close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
M Aminudin. Foto istimewa
icon caption
M Aminudin. Foto istimewa
Kolom
Senin, 27 Maret 2023 16:23

Ramadan bulan literasi

Sekurangnya ada 156 lembaga dan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan terlibat dalam penguatan literasi.
swipe

Bulan suci Ramadan 2023 ini, berbagai penjuru tanah air selain banyak umat Islam mengumandangkan tadarus baca Al-Qur'an juga semarak dengan berbagai kegiatan literasi melek bacaan pengetahuan umum yang diinisiasi Kemendikbudristek.

Sekurangnya ada 156 lembaga dan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan terlibat dalam penguatan literasi. Ada penyebaran buku 15 juta lebih dari Kemendikbudristek ke seluruh pelosok tanah air termasuk daerah pedalaman dan terluar. Ada madrasah yang membikin kemah literasi.

Di Solo, Maret ini di gelar festival budaya literasi. Ada program kompetisi literasi yang digelar UNJ ada program pelatihan literasi,  Ada rapat koordinasi nasional pengelola perpustakaan dan sebagainya. Semarak rangkaian program literasi mendapat sambutan yang luas dari masyarakat.

Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor berharap, dapat bersama-sama meningkatkan literasi media bagi masyarakat dan generasi muda pada kegiatan Journalist Camp III di Villa Puncak Tahura Sultan Adam, Kabupaten Banjar, (Maret 2023).

Gubernur Jatim Khofifah  di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (8/3) menyebutkan, perpusatakaan yang sudah terakreditasi dan mendapatkan sertifikat di Jatim pada 2021 jumlahnya mencapai 1.658 dan meningkat di 2022 menjadi 2.096.

Dengan jumlah perpustakaan yang terus meningkat kata Gubernur Khofifah, terus mendorong seluruh warga Jatim untuk meningkatkan literasi membaca sejak dini, dan sebagainya.

Apresiasi dan dukungan dari para tokoh masyarakat terhadap gerakan literasi yang di prakarsa Kemendikbudristek merupakan kabar baik program ini mendapat respons positif dari para tokoh strategis. Tetapi yang harus disadari sasaran utama gerakan literasi adalah kalangan anak didik Pelajar dan Mahasiswa atau generasi muda. Respons segmen itulah yang paling banyak menentukan keberhasilan atau kegagalan program gerakan literasi yang digalkkan sekarang ini.

Patut diingat gerakan literasi 2023 ini bukanlah yang pertama, tetapi sudah masuk tahun ke delapan sejak dicanangkan melalui melalui Gerakan Literasi Sekolah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Tetapi hasilnya tren grafiknya justru menurun. Hal itu terlihat dari skor literasi pada 2015 mendapat 397, lalu menurun menjadi 371 pada 2018.

Perolehan Indonesia pada literasi di PISA pada 2018 (371) jauh di bawah rata-rata perolehan dunia, yaitu 487.  Programme for International Student Assessment (PISA) diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). PISA adalah studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang diikuti oleh lebih dari 70 negara di seluruh dunia. Setiap 3 tahun, murid-murid berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak, menempuh tes dalam mata pelajaran utama yaitu membaca, matematika dan sains.

Banyak faktor yang menjadi penyebab gerakan literasi digelorakan tetapi justru skor literasi menurun. Di antara faktornya adalah adanya problema di hulu seperti kelangkaan buku untuk bahan pengayaan program literasi menjadi salah satu biang keladi rendahnya minat baca siswa.

Sebenarnya sudah tepat respons Kemndikbudristek mengatasi kelangkaan buku bacaan itu dengan menyediakan lebih dari 15 juta eksemplar buku bacaan bermutu disertai pelatihan dan pendampingan untuk lebih dari 20.000 PAUD dan SD yang paling membutuhkan di Indonesia. Berdasar penjelasan Humas Kemendikbudristek itu adalah program pengiriman buku dengan  yang terbesar sepanjang sejarah Kemendikbudristek.

Cuma tampaknya belum dipublikasikan katalog atau topik apa saja buku sebanyak itu yang distribusikan? Apakah sejalan minat pengembangan bakat anak didik atau generasi muda setempat yang heterogen? Apakah ada buku-buku keagamaan yang menginspirasi kemajuan? 

Sangat penting semua kebijakan pendidikan termasuk bidang literasi pengadaan buku harus tetap mengacu pada perundang-undangan berlaku mengacu pada konstitusi. Berdasar UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 2 menyebutkan mengenai arti dari pendidikan nasional yang berbunyi, “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.”

Kemudian fungsi dan tujuan pendidikan Nasional terdapat dalam pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dengan regulasi di atas, adalah keniscayaan gerakan literasi termasuk pengadaan buku harus menyediakan buku-buku keagamaan. Gerakan literasi di Indonesia perlu mengaca keberhasilan gerakan literasi dalam sejarah Islam pada masa formasi dan abad pertengahan.

Wahyu yang pertama kali diterima Nabi Muhammad saw adalah Surah Al-Alaq ayat 1-5. Peristiwa itu terjadi pada Ramadan 610 Masehi, pada saat Nabi Muhammad mengasingkan diri di Gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat (Jibril) dan berkata, "Bacalah!".  "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah" (QS. Al-'Alaq; 1-2)  Ayat itu memiliki pesan universal untuk melakukan literasi. Artinya manusia diperintah untuk membaca apapun yang ada di sekitarnya, dengan menyebut nama Tuhannya, dan membaca apa saja yang telah diciptakan Tuhannya hingga ia mengenal-Nya.  "Bacalah dan hanya Tuhanmulah yang Maha Pemurah. (Yang) mengajarkan (manusia) dengan pena. Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. 'Alaq; 3-5).

Kata iqra' dalam ayat ke-3, ada pendapat dari ahli tafsir yang mengatakan bahwa Iqra' pada ayat yang pertama mengindikasikan membaca untuk diri sendiri (belajar), dan iqra' dalam ayat ketiga adalah membaca untuk orang lain (mengajar). Perintah Allah yang pertama kepada manusia adalah membaca/belajar apa yang ada disekitar untuk diri sendiri kemudian untuk orang lain. Begitu pentingnya membaca sehingga Allah memerintahkan langsung kepada manusia untuk membaca agar kita mengetahui dan memahami sehingga bisa mengajarkannya kembali kepada orang lain.

Perintah Iqra’ untuk membaca dalam Al-Qur'an menjadi etos perburuan ilmu pengetahuan yang kebanyakan di peroleh dari buku dalam dunia Islam terutama masyarakat Arab yang sebelumnya kurang menghargai ilmu pengetahuan. Sejarawan Amerika Philip K Hitti dalam buku, History of the Arabs, (London: Macmillan Press, 1970) menyebut, perpustakaan terbesar dunia Islam adalah Bait al-Hikmah di Baghdad. Bait al-Hikmah didirikan pada 830 Masehi oleh khalifah Dinasti Abbasiyah, al-Makmun. Bait al-Hikmah sebagai kombinasi antara perpustakaan, akademi, dan biro penerjemah yang menjadi lembaga pendidikan paling penting setelah perpustakaan Alexandria yang berdiri 1.100 tahun sebelumnya. Perpustakaan ini menjadi tempat menimba ilmu terbuka untuk siapa saja, termasuk komunitas Kristen Eropa selama abad pertengahan.

Pada kurun waktu itu, banyak kalangan umat melakukan perburuan ilmu pengetahuan bersumber dari buku besar-besaran. Kekhalifahan Abbasiyah (750–1258), dengan struktur politik yang stabil dan perdagangan yang berkembang. Karya-karya keagamaan dan kebudayaan utama dari kerajaan-kerajaan Islam diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Budaya Islam mendapat pengaruh Yunani, India, Asyur, dan Persia.

Peradaban bersama yang baru terbentuk, berdasarkan Islam. Era ini boleh disebut sebagai peradaban dibangun di atas pilar ilmu pengetahuan penuh inovasi. Revolusi Pertanian Arab di pedesaan menghasilkan panen yang lebih banyak dan meningkatkan teknologi pertanian, terutama irigasi. Ini Sejak abad ke-8 dan seterusnya, para cendekiawan seperti Al-Kindi, menerjemahkan ilmu pengetahuan bangsa India, Asyur, Sasaniyah (Persia), dan Yunani, termasuk karya-karya Aristoteles, ke dalam bahasa Arab. Terjemahan-terjemahan ini mendukung kemajuan para ilmuwan di seluruh dunia muslim.

Khazanah, Republika edisi Rabu, 30 October 2019, mendeskripsikan dengan baik potret Spanyol, yang memiliki perpustakaan paling terkenal pada masa kejayaan Islam kebanggaan Khalifah al-Hakam II al-Mustansir (961-976) di Kordoba. Al-Hakam yang juga seorang cendekiawan membeli buku dari Alexandria, Damaskus, dan Baghdad, serta mempekerjakan dalam jumlah besar ahli-ahli kaligrafi dan penjilid buku. Perpustakaan miliknya memiliki koleksi lebih dari 400 ribu buku dengan 44 volume katalog.

Perpustakaan itu memiliki koleksi buku lebih besar jika dibandingkan dengan perpustakaan Kesultanan Fatimiyah di Kairo yang didirikan oleh Khalifah al-Aziz (975-996). Perpustakaan Fatimiyah memiliki koleksi buku sebanyak 200.000 volume. Di Kordoba terdapat salinan manuskrip yang ditulis oleh al-Tabari tentang sejarah para nabi dan khalifah, serta beberapa koleksi buku perpustakaan Bait al-Hikmah. Kordoba dikenal sebagai kota yang turut menyebarkan ilmu melalui perpustakaan.

Di belahan bumi Islam lainnya di Timur juga terdapat perpustakaan yang besar. Sejarawan al-Maqdisi mengatakan, perpustakaan didirikan di Shiraz oleh penguasa Buyid Adud al-Dawlah (976-983), di mana buku buku tersimpan secara rapi dan teratur di rak buku besar. ‘’Tidak ada satu pun buku di setiap cabang ilmu pengetahuan yang ditulis sampai saat ini, kecuali salinannya terdapat di perpustakaan itu,’’ ujar al-Maqdisi.

Perpustakaan penting juga muncul di Basra, Mosul, dan Rayy. Perpustakaan yang paling berpengaruh di wilayah dunia Islam bagian timur ada di Bukhara, sekarang masuk wilayah Uzbekistan.

Cendekiawan Ibnu Sina tinggal di Bukhara pada masa pemerintahan dari Samanid Amir Nuh bin Mansur (976-997) menulis bahwa perpustakaan di Bukhara memiliki banyak ruangan. Setiap ruangan merupakan tempat buku dengan disiplin ilmu tertentu yang belum pernah dilihat sebelumnya. 

Jika di deskripsikan bagaimana perintah Iqra untuk membaca berliterasi dan menuntut ilmu dalam Islam menjadi lokomotif perkembangan ilmu pengetahuan dunia di abad pertengahan sangat panjang sekali. Tetapi intinya pemerintah terutam Kemendikbudristek tidak boleh tidak untuk menjadi nilai Islam termasuk dalam pengadaan buku bacaan dalam menjalankan kebijakan pendidikan termasuk literasi karena itu adalah amanat konstitusi dan akan menjadi jalan keluar kesulitan pemerintah menaikan peringkat skor literasi di tingkat internasional. Apalagi di bulan Ramadan saat yang tepat dijadikan bulan literasi yang didalamnya juga ditelaah buku-buku keislaman.

img
M. Aminudin
Kolomnis
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan