close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Khudori
icon caption
Khudori
Kolom
Rabu, 22 Juni 2022 22:37

Mendinginkan bumi lewat pilihan makan

Pola produksi, distribusi, dan konsumsi makanan telah bertransformasi luar biasa. Pengecer terus mengembangkan outlet dan sistem distribusi.
swipe

Suatu ketika, Inez-Loedin membagikan warta: Quinoa banyak diburu orang. Ahli genetika asal Indonesia yang kini bekerja di IRRI (International Rice Research Institute), Filipina, itu bercerita tanaman bernama latin Chenopodium quinoa ini digandrungi kala pandemi Covid-19. Quinoa mengandung serat tinggi, antioksidan, dan kaya nutrisi/gizi yang penting bagi imunitas tubuh. Sontak, warta di grup percakapan yang saya ikuti itu menuai respons beragam. Ada yang bertanya apa itu Quinoa, berapa harganya, bisa didapat di mana, apa ada di Indonesia, dan seterusnya. Kesepian ruang diskusi berubah.

Saat itu, pandemi Covid-19 masih pada tahap awal. Belum beranjak jauh, sejak pertama kali diumumkan Presiden Jokowi, 2 Maret 2020. Kala itu, di berbagai daerah di Tanah Air, warga ramai berburu rempah-rempah atau empon-empon, seperti jahe, kunyit, kapulaga, dan lainnya. Minuman herbal, yang diyakini bisa menaikkan imunitas tubuh, juga digandrungi banyak orang. Ramuan yang kesohor di Jawa itu mendadak populer. Harganya pun melejit. Seorang anggota grup bertanya: Apakah Quinaa setara rempah?

Tentu saja tidak. Quinoa bisa disejajarkan dengan gandum atau sorgum. Bijinya mirip biji sorgum. Karena sebagai sumber karbohidrat, fungsi utama Quinoa tentu untuk memenuhi kebutuhan energi/kalori tubuh. Ini berbeda dengan rempah, yang berfungsi membentengi badan lewat kandungan tinggi antioksidan dan zat antiinflamasi. Keduanya Quinoa dan rempah, amat penting untuk melawan pandemi. Masalahnya, Quinoa tidak ada di Indonesia. Ia harus diimpor dari wilayah asalnya, dari daerah Amerika Tengah.

Itu berarti biji-bijian ini mesti “jalan-jalan” sepanjang 17.474 km sebelum bisa disantap warga negeri ini. Quinoa harus diangkut ke pabrik, dikemas, dan dibawa ke pelabuhan. Lewat jalur laut inilah biji-bijian dikirimkan ke negara pengimpor. Berapa biaya angkut, berapa lama untuk sampai di Indonesia, berapa bahan bakar dibakar, berapa emisi dibuang, berapa harga di level konsumen, dan seterusnya. Tanpa harus menghitung, hampir bisa dipastikan ada banyak biaya dan energi “dibuang” guna meraih pangan sehat. 

Pada titik ini, penting untuk merefleksikan ulang bagaimana makanan berpindah dari lahan ke garpu di meja makan. Selama ini, barangkali tak pernah terpikir berapa ratus, bahkan ribuan, kilometer makanan ”jalan-jalan” dari tempat tumbuh hingga disantap mulut. Kian jauh ”jalan-jalan”, bukan saja kian mahal, makanan yang disantap itu juga kian tidak berkelanjutan, semakin banyak membakar BBM, dan kian tak ramah lingkungan. Tanpa disadari, lewat pola pangan semacam ini kita berandil merusak alam.

Pola produksi, distribusi, dan konsumsi makanan kini telah bertransformasi luar biasa. Pengecer terus mengembangkan outlet dan sistem distribusi yang kian luas dan canggih. Namun, jarak tempuh yang jauh membuat makanan tidak efisien berdasarkan kalori dan tak berkelanjutan dalam jangka panjang. Ini karena jejak karbon (food miles) yang muncul akibat perjalanan yang kian jauh membuat aliran makanan (produksi-distribusi-konsumsi) kian tidak ramah lingkungan. Inilah saatnya memeriksa pangan kita: apakah ramah lingkungan dan berandil mendinginkan Bumi atau justru sebaliknya?

Sadarkah Anda, kalau selama ini kita doyan pangan berbasis terigu atau berbahan kedelai, secara tidak langsung kita jadi penyumbang pemanasan global? Tahukah Anda jika kita doyan apel Washington juga jadi kontributor yang sama. Ketiga jenis pangan ini sebagian besar diimpor dari Amerika Serikat. Untuk sampai di Indonesia, ketiganya harus menempuh perjalanan sepanjang 15 ribu km. Apakah kemudian harus anti pangan impor? Tidak. Impor adalah keharusan bila pangan itu penting dan tidak diproduksi di Indonesia. Sebaliknya, apabila ada substitusinya di Indonesia, impor perlu ditimbang ulang.

Pangan berbasis produksi domestik (lokal) menjanjikan dampak minor pada lingkungan yang ditimbulkan food miles. Kesadaran ini yang kemudian mendorong gerakan mengonsumsi makanan yang diproduksi secara lokal (locavore). Istilah ini pertama kali dilansir Jessica Prentice dari San Francisco di pertemuan Hari Lingkungan 2005. Covid-19 membuat locavore kian relevan. Rantai pasok lintas negara tak bisa diandalkan. Rantai pasok harus berubah: dari rantai pasok lintas negara jadi bersifat regional. Ini membuat pangan lokal (domestik) menjadi alternatif super penting. 

Perubahan ini bukan saja untuk memastikan ketersediaan, pangan domestik juga bakal menjamin kedaulatan komunitas, bahkan kedaulatan negara. Lokalitas akan menekan emisi karbon dan membuat rantai pasok menjadi lebih pendek. Perjalanan pangan dari produsen ke konsumen dipastikan lebih cepat sampai. Aspek kesegaran dan higienitas terjawab sekaligus. Rantai pasok yang lebih pendek juga bakal menekan biaya transaksi dan membuat pasar semakin efisien. Ujung-ujungnya, balas jasa kepada pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasok semakin baik. Jika ini yang terjadi, petani sebagai produsen pangan berpeluang meraih untung lebih. Kesejahteraan petani terdongkrak.

Aspek lokalitas identik dengan sumber daya lokal. Sumber daya ini diusahakan warga lokal, diolah, dan dikonsumsi untuk wilayah lokal. Apabila ini tumbuh di banyak komunitas di daerah, konsumen kini bisa bertumpu pada pangan produksi lokal, yang berbeda-beda antara daerah satu dengan daerah lain. Secara ekonomi ini akan menstimulasi ekonomi lokal. Saat ekonomi lokal bergerak akan tercipa apa yang disebut dampak ikutan (multiplier effect). Secara politik, hal ini akan membuat tiap-tiap daerah memiliki kedaulatan pangan sendiri. Jika ini diakumulasikan, secara nasional akan memberi sumbangan berarti bagi tegaknya ketahanan dan kedaulatan pangan negara. 

Tentu tidak mudah mewujudkan ini. Seperti mencari jarum di lautan. Akan tetapi, masing-masing kita bisa berkontribusi untuk mendinginkan Bumi lewat pilihan pangan di piring. “Bisa dimulai dari diri sendiri dan keluarga,” saran Inez-Loedin. Saran ini ada benarnya, meski –sekali lagi—tidak mudah. Masalah utamanya bukannya tidak mau. Tapi pangan lokal sebagai alternatif seringkali belum bisa melepaskan diri dari masalah klasik: tersedia dalam jumlah cukup, kapan saja dan di mana saja, harganya terjangkau kantong (termasuk warga miskin), rasanya enak, bergizi, dan mudah untuk dimasak. 

Artikel ini ditulis oleh :

img
Khudori
Reporter
img
Hermansah
Editor
Bagikan :
×
cari
bagikan