabatan yang lebih baik? Apakah tulisan kita menciptakan rasa damai di bumi atau justru menyulut permusuhan antar anak bangsa sendiri?

Keempat, will it be beneficial to all concerned? Apakah karya tulis kita bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang? Atau lebih banyak mudaratnya?

Jawaban yang tepat atas keempat pertanyaan di atas bisa menjadi filter yang paling kuat agar otak kita tidak diracuni oleh nikotin yang merusak paru-paru demokrasi Indonesia.

Buddha meringkas keempat hal itu dengan pertanyaan mahapenting yang harus kita ajukan kepada diri sendiri sebelum berkata, menulis atau men-share berita apa pun: “If you propose to speak always ask yourself, is it true, is it necessary, is it kind.”