close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Margiono, mantan Ketua PWI Pusat (Istimewa)
icon caption
Margiono, mantan Ketua PWI Pusat (Istimewa)
Media
Selasa, 01 Februari 2022 15:55

Kenangan Margiono di mata Bambang Bujono: Selalu "pasang badan"

Kepergian Margiono menyisakan banyak kenangan di mata rekan-rekannya sesama insan pers.
swipe

Awal Februari 2022 dibuka dengan kabar duka dari dunia pers. Mantan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono meninggal dunia pada Selasa, (01/2) di RS Modular Pertamina Jakarta sekitar pukul 09.02 WIB.

Kepergian Margiono menyisakan banyak kenangan di mata rekan-rekannya sesama insan pers. Salah satunya dari Wartawan Senior Eks Tempo Bambang Bujono atau yang akrab dipanggil Bambu.

Bersama Margiono dia sempat diwawancara di Mabes Polri, memperkarakan cover Majalah D&R dengan gambar Soeharto sebagai "king" di kartu skop. Menurutnya kala itu Margiono memintanya untuk berdoa menghadapi hal ini.

"Mas Bambu berdoa saja, saya sudah minta tulung Pak Kiai di Kediri, supaya membantu kita," ujar Bambu mengenang ucapan Margiono di grup alumni Tempo, Selasa (01/2).

Bambu mengatakan Margiono selaku salah satu petinggi di Grup Jawa Pos "pasang badan" sebagai pemred D&R, karena wartawan D&R tak ada yang memenuhi syarat sebagai pemred menurut ketentuan PWI.  

Hari itu, kata Bambu, rupanya wawancara polisi yang terakhir. Karena sesudah itu tak ada lagi panggilan wawancara, sampai Soeharto mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

"Suatu ketika saya bertemu orang Departemen Penerangan di Media Indonesia. Saya tanya, apakah perkara D&R akan diteruskan.. Soalnya, Departemen inilah yang melaporkan cover D&R tersebut," tuturnya.

Kala itu Mabes menganggap perkara ini sudah kadaluarsa karena pokok soalnya sudah tidak berfungsi. Bambu mengingat Margiono sebagai sosok yang sepanjang menjadi Pemred selalu pasang badan dengan begitu ikhlas.

"Bahkan menurut saya bangga.. Sesudah cover "King Soeharto", D&R tidak kendor, katanya suatu ketika. Pertama kali ia dipanggil Mabes Polri, kami bertemu. "Apa polisi tidak tahu bahwa Anda hanya pemred pura-pura?"  tanya saya. "Tahu sekali," ujarnya menirukan omongan Margiono kala itu.

Bambu mengatakan hidup memang bukan lorong yang lurus, dan di zaman modern ini kejutan masih ada. Dia beranggapan doa yang dipanjatkan kala itu oleh Pak Kyai Kediri atas permintaan Margiono dikabulkan.

Yang jelas, kata Bambu, ia tak lagi dipanggil polisi, dan kemudian sempat menjadi ketua PWI.

"Kami tak pernah bertemu setelah pertemuan di depan Mabes Polri. Mungkin, lorong kami berbeda. Selamat jalan Mas Margiono, sampai bertemu," ucap Bambu.

Artikel ini ditulis oleh :

img
Anisatul Umah
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor
Bagikan :
×
cari
bagikan