sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Bandung Mawardi

Pelukis selalu ditulis

Bandung Mawardi Senin, 14 Okt 2019 19:28 WIB

Raden Saleh di Frankurt, Jerman. Pada 15 Oktober, komik bertokoh Raden Saleh buatan Werner Kraus dan tiga ilustrator diluncurkan dalam Frankfurt Book Fair 2019. Komik semakin mengenangkan Raden Saleh di Jerman.

Pelukisan kondang itu memang berasal dari Jawa tapi memiliki biografi sebagai pengelana di Eropa. Jerman menjadi tempat penting untuk memikat Eropa atas lukisan-lukisan Raden Saleh. Pada 2019, Raden Saleh berada lagi di Jerman dan ingin memikat Eropa berwujud komik. Kita memuji saja meski komik dikerjakan penulis asal Jerman telah menerbitkan buku dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya (2018).

Siapa penulis awal mengenai sosok Raden Saleh? Kita tentu harus melacak pelbagai surat kabar dan buku lawas untuk menemukan tulisan bersejarah. Di Medan Prijaji nomor 8, Sabtu, 8 Februari 1910, kita bisa membaca esai kecil berjudul "Raden Saleh" garapan Tirto Adhi Soerjo. Raden Saleh sudah diakui sebagai tokoh terkenal. Alinea awal dalam esai: "Pada memandang portret Raden Saleh sebagi jang terloekis dalam Medan Prijaji ini ta perloe ditjaritakan pandjang siapakah bilau itoe kerana masing-masing pembatja kami kenal blaka siapa bilau. Dengen memuat bilau poenja portret di sini, kita akan menjatakan, bahwa di loear doenia kaprijajian, bangsa kita djoega poenja kemashoeran dan kehormatan serta nama..." Raden Saleh dianggap tokoh terhormat di mata pribumi, terkenal di dunia sebagai pelukis. 

Di halaman Medan Prijaji pembaca bisa memandang potret Raden Saleh dalam posisi berdiri, mengenakan busana eksentrik dan berkopiah. Rambut agak panjang. Wajah anggun, tatapan mata tajam. Pihak redaksi tak mencantumkan keterangan sumber atau pembuat potret.

Di bawah potret, ada kalimat pengakuan: "Pertama kali orang Djawa jang dapet kemashoeran antero doenia akan kepandaiannja menggambar dengan tangan." Esai kecil itu sengaja menokohkan Raden Saleh untuk menghajar ambisi kaum bumiputra: bermimpi menjadi "prijaji makan gadjih boeta" alias "djongos" bagi pemerintah kolonial. Raden Saleh lebih terhormat dan mulia ketimbang para "prijaji" bermisi mata duitan dan tukang kawin. Tirto Adhi Soerjo tak membahas seni rupa tapi pengakuan atas Raden Saleh sebagai tokoh penting dan teladan bagi kaum bumiputra.

Seniman besar itu lama tak ditulis lagi saat kaum pergerakan kebangsaan cenderung mengurusi politik ketimbang seni. Pada masa 1930-an, tulisan-tulisan tentang Indonesia berkonteks peradaban Timur-Barat mulai bermunculan di surat kabar dan buku. Raden Saleh sebagai tokoh atau tema belum menguat. Pada masa 1940-an, buku berjudul Matahari Terbit susunan J. Lameijn dan Oesman, terbitan J.B. Wolters-Groningen, Jakarta, memuat bacaan mengenai Raden Saleh. Buku itu "kitab batjaan" untuk murid.

Pemuatan biografi Raden Saleh tentu "keajaiban", mengenalkan murid pada sosok pelukis terkenal dari abad silam. Di halaman 96-100, murid bisa mengetahui sosok legendaris: "Raden Saleh ialah seorang-orang bangsawan Djawa jang masjhur, keturunan regen, lahir di Semarang kira-kira dalam tahun 1814." Lima halaman cukup membuat murid tergoda berimajinasi Raden Saleh sebagai pelukis kondang di Eropa.

Pengetahuan tentang Raden Saleh bertambah dengan penerbitan buku berjudul Dua Raden Saleh: Dua Nasionalis dalam Abad 19 (1951) garapan Soekanto. Buku tipis dan informatif. Soekanto menganggap Raden Saleh adalah pelukis revolusioner-nasionalis, mengacu keberpihakan ke garis politik Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830).

Raden Saleh dimengerti dalam konteks sejarah Jawa dan rintisan "nasionalisme". Lukisan-lukisan adalah representasi ikatan atas Jawa meski mengandung pesona estetika Eropa. Kehadiran buku itu agak kurang mendapat tanggapan dari publik. Penulisan tentang Raden Saleh pada masa berbeda jarang mengutip isi buku garapan Soekanto.

M Balfas turut mengenalkan Raden Saleh dalam esai kecil berjudul "Seni Lukis Indonesia Baru", dimuat di majalah Indonesia nomor 4, April 1951. Tulisan Balfas terasa dramatis, dipengaruhi kebiasaan menulis teks-teks sastra. Balfas menulis: "Kepulasan jang pandjang dari abad ke abad tidak menghasilkan apa-apa dalam lapangan seni... Pendjadjahan menuliskan sedjarah hitam di segala lapangan. Djauh terpentjil di atas segala derita dan kesah bangsanja berdiri Raden Saleh di awang-awang. Ia adalah seniman pertama di Indonesia jang melukis dengan ala Barat. Ia melukis pemandangan, binatang, dan potret-potret." Raden Saleh selalu ditempatkan dalam latar sejarah kolonialisme dan penguatan peran sebagai pelukis modern.  

Kerja penghormatan pernah dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta melalui penerbitan buku berjudul Raden Saleh 1907-1880: Perintis Seni Lukis di Indonesia (1973). Buku disusun oleh Baharudin Marasutan. Tebal 48 halaman. Buku berasal dari ceramah Baharudin Marasutan, 13 Mei 1973. Pengakuan Raden Saleh sebagai perintis seni lukis disahkan oleh pemerintah dengan pemberian Piagam Anugerah Seni, 1969. Piagam ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudajaan Mashuri.

Apakah publik sudah semakin mengenal Raden Saleh? Kita bisa melacak tulisan-tulisan di pelbagai koran, majalah, dan buku. Tulisan-tulisan mengajak kita mengerti perhatian atas Raden Saleh sebagai tokoh dan tema.

Penerbitan buku bertokoh dan bertema Raden Saleh diusahakan oleh Komunitas Bambu, 200. Buku dokumentatif, memuat tulisan-tulisan Harsja W. Bachtiar, Peter  Carey, dan Onghokham. Buku tampil memikat, sosok Raden Saleh tampil di sampul berlatar warna kuning. Buku diberi judul Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme. Tulisan-tulisan beraroma sejarah ketimbang seni rupa. Buku berjudul Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai (2012) terbitan Dewan Kesenian Jakarta, editor oleh Bambang Bujono dan Wicaksono Adi memuat sebutan Raden Saleh 20 kali. Buku itu tak memuat pembahasan khusus tentang Raden Saleh.

Raden Saleh adalah tokoh besar meski jarang lagi disebutkan dalam buku-buku pelajaran masa Orde Baru. Sejak masa 1970-an, murid, guru, atau orang tua cenderung mengenali pelukis Affandi ketimbang Raden Saleh. Bocah dengan kebiasaan menngambar sering dinasihati dan didoakan agar menjadi pelukis seperti Affandi.

Nama Affandi memang fenomenal, terkenal dan menjelaskan perkembangan seni rupa di Indonesia. Urusan cita-cita mengarah ke Affandi tapi proses belajar menggambar mengarah ke Tino Sidin. Generasi masa 1970-an dan 1980-an tentu mengingat Tino Sidin dan acara di TVRI bertajuk "Gemar Menggambar". Buku Tino Sidin berjudul Gemar Menggambar, 6 jilid, disahkan oleh pemerintah sebagai buku pegangan guru SD di seluruh Indonesia. Affandi dan Tino Sidin akrab di telinga murid ketimbang Raden Saleh.

Apakah kita mesti mengulang pemuatan biografi para pelukis di buku-buku pelajaran atau bacaan anak agar sejarah tak dilupakan? Barangkali murid-murid juga perlu tahu bahwa imajinasi pembentukan Indonesia juga disokong oleh kerja para pelukis. Murid-murid pun perlu dikenalkan dengan deretan nama pelukis ampuh: Sudjojono, Basoeki Abdullah, Salim, Rusli, Oesman Effendi, Nashar, Trubus, Dullah, dan Hendra Gunawan. Kini, para murid di Indonesia menunggu kedatangan komik Raden Saleh. Konon, komik itu baik dan perlu. Begitu.