logo alinea.id logo alinea.id
Ribut Lupiyanto

Puasa dan politik  

Ribut Lupiyanto Rabu, 08 Mei 2019 15:09 WIB

Semarak datangnya bulan Ramadan 1440 H terasa di seluruh penjuru dunia. Ramadan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam karena nilai spiritual puasa dan ibadah di dalamnya. Umat Islam biasa berlomba-lomba memperbanyak ibadah lantaran motivasi pahala yang dijanjikan berlipat ganda, disamping menjalankan kewajiban sebagaimana tertera dalam Q.S Al-Baqarah ayat 183.

Dinamika Ramadan tidak hanya menghidupkan suasana religius. Hampir seluruh sendi kehidupan turut tergerakkan dan mendapatkan manfaat, seperti ekonomi, sosial, politik, dan lainnya. Ramadan tahun ini hadir pada babak akhir pelaksanaan Pemilihan Umum 2019.  

Kondisi ini berpotensi membawa perilaku kontradiktif. Di satu pihak, terdapat kelompok muslim yang memasuki Ramadan hanya mau fokus pada ibadah vertikal dan berpuasa. Mereka tidak mau terlalu jauh berdinamika duniawi, seperti terlibat atau memperbincangkan perpolitikan.  Di sisi lain, puasa berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis. Momentum Ramadan butuh penyikapan proporsional agar optimal dalam segala hal dan menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Teologi puasa

Puasa Ramadan adalah ibadah individual, di mana hanya Allah SWT dan si pelaku yang paling tahu. Imam Al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, membagi puasa menjadi tiga tingkatan.

Pertama dan paling rendah adalah puasa umum yang sekadar menahan makan, minum, dan jima’. Puasa seperti ini hanya dilakukan secara seremonial belaka. Tidak ada dinamika dialektika sosial antara pelaksanaan puasa dengan kehidupan nyata.

Kedua adalah puasa khusus. Puasa ini di samping menahan dari tiga hal tadi, juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Pelaku puasa ini mampu melakukan aktualisasi hingga wilayah kultural dan psikologis.

Terakhir yaitu puasa khusus yang lebih khusus. Puasa ini sampai pada tingkat puasa hati dengan mencegahnya memikirkan apa-apa selain Allah. Puasa tingkat ketiga ini diyakini hanyalah puasanya para nabi dan wali.

Apapun tingkatan puasa yang dilakukan, puasa memberikan pelajaran nilai pengendalian nafsu, pensucian jiwa, pendidikan, pelatihan, kedermawanan sosial, dan lainnya. Kesuksesan puasa Ramadan perlu pembuktian pada sebelas bulan berikutnya. Perayaan kemenangan saat Lebaran juga memberikan konsekuensi pada hadirnya diri yang benar-benar memiliki jiwa pemenang terhadap segala godaan duniawi.

Konsekuensi atas tuntutan tersebut adalah internalisasi nilai spiritual dari puasa Ramadan yang bersifat esensial, hakiki, dan aplikatif. Beberapa refleksi spiritual dapat digali dari hikmah pelaksanaan Ramadan.

Pertama adalah pengendalian hawa nafsu. Banyak aktivitas manusia yang menjadi penyakit pembangunan berpangkal pada godaan nafsu duniawi. Contoh paling nyata dan terasa adalah tindak korupsi. Keberhasilan mengendalikan hawa nafsu selama Ramadan harus dilanjutkan dengan implementasi puasa korupsi secara permanen.

Kedua adalah kedermawanan sosial. Salah satu hikmah kewajiban puasa ialah agar turut merasakan kehidupan sesama yang kekurangan secara materi. Lapar dan dahaga menjadi media untuk menumbuhkan kedermawanan sosial. Hal ini ditunjang dengan pemberian pahala berlipat dalam berinfak, bersedekah, serta berzakat. Kedermawanan sosial ini mesti dipupuk terus sebagai bagian upaya berpartisipasi mengentaskan kemiskinan.

Ketiga adalah spirit belajar. Puasa Ramadan memberikan efek besar bagi semangat belajar memperdalam ilmu keagamaan. Masjid, media massa, dan lembaga-lembaga dihiasi kajian agama selama bulan suci. Spirit ini mesti dikembangkan pasca-Ramadan dan dilebarkan pada aspek-aspek kontekstual. Pendidikan adalah pilar penting penguat kualitas sumber daya manusia.

Optimalisasi Ramadan

Islam adalah agama komprehensif dan holistik (syamil wa mutakamil). Seluruh aspek ibadah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam ajaran agama, baik ritual, sosial, ekonomi, hingga politik. Penguatan ritual selama Ramadan merupakan keharusan, namun tidak dengan meninggalkan sektor lain secara total. Sebaliknya memanfaatkan momentum Ramadan menjadi keniscayaan, namun tentunya tidak berlebihan dan menghilangkan esensi spiritual.

Langkah mengurangi aktivitas atau perbincangan politik menjadi hak setiap muslim. Tetapi menghadirkan perpolitikan yang menopang kehidupan bernegara secara baik adalah kewajiban. Ramadan adalah bulan ujian. Nilai ritual selama Ramadan penting langsung dibuktikan dalam aplikasi keseharian, termasuk politik bernegara. 

Ramadan tahun ini justru menjadi momentum refleksi bagi perbaikan kondisi negara Indonesia. Bangsa Indonesa masih banyak menghadapi masalah klasik, kompleks, dan akut.  Misalnya korupsi, kemiskinan, kriminalitas, dan lainnya. Pemimpin penting mengoptimalkan Ramadan untuk memperbaiki kinerja kepemimpinanya.

Publik juga penting mengoptimalkan untuk berkontribusi serta mendorong hadirnya sosok pemimpin profetik hasil pemilu yang lalu. Puasa politik secara total justru memberikan mudarat, karena akan membuka celah masuknya ketidakbaikan.

Publik dan umat Islam dapat menyikapi segala dinamika yang ada secara proporsional. Orientasi utamanya tetap untuk memaksimalkan ibadah dan tetap produktif. Pemilu 2019 yang hasilnya diumumkan pada bulan Ramadan semoga berakhir khusnul khatimah dengan damai dan berkualitas.